Zubair bin ‘Awwam: Seorang Tetangga Rasulullah SAW di Sorga

Usianya waktu itu baru limabelas tahun. Dan begitulah ia telah diberi petunjuk, nur dan kebaikan selagi masih remaja. Ia benar-benar seorang penunggang kuda dan berani sejak kecilnya, hingga ahli sejarah menyebutnya bahwa pedang pertama yang dihunuskan untuk membela islam adalah Zubair bin ‘Awwam. Pada hari-hari pertama dari islam, sementara Kaum Muslimin waktu itu sedikit sekali hingga mereka selalu bersembunyi-­sembunyi di rumah Arqam, tiba-tiba pada suatu hari tersebar berita bahwa Rasul terbunuh.

Seketika itu, tiada lain tindakan Zubair kecuali menghunus pedang dan mengacungkannya, lalu ia berjalan di jalan-jalan kota Mekah laksana tiupan angin kencang, padahal ia masih muda belia! Ia pergi mula-mula meneliti berita tersebut dengan bertekad seandainya berita itu ternyata benar, maka niscaya pedangnya akan menebas semua pundak orang Quraisy, sehingga ia mengalahkan mereka, atau mereka menewaskannya…

Di suatu tempat ketinggian kota Mekah, Rasulullah me­nemukannya, lalu sertanya akan maksudnya. Zubair menyampaikan berita tersebut. Maka Rasulullah memohonkan bahagia dan mendu’akan kebaikan baginya serta keampuhan bagi pedangnya.

Disekap Pamannya

Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang dalam kaumnya, namun tak kurang ia menanggung adzab derita dan penyiksaan Quraisy. Yang memimpin penyiksaan itu adalah pamannya sendiri. Pernah ia disekap di suatu kurungan, kemudian dipenuhi dengan embusan asap api agar sesak nafasnya, lalu dipanggilnya Zubair di bawah tekanan siksa: “Tolaklah olehmu Tuhan Muhammad itu, nanti kulepaskan kamu dari siksa ini!” Tantangan itu dijawab oleh Zubair dengan pedas dan mengejutkan:

“Tidak demi Allah, aku tak akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya!”

Padahal pada waktu itu ia belum menjadi pemuda teruna, masih belia bertulang lembut.

Bersama Thalhah Menjadi Tetangga Rasulullah SAW di Sorga

Setiap tersebut nama Thalhah, pastilah disebut orang nama Zubair! Begitu pula setiap disebut nama Zubair, pastilah disebut orang pula nama Thalhah! Maka sewaktu Rasulullah saw. mempersaudarakan para shahabatnya di Mekah sebelum Hijrah, beliau telah mempersaudarakan antara Thalhah dengan Zubair.

Sudah semenjak lama Nabi saw. memperkatakan keduanya secara bersamaan, seperti kata beliau:

“Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di dalam surga.”

Dan kedua mereka berhimpun bersama Rasul dalam kerabat dan keturunan. Adapun Thalhah bertemu asal-usul turunannya dengan Rasul pada Murrah bin Ka’ab. Sedang Zubair bertemu pula asal-usulnya dengan Rasulullah pada Qusai bin Kilab, sebagaimana pula ibunya Shafiah, adalah saudara bapak Rasulullah.

Thalhah dan Zubair, kedua mereka banyak persamaan satu sama lain dalam aliran kehidupan Persamaan di antara keduanya sangat banyak: dalam pertumbuhan di masa remaja kekayaan, kedermawanan, keteguhan beragama dan kegagah-beranian. Keduanya termasuk orang-orang angkatan pertama masuk Islam dan tergolong kepada sepuluh orang yang diberi kabar gembira oleh Rasul masuk surga. Keduanya juga sama termasuk kelompok shahabat ahli musyawarah yang enam, yang diserahi tugas oleh Umar bin Khatthab memilih Khalifah sepeninggalnya…

Akhir hayatnya juga bersamaan secara sempurna bahkan satu sama lain tidak berbeda! Sebagaimana telah kita katakan, Zubair termasuk dalam rombongan pertama yang masuk Iislam, karena ia adalah dari golongan tujuh orang yang mula-mula menyatakan keislamannya, dan sebagai perintis telah memainkan peranannya yang penuh berkat di rumah Arqam.

Merindukan Syahid dan Mencintai Syuhada

Zubair r.a. sangat gandrung menemui syahid! Amat merindukan mati di jalan Allah. Ia pernah berkata: “Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama Nabi-nabi padahal sudah sama diketahui bahwa tak ada Nabi lagi sesudah Muhammad saw. maka aku menamai anak-anakku dengan nama para syuhada, semoga mereka berjuang mengikuti syuhada! Begitulah dinamainya seorang anaknya Abdullah bin Zubair mengambil berkat dengan shahabat yang syahid Abdullah bin Jahasy.

Dinamainya pula seorang lagi al-Munzir mengambil berkat dengan shahabat yang syahid al-Munzir bin Amar. Dinamainya pula yang lain ‘Urwah mengambil berkat dengan ‘Urwah bin Amar. Dan ada pula yang dinamainya Hamzah, mengambil berkat dengan syahid yang mulia Hamzah bin Abdul Muthalib. Ada lagi Ja’far, mengambil berkat dengan syahid yang besar Ja’far bin Abu Thalib. Juga ada yang dinamakannya Mush’ab mengambil berkat dengan shahabat yang syahid Mush’ab bin Umeir. Tidak ketinggalan yang dinamainya Khalid mengambil berkat dengan shahabat Khalid bin Sa’id. Demikianlah ia seterusnya memilih untuk anak-anaknya nama para syuhada, dengan pengharapan agar sewaktu datang ajal mereka nanti, mereka tercatat sebagai syuhada!

Pembela Rasulullah SAW ini Syahid saat Perang Jamal

Kecintaan dan penghargaan Rasul terhadap Zubair luar biasa sekali, dan Rasulullah sangat membanggakannya, katanya:

“Setiap Nabi mempunyai pembela dan pembela itu adalah Zubair bin ‘Awwam!”

Karena bukan saja ia saudara sepupunya dan suami dari Asma binti Abu Bakar yang mempunyai dua puteri semata, tapi lebih dari itu adalah karena pengabdiannya yang luar biasa, keberaniannya yang perkasa, kepemurahannya yang tidak terkira dan pengorbanan diri dan hartanya untuk Allah Tuhan dan islam semata. Sungguh, Hasan bin Tsabit telah melukiskan sifat-sifatnya ini dengan indah sekali, katanya:

“Ia berdiri teguh menepati janjinya kepada Nabi dan mengikuti petunjuknya. Menjadi pembelanya, sementara perbuatan sesuai dengan perkataannya. Ditempuhnya jalan yang telah digunakannya, tak hendak menyimpang dari padanya. Bertindak sebagai pembela kebenaran, karena kebenaran itu jalan sebaik-baiknya…

Ia adalah seorang berkuda yang termasyhur, dan pahlawan yang gagah perkasa. Merajalela di medan perang dan ditakuti di setiap arena. Dengan Rasulullah mempunyai pertalian darah dan masih berhubungan keluarga. Dan dalam membela islam mempunyai jasa-jasa yang tidak terkira. Betapa banyaknya mara bahaya yang mengancam Rasulullah Nabi al-Musthafa. Disingkirkan Zubair dengan ujung pedangnya, maka semoga Allah membalas jasa-jasanya.”

Dalam perang Jamal sebagaimana telah kami utarakan dalam ceriteranya yang lalu mengenai Thalhah, Zubair menemui akhir hayat dan tempat kesudahannya. Sesudah ia menyadari kebenaran dan berlepas tangan dari peperangan, terus diintai oleh golongan yang menghendaki terus berkobarnya api fitnah, lalu ia pun ditusuk oleh seorang pembunuh yang curang waktu ia sedang lengah, yakni di kala ia sedang shalat menghadap Tuhannya.

Si pembunuh itu pergi kepada Imam Ali, dengan maksud melaporkan tindakannya terhadap Zubair, dengan dugaan bahwa kabar itu akan membuat Ali bersenang hati, apalagi sambil menanggalkan pedang-pedang Zubair yang telah dirampasnya setelah melakukan kejahatan tersebut. Tetapi Ali berteriak demi mengetahui bahwa di muka pintu ada pembunuh Zubair yang minta idzin masuk dan memerintahkan orang untuk mengusirnya, katanya:

“Sampaikan berita kepada pembunuh putera ibu Shafiah itu, bahwa untuknya telah disediakan api neraka!”

Dan ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali oleh beberapa shahabatnya, ia mencium dan lama sekali ia menangis kemudian katanya:

“Demi Allah, pedang ini sudah banyak berjasa, digunakan oleh pemiliknya untuk. melindungi Rasulullah dari marabahaya.”

Dalam mengakhiri pembicaraan kita mengenai dirinya, apakah masih ada penghormatan yang lebih indah dan berharga untuk dipersembahkan kepada Zubair, dari ucapan Imam Ali sendiri…? Yaitu:

“Selamat dan bahagia bagi Zubair dalam kematian sesudah mencapai kejayaan hidupnya! Selamat, kemudian selamat kita ucapkan kepada pembela Rasulullah…” []

Download ebooknya KLIK di SINI

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply