Zaid Ibnul Khatthab, Pemusnah Nabi Palsu Musailamah Al Kazzab

Pasti anda pernah mendengarnya. Ia adalah saudara dari Umar ibnul Khatthab. Benar… saudaranya yang lebih tua… dan lebih dahulu. Ia lebih tua dari Umar, tentu ia lebih dahulu lahirnya. Dan ia lebih dulu masuk Islam, sebagaimana ia lebih dahulu pula syahid di jalan Allah…

Zaid adalah seorang pahlawan yang kenamaan. Ia bekerja secara diam-diam. Kediamannya itu memancarkan permata kepahlawanannya. Keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Agamanya, merupakan keimanan yang teguh. Ia tidak pernah ketinggalan dari Rasulullah saw. dalam setiap kejadian penting maupun peperangan. Di setiap pertempuran niatnya telah dipatrikan menang atau syahid.

Di saat perang Uhud, sewaktu pertempuran sedang menjadi­-jadi antara orang-orang musyrik dan orang-orang Mu’min, Zaid bin Khatthab menebas dan memukul. Ia terlihat oleh adiknya Umar bin Khatthab sewaktu baju besinya terlepas ke bawah, hingga ia berada dalam kedudukan yang mudah dijangkau musuh, maka seru Umar:

“Hai Zaid, ambit lekas baju besiku, pakailah untuk berperang…!”

Dijawab oleh Zaid:

“Aku juga menginginkan syahid, sebagaimana yang kau inginkan hai Umar!”

Dan ia terus bertempur tanpa baju besi secara mati-matian dan dengan keberanian yang luar biasa.

Memusnahkan Musailamah Al Kazzab

Pada suatu hari Nabi saw. duduk dikelilingi sejumlah orang­-orang Islam. Selagi pembicaraan berlangsung, tiba-tiba Rasulullah terdiam sejenak, kemudian beliau menghadapkan bicaranya kepada semua yang ada di sekelilingnya dengan ucapan:

“Sesungguhnya di antara kalian ada seorang laki-laki, gerahamnya di dalam neraka, lebih besar dari gunung Uhud…!”

Semua yang hadir dalam majelis beserta Rasulullah saw. ini senantiasa, diliputi ketakutan dan kecemasan akan timbulnya fitnah dalam Agama kelak. Masing-masing mereka merasa kecut dan takut, kalau-kalau ia lah yang akan menerima nasib yang paling jelek dan kesudahan yang terkutuk itu! Tetapi mereka semua, yang mendengar pembicaraan waktu itu, kehidupannya telah berakhir dengan kebaikan, mereka telah menemui ajal mereka sebagai syuhada di jalan Allah. Yang tinggal masih hidup hanyalah Abu Hurairah dan Rajjal bin ‘Unfuwah.

Telah kita katakan bahwa Zaid r.a., dengan semangat berkobar-kobar ingin sekali mendapatkan Rajjal, dengan maksud untuk menghabisi nyawanya yang keji itu dengan tangannya sendiri. Menurut pandangan Zaid, bukan saja ia seorang yang murtad, bahkan lebih dari itu, ia juga seorang pembohong, munafik dan pemecah-belah. Ia murtad bukanlah karena dibawa oleh kesadarannya, tetapi karena mengharapkan keuntungan dengan kemunafikan dan kebohongan terkutuk. Dan Zaid dalam kebenciannya pada kemunafikan dan kebohongan serupa benar dengan saudaranya Umar.

Tak ada yang lebih membangkitkan kejijikan dan mengobarkan kemarahannya seperti kemunafikan dan kebohongan dengan tujuan hina dan maksud yang rendah ini!

Untuk kepentingan tujuan-tujuan yang rendah itulah, Rajjal memainkan peranan berbuat dosa, menyebabkan bertambahnya jumlah golongan yang bergabung dengan Musailamah secara menyolok. Dan dengan ini sebenarnya ia menyeret sebagian besar orang-orang kepada kematian dan kebinasaan dengan menemui ajal mereka di medan perang murtad kelak. pertama disesatkannya mereka, kemudian dibinasakannya. Dan untuk tujuan apa? Untuk tujuan ambisi dan ketamakan tercela yang telah mempengaruhi dirinya dan dibangkitkan oleh hawa nafsunya.

Maka Zaid mempersiapkan dirinya untuk menyempurnakan keimanannya dengan menumpas bahaya fitnah ini, bukan hanya terhadap pribadi Musailamah, malah lebih-lebih lagi terhadap seorang yang lebih berbahaya daripadanya dan lebih berat dosanya, yaitu Rajjal bin ‘Unfuwah.

Saat pertempuran Yamamah bermula dengan keadaan seram dan amat mengkhawatirkan. Khalid bin Walid menghimpun balatentara Islam, lalu dibagi-baginya tugas untuk menempati beberapa kedudukan dan diserahkannya panji-panji kepada seseorang. Siapakah dia…? Tiada lain dari Zaid bin Khatthab…!

Ia memusatkan serangannya ke arah Rajjal. Diterobosnya barisan-barisan seperti panah lepas dari busurnya, terus mencari Rajjal sampai kelihatan olehnya bayangan orang buruannya itu. Sekarang ia maju lagi menerjang ke kiri dan ke kanan. Dan setiap bayangan orang buruannya itu ditelan gelombang manusia yang bertempur, Zaid berusaha mengejar dan mendekatinya lalu menghantamkan pedangnya. Tetapi gelombang manusia yang sangat hebat, menelan Rajjal sekali lagi, diikuti terus oleh Zaid yang menyusup di belakangnya agar manusia bedebah itu tidak luput dari tangannya. Dan akhirnya ia dapat memegang batang lehernya dan menebaskan pedangnya ke kepalanya yang penuh dengan kepalsuan dan kebohongan serta pengkhianatan itu.

Dengan tewasnya si pembuat kebohongan ini, mulailah berjatuhan pula tokoh-tokoh yang lain. Cemas dan takut menjalari Musailamah sendiri, begitupun Muhkam bin Thufail serta seluruh balatentara Musailamah! Terbunuhnya Rajjal telah tersebar luas di kalangan mereka tak ubah bagai api yang berkobar ditiup angin kencang.

Sebenarnya Musailamah telah memberikan janji-janji yang muluk-muluk dengan kemenangan mutlak kepada para pengikutnya, dan bahwa ia bersama Rajjal bin ‘Unfuwah dan Muhkam bin Thufail setelah kemenangan itu, akan membawa mereka ke masa depan gemilang dengan menebarkan agama dan membina kerajaan mereka.

Demikianlah Zaid ibnul Khatthab telah menyebabkan kehancuran, mutlak dalam barisan Musailamah.

Lengkapi koleksi anda dengan mendownload ebook, klik di sini.

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply