Zaid Bin Haritsah: Mantan Isterinya Dinikahi Rasulullah SAW

Siapakah Zaid bin Haritsah itu? Bagaimanakah orangnya? siapakah pribadi yang bergelar “Pencinta Rasulullah itu?” tampang dan perawakannya biasa saja, pendek dengan kulit coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Demikian yang dilukiskan oleh ahli sejarah dan riwayat. Tetapi sejarah hidupnya hebat dan besar.

Menjadi Budak dan Dimerdekakan Rasulullah

Syahdan di kala kabilah perampok yang menyerang desa, Bani Ma’an berhasil dengan rampokannya, mereka pergi menjualkan barang-barang dan tawanan hasil rampokannya ke pasar ‘Ukadz yang sedang berlangsung waktu itu. Si kecil Zaid dibeli oleh Hakim bin Hizam dan pada kemudian harinya ia memberikannya kepada bibinya Siti Khadijah.

Selanjutnya Khadijah memberikan khadamnya Zaid sebagai pelayan bagi Rasulullah. Beliau menerimanya dengan segala senang hati, lalu segera memerdekakannya. Dari pribadinya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti terhadap anak, sendiri.

Menjadi Anak Angkat Rasulullah

Pada salah satu musim haji, sekelompok orang-orang dari desa Haritsah berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bundanya kepadanya. Zaid balik menyampaikan pesan salam serta rindu dan hormatnya kepada kedua orang tuanya. Katanya kepada para hujjaj atau jemaah haji itu, tolong beritakan kepada kedua orang tuaku, bahwa aku di sini tinggal bersama seorang ayah yang paling mulia.

Begitu ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, segera ia mengatur perjalanan ke Mekah, bersama seorang saudaranya. Di Mekah keduanya langsung menanyakan di mana rumah Muhammad al-Amin (Terpercaya). Setelah berhadapan muka dengan Muhammad saw., Haritsah berkata: “Wahai Ibnu Abdil Mutthalib, wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk Tanah Suci yang biasa membebaskari orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan. Kami datang ini kepada anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?”

Rasulullah sendiri mengetahui benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, tapi dalam pada itu merasakan pula hak seorang ayah terhadap anaknya. Maka kata Nabi kepadanya;

“Panggillah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih anda, maka akan saya kembalikan kepada anda tanpa tebusan. Sebaliknya jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!”

Mendengar ucapan Muhammad saw. yang demikian, wajah Haritsah berseri-seri kegembiraan, karena tak disangkanya sama sekali kemurahan hati seperti itu, lalu ucapnya: “Benar-benar anda telah menyadarkan kami dan anda beri pula keinsafan di balik kesadaran itu!”

Kemudian Nabi menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setibanya di hadapannya, beliau langsung bertanya: “Tahu­kah engkau siapa orang-orang ini?” “Ya, tahu” jawab Zaid, “Yang ini ayahku sedang yang seorang lagi adalah pamanku.” Kemudian Nabi mengulangi lagi apa yang telah dikatakannya kepada ayahnya tadi, yaitu tentang kebebasan memilih orang yang disenanginya. Tanpa berfikir panjang, Zaid menjawab: “Tak ada orang pilihanku kecuali anda! Andalah ayah, dan andalah pamanku!”

Mendengar itu, kedua mata Rasul basah dengan air mata, karena rasa syukur dan haru. Lalu dipegangnya tangan Zaid, dibawanya ke pekarangan Ka’bah, tempat orang-orang Quraisy sedang banyak berkumpul, lalu serunya:

“Saksikan oleh kalian semua, bahwa mulai saat ini, Zaid adalah anakku. yang akan menjadi ahli warisku dan aku jadi ahli warisnya.”

Rasulullah telah mengangkat Zaid sebagai anak angkat, maka menjadi terkenallah ia di seluruh Mekah dengan nama, “Zaid bin Muhammad”

Selalu Menjadi Pemmpin Pasukan

Rasulullah saw, sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu memang pantas dan wajar, disebabkan kejujurannya yang tak ada tandingannya, kebesaran jiwanya, kelembutan dan kesucian hatinya, disertai terpelihara lidah dan tangannya. Semuanya itu atau yang lebih dari itu menyebabkan Zaid punya kedudukan tersendiri sebagai “Zaid Kesayangan” sebagaimana yang telah dipanggilkan shahabat-shahabat Rasul kepadanya. Berkatalah Saiyidah Aisyah r.a.:

“Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat Nabi jadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah!”

Demikianlah, pada bulan Jumadil Ula, tahun yang kedelapan Hijrah, tentara Islam maju bergerak ke Balqa’ di wilayah Syam. Demi mereka sampai di perbatasannya, mereka dihadapi oleh tentara Romawi yang dipimpin oleh Heraklius, dengan mengerahkan juga kabilah-kabilah atau suku-suku badui yang diam di perbatasan. Tentara Romawi mengambil tempat di suatu daerah yang bernama Masyarif, sedang lasykar Islam mengambil posisi, di dekat suatu negeri kecil yang bernama Muktah, yang jadi nama pertempuran ini sendiri.

Rasulullah saw. mengetahui benar arti penting dan bahayanya peperangan ini. Olen sebab itu beliau sengaja memilih tiga orang panglima perang yang di waktu malam bertaqarrub mendekatkan diri kepada Ilahi, sedang di siang hari sebagai pendekar pejuang pembela Agama. tiga orang pahlawan yang siap menggadaikan jiwa raga mereka kepada Allah, mereka yang tiada berkeinginan kembali, yang bercita-cita mati syahid dalam perjuangan menegakkan kalimah Allah. Mengharap semata-mata ridla Ilahi dengan menemui wajah-Nya Yang Maha Mulia kelak.

Mereka yang bertiga secara berurutan memimpin tentara itu ialah: Pertama Zaid bin Haritsah, kedua Ja’far bin Abi Thalib dan ketiga ‘Abdullah bin Rawahah, moga-moga Allah ridla kepada mereka dan menjadikan mereka ridla kepada-Nya, serta Allah meridlai pula seluruh shahabat-shahabat yang lain.

Mantan Isterinya Dinikahi Rasulullah SAW

Rasulullah saw. menikahkan Zaid dengan Zainab anak bibinya. Ternyata kemudian kesediaan Zainab memasuki tangga perkawinan dengan Zaid, hanya karena rasa enggan menolak anjuran dan syafa’at Rasulullah, dan karena tak sampai hati menyatakan enggan terhadap Zaid sendiri. Kehidupan rumah tangga dan perkawinan mereka yang tak dapat bertahan lama, karena tiadanya tali pengikat yang kuat yaitu cinta yang ikhlas karena Allah dari Zainab, sehingga berakhir dengan perceraian. Maka Rasulullah saw. mengambil tanggung jawab terhadap rumah tangga Zaid yang telah pecah itu. Pertama merangkul Zainab dengan menikahinya sebagai isterinya, kemu­dian mencarikan isteri baru bagi Zaid dengan mengawinkannya dengan Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah.

Disebabkan peristiwa tersebut diatas terjadi kegoncangan dalam masyarakat kota Madinah. Mereka melemparkan kecaman, kenapa Rasul menikahi bekas isteri anak angkatnya?

Tantangan dan kecaman ini dijawab Allah dengan wahyuNya, yang membedakan antara anak angkat dan anak kandung atau anak adaptasi dengan anak sebenarnya, sekaligus mem­batalkan adat kebiasaan yang berlaku selama itu. Pernyataan wahyu itu berbunyi sebagai berikut:

Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki (yang ada bernama) kalian. Tetapi ia adalah Rasul Allah dan Nabi penutup. (Q.S. 33 al-Ahzab: 40)

Dengan demikian kembali Zaid dipanggil dengan namanya semula “Zaid bin Haritsah” []

Koleksi dan download ebooknya, klik di sini.

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply