Warisan Syekh Ali Jaber: Kiat-kiat Mempertahankan sebuah Keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rahmah

Dalam bukunya Cahaya dari Madinah “Mutiara Hikmah Penyejuk Jiwa” pada Bab Jemaah Bertanya, Syekh Ali Jaber Menjawab, (halaman 173-177) ada ditanyakan begini:

Bagaimana kiat-kiat mempertahankan sebuah keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Sementara kita selalu mengalami pasang surut kehidupan, ataupun kendala-kendala dalam bidang materi yang tidak terduga sebelumnya?

Dalam hal ini, saya akan menjawab sekaligus memberikan kesimpulan dari semua yang telah kita bahas di atas, dengan membawakan sebuah cerita. Cerita ini adalah cerita buatan saya sendiri, dan apabila ada yang bertanya ini cerita siapa? Jawab saja “Cerita Made in Ali Jaber”.

Dalam cerita ini: Ada seseorang pergi ke dokter THT, mengadukan masalah istrinya kepada dokter tersebut. Dia khawatir kalau-kalau istrinya mengalami gangguan pendengaran. Dia pun bertanya, bagaimana cara mengobati istrinya tapi tanpa sepengetahuan istrinya? Karena dia khawatir kalau istrinya diberi tahu bahwa ia sakit, maka istrinya akan tersinggung.

Kata dokternya, “Bawa saja istri Anda kemari, supaya saya dapat memberikan obat yang tepat untuk istri Anda.” – “Saya tidak berani melakukan itu, tapi coba pikirkan cara yang lebih baik daripada itu!” kata suami tersebut. Akhirnya, dokter itu pun membuat sebuah cara, “Coba Anda pulang ke rumah, dan pada saat jarak Anda dengan istri berjarak 40 meter, coba panggil istri Anda dengan panggilan yang biasa!”

Begitu suami itu pulang ke rumah, si suami pun melakukan apa yang diperintahkan. Si suami pun memanggil istrinya yang sedang sibuk di dapur. “Istriku sayangku… kamu lagi masak apa hari ini?” – Tidak ada jawaban.

Lalu si suami pun lebih mendekat dengan jarak sekitar 30 meter, “Istriku… sayangku… sedang masak apa hari ini?” Tidak ada jawaban juga.

Lalu, si suami pun lebih mendekat lagi 20 meter, dan tidak ada jawaban juga dari sang istri. “Ya Allah, ternyata sakit istri saya parah,” bisik hati si suami.

Akhirnya, ia pun sampai mendekat kepada istrinya dengan jarak sekitar 10 meter, dia pun memanggil istrinya lagi, namun tetap tidak ada jawaban. “Ya Allah, kasihan istri hamba, ternyata sakitnya parah sekali.”

Sampai akhirnya dia pun lebih mendekat lagi kepada istrinya hingga si suami pun berbisik-bisik di telinga sang istri, “Sedang masak apa, Sayangku?” Istrinya pun menjawab, “Heh… saya itu sudah 5 kali menjawab bahwa saya sedang memasak ayam!”

Ternyata yang tidak mendengar dan sakit telinga itu siapa? Suaminya…, bukan istrinya yang sakit. Hehehe…

Jadi kesimpulannya apa? Kepada bapak dan ibu, kalau kita menunggu seorang istri tampil sempurna, maka kita tidak akan mendapatkannya. Tapi, sebelum kita melihat kekurangan orang lain, sebaiknya kita lihat diri kita sendiri. Seperti cerita di atas, bagaimana si suami menyangka istrinya yang sakit, padahal dirinya sendirilah yang sakit?

Janganlah kita memandang kesalahan yang terdapat pada istri, sebelum kita memeriksa diri kita sendiri. Apakah terdapat kesalahan pada diri kita? Dan kalau memang dalam diri kita terdapat kesalahan, maka kita harus langsung memperbaikinya. Ketika sepasang suami dan istri bersama-sama memperbaiki kesalahan masing-masing, niscaya akan terbangun suatu keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Sabar dan Syukur

Dalam kehidupan berumah tangga, pasti terdapat nikmat dan cobaan. Ketika kita mendapatkan nikmat kita harus bersyukur, sementara cobaan harus dihadapi dengan sabar. Artinya, rumah tangga yang berdiri berdasarkan syukur dan sabar, akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Rasulullah saw., telah bersabda dalam hadisnya, “Iman terbahagi kepada dua: separuh dalam sabar dan separuh lagi dalam syukur.” (HR. Al-Baihaqi)

Dari hadis di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, dengan syukur dan sabar iman kita akan bisa sempurna. Dalam arti lain, iman kita ti dak akan pernah sempurna hanya dengan syukur saja, tapi harus ada kedua-duanya. Karena di dunia ini nikmat harus disyukuri dan cobaan harus disabari.

Ada sebuah kisah di mana ada seorang wanita yang terkenal karena kecantikannya. Akan tetapi wanita itu mendapatkan jodoh seorang lelaki yang memiliki rupa sebaliknya. Kalau istrinya cantik luar biasa, sementara suaminya ….? Pasti sudah pahamlah semua… hehe.

Setiap sang suami melihat wajah istrinya, dia selalu senang sekali karena wajah istrinya sangat cantik sekali, sambil ia terus berkata “Sayangku, Cintaku.” Tapi, ketika sang istri memandang wajah suaminya dia tidak berani memanggil “Sayang.” Paling banter dia hanya berani memanggil “Suamiku.” Akhirnya pada suatu malam, sang istri berbicara pada suaminya tersebut. “Suamiku sepertinya kita berdua masuk surga.” – “Kok bisa?” tanya suaminya.

“Begini saja, Allah Swt., memberikanmu jodoh seorang istri yang cantik seperti saya dan engkau selalu bersyukur. Kemudian saya pun mendapatkan jodoh seorang suami seperti kamu, dan saya pun selalu bersabar. Dan orang yang syukur dan sabar dua-duanya masuk surga, bukankah begitu?” []

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply