Ummu Kultsum binti Abu Bakar: Isteri Thalhah bin Abdullah RA

Menolak Lamaran Umar

Sejak dulu hingga kini kawin paksa memang masih ada dan masih berlaku walaupun secara sembunyi-sembunyi. Tidak heran jika ada seorang pejabat tinggi atau orang yang berharta seenaknya memaksakan kehendaknya untuk mempersunting seorang wanita. Itu bisa terjadi pada orang besar atau orang berpangkat, kaya, dan berpengaruh di masyarakat. Lain halnya, di masa khalifah Umar bin Khaththab, Amirul Mukminin di Jazirah Arab.

Pada suatu hari, khalifah Umar bin Khaththab hendak meminang Ummu Kultsum, yaitu adik kandung Aisyah binti Abu Bakar. Tentu saja Aisyah merasa gembira, karena calon iparnya adalah seorang khalifah yang tampan dan gagah. Tiba-tiba, Ummu Kultsum berkata, “Apakah kakak hendak mengawinkan aku dengan Umar bin Khaththab?” “Benar adikku. Umar datang hendak meminangmu,” jawab Aisyah. “Demi Allah, jika kakak hendak memaksaku untuk kawin dengannya, aku akan berteriak di kuburan Rasulullah sekeras-kerasnya dan aku akan mengadukan hal itu kepada beliau,” tegas Ummu Kultsum.

Menerima Lamaran Thalhah

“Lalu bagaimana maumu, adikku?” tanya Aisyah. “Aku hanya mau menikah dengan seorang laki-laki Mekah yang mampu memberikan kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidupku,” jawab Ummu Kultsum. “Siapakah orangnya?” tanya Aisyah. “Dia adalah Thalhah bin Abdullah,” tutur Ummu Kultsum.

Mendengar jawaban Ummu Kultsum, Aisyah merasa repot dibuatnya, terutama menghadapi Umar bin Khaththab, sang Khalifah. Aisyah meminta bantuan  kepada Amr bin Ash untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak menimbulkan salah paham. Aisyah menjelaskan semua masalah kepadanya. Amr bin Ash segera menemui Umar bin Khaththab.

Setelah mengucapkan salam dan dibalas oleh Umar, kemudian Umar mendahului bertanya, “Ada apa gerangan engkau datang kemari?” Amr kemudian menjelaskan permasalahannya, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana jika aku carikan wanita lain untuk dijadikan sebagai calon istrimu?” “Boleh saja asalkan calon istri itu adalah yang telah aku sepakati hari ini,” jawab Umar. “Siapa wanita itu?” tanya Amr berpura-pura tidak tahu. “Dia adalah Ummu Kultsum binti Abu Bakar,” tegas Umar.

Kemudian Amr bin Ash melanjutkan pembicaraannya, “Mengapa harus Ummu Kultsum. Sebab, setahuku dia selalu menyesalkan kematian ayahnya, Abu Bakar?” tutur Amr berdiplomasi. Mendengar jawaban itu Umar dapat membaca arah dan tujuan pembicaraan Amr bin Ash. Saat itu pula Umar bertanya, “Wahai Amr, apakah kedatanganmu kemari atas suruhan Aisyah atau karena hal lain?” desak Umar.

Mendengar pertanyaan itu, Amr tidak dapat mengelak lagi. Tanpa basa-basi lagi ia menjelaskan, “Ya, aku diutus untuk menyampaikan hal ini oleh Aisyah.” Umar pun menjawab, “Kalau begitu, baiklah tolong sampaikan pesanku, pinangan itu dibatalkan, karena Islam memberikan kebebasan, walaupun menjadi istri khalifah adalah mulia. Tetapi aku harus menghormati hak-hak wanita dalam memilih calon pasangan hidupnya.”

“Alhamdulillah, Allah telah membuka jalan bagi hamba-Nya yang beriman. Sebab pemaksaan itu tidak baik dan dapat berakibat buruk. Kami atas nama wakil Aisyah mengucapkan terima kasih,” tutur Amr.

Setelah pertemuan itu selesai, Amr bin Ash langsung mohon diri kembali ke rumah Aisyah untuk melaporkan hasil pertemuannya. Sampai di rumah Aisyah, ia mengucapkan salam dan dibalas oleh Aisyah. Suasana diliputi penuh tanda tanya. Aisyah segera bertanya, “Bagaimana pendapat Umar bin Khaththab?”

“Alhamdulillah, berkat doamu semuanya beres. Umar menyampaikan pesan kepada Ummu Kultsum bahwa pinangannya dibatalkan. Umar menghargai pendapat kaum wanita dalam memilih calon pendamping hidupnya.

Meskipun Umar seorang Khalifah, ia tidak memaksakan kehendaknya untuk mengawini Ummu Kultsum,” tutur Amr. “Kalau begitu syukurlah. Biarlah Ummu Kultsum menikah dengan laki-laki pilihannya sendiri, yakni Thalhah bin Abdullah, agar ia dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan tidak ada keterpaksaan,” kata Aisyah.

Dengan melihat kisah di atas, kita dapat mengatakan bahwa Ummu Kultsum adalah sosok wanita hebat yang berani membela hak wanita, dalam hal ini hak memilih pasangan hidup, meskipun berhadapan dengan laki-laki yang memiliki kekuasaan. Ummu Kulstum berani menolak pinangan Umar bin Khaththab bukan karena ia hendak melawan penguasa, tetapi karena ia tidak dapat berkompromi dengan pelanggaran terhadap hak wanita.

Tampaknya, pada Ummu Kultsum-lah seharusnya wanita modern mendefinisikan dirinya.

 

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply