Ubadah bin Shamit: Bersumpah Tidak Menerima Jabatan Seumur Hidup

Ubadah bin Shamit termasuk salah seorang tokoh Anshar. Mengenai Kaum Anshar, Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Sekiranya orang-orang Anshar menuruni lembah atau celah bukit pasti aku akan mendatangi lembah dan celah bukit orang-orang Anshar, dan kalau bukanlah karena hijrah, tentulah aku akan menjadi salah seorang warga Anshar…!

Dan di samping ia seorang warga Kaum Anshar, Ubadah bin Shamit merupakan salah seorang pemimpin mereka yang dipilih Nabi saw. sebagai utusan yang mewakili keluarga dan kaum kerabat mereka.

Ubadah r.a. termasuk perutusan Anshar yang pertama datang ke Mekah untuk mengangkat bai’at kepada Rasulullah saw, untuk masuk Islam, yakni bai’at yang terkenal sebagai “bai’atul ‘Aqabah pertama”. la termasuk salah seorang dari 12 orang beriman yang segera menyatakan keislaman dan meng­angkat bai’at, serta menjabat tangannya, menyatakan sokongan dan kesetiaan kepada Rasulullah saw.

Membatalkan Perjanjian dengan Yahudi

Semenjak dulu, keluarga ‘Ubadah telah terikat dalam suatu perjanjian dengan orang-orang yahudi suku qainuqa’di Madinah. Ketika Rasulullah saw. bersama para shahabatnya hijrah ke kota ini, orang-orang yahudi memperlihatkan sikap damai dan persahabatan terhadapnya.

Tetapi pada hari-hari yang mengiringi perang Badar dan mendahului perang Uhud, orang-orang yahudi di Madinah mulai menampakkan belangnya. Salah satu qabilah mereka yaitu Bani Qainuqa’ membuat ulah untuk menimbulkan fitnah dan keribut­an di kalangan Kaum Muslimin.

Demi dilihat oleh ‘Ubadah sikap dan pendirian mereka ini, secepatnya ia melakukan tindakan yang setimpal dengan jalan membatalkan perjanjian dengan mereka, katanya:

“Saya hanya akan mengikuti pimpinan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman.

Dan tidak lama antaranya turunlah ayat al-Quran memuji sikap, dan kesetiaannya ini; firman Allah swt.:

Dan barangsiapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman sebagai pemimpin, maka sungguh, partai atau golongan Allahlah yang beroleh kemenangan.(Q.S. 5 al-Maidah:56)

Ayat Quran yang mulia telah memaklumkan berdirinya partai Allah. Dan partai itu ialah golongan orang-orang beriman yang berdiri sekeliling Rasulullah saw.

Menolak Menjadi Pejabat

Pada suatu hari Rasulullah saw. menjelaskan tanggung jawab seorang amir atau wali. Didengarnya Rasulullah menyatakan nasib yang akan menimpa orang-orang yang melalaikan kewajiban di antara mereka atau memperkaya dirinya dengan harta, maka tubuhnya gemetar dan hatinya berguncang. la bersumpah kepada Allah tidak akan menjadi kepala walau atas dua orang sekalipun.

Dan sumpahnya ini dipenuhi sebaik-baiknya dan tak pernah dilanggarnya. Di masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar r.a., tokoh yang bergelar al-Faruq ini pun tidak berhasil mendorongnya untuk menerima suatu jabatan, kecuali dalam mengajar ummat dan memperdalam pengetahuan mereka dalam soal Agama,

Memang, inilah satu-satunya usaha yang lebih diutamakan ‘Ubadah dari lainnya, menjauhkan dirinya dari usaha-usaha lain yang ada sangkut-pautnya dengan harta benda dan kemewahan serta kekuasaan, begitu pun dari segala marabahaya yang dikhawatirkan akan merusak Agama dan karir dirinya.

Wafat di Palestina

Dan pada tahun 34 Hijriah, wafatlah ia di Ramla di bumi Palestine; wakil ulung di antara wakil-wakil Anshar khususnya dan Agama Islam pada umumnya, dengan meninggalkan teladan yang tinggi dalam arena kehidupan.

Semoga Allah memberi kita kemampuan mencontoh amal bakti para Assabiqunal-awwalun dan dapat melaksanakannya dalam diri pribadi sendiri sehingga kita menjadi syuhada’a ‘alan naas. []

Download dan koleksi ebooknya, klik di sini.

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply