Teologi Muslim Puritan: Karya Ulama Muda Minangkabau DR. Arrazy Hasyim

Arrazy Hasyim dilahirkan di Koto Tangah, Payakumbuh Sumatera Barat pada tanggal 21 April 1986/11 Sya’ban 1406 H. Ia menempuh pendidikan SD sampai MTsN di Payakumbuh, lalu berpindah ke Bukittinggi untuk melanjutkan di MAN/MAKN 2 Bukittinggi (2002-2004), kampung kakeknya dari jalur ibu. Di masa-masa inilah, ia masih sempat mengecap pendidikan informal di surau-surau, mendalami kitab-kitab turāth kepada ulama-ulama yang pernah terlibat perpecahan antara kaum Tuo dan Mudo. Di antara mereka adalah Syaikh Hasan Basri Jalil, Buya Nu‘man Basyir, Buya Yasir, dan lainnya.

Pada tahun 2004-2009, ia memilih Jakarta untuk melanjutkan studi perguruan tingginya, tepatnya pada jurusan Aqidah dan Filsafat di UIN Syarif Hidayatullah. Ia menulis Kritik Ulama terhadap Teologi Ibn ‘Arabī untuk menamatkan tingkatan ini. Di samping itu, setahun sebelumnya, ia menyelesaikan kajian hadisnya di Darus-Sunnah. Di lembaga ini ia mengkhatamkan al-kutub al-sittah (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī & Muslim, Sunan Abū Dāwud, al-Tirmidhī, al-Nasā’ī, dan Ibn Mājah) dengan bimbingan Syaikh Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub.

Kata Pengantar

Segala puji milik Allah Yang Maha Sempurna. Cahaya-Nya memenjadi wahyu suci bagi para Nabi dan ilham bagi para wali. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muḥammad Saw, tokoh paling otoritatif dalam memahami bahasa wahyu. Buku ini merupakan hasil penelitian kami sejak tahun 2013 sampai 2016. Jauh sebelumnya, yaitu pada tahun 2002 sampai 2003, kami pernah bersentuhan bahkan ikut “mencicipi” ajaran Salafi melalui karya-karya Syaikh Nāṣir al-Dīn al-Albānī dan Syaikh ‘Abd al-‘Azīz Ibn Bāz—raḥimahumā Allah—. Saat itu di kampung halaman kami—Sumatera Barat—, kenangan terhadap gerakan Paderi tampak mulai bermunculan kembali, sehingga pergerakan dan aktivitas dakwah dengan berbagai pola dan manhaj diminati kembali. Namun ada yang aneh, saat itu dakwah Salafi lebih banyak dibawa oleh lulusan Universitas al-Azhar Mesir dibandingkan lulusan Saudi ataupun LIPIA.

Tentu tidak jarang juga lulusan universitas tersebut yang cenderung kepada Ikhwanul Muslimin (IM). Akan tetapi, Universitas al-Azhar sendiri mempunyai pola dan manhaj yang berbeda dengan Salafi dan IM. Kenyataan ini bertambah seiring dengan kepulangan alumni-alumni al-Azhar. Belum lagi muncul Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Tabligh, Darul Arqam, dan lainnya. Setelah itu, diperparah dengan setiap pendakwah merasa lebih “salaf” dibandingkan yang lain.

Semua itu membuat kami lelah dan jenuh secara pemikiran dan ruhani, sehingga pada tahun 2004 menyurutkan kami untuk meneruskan pendidikan ke sana, tentunya setelah istikharah. Lalu, kami meneruskan ke Jakarta. Di Jakarta, kami sangat beruntung dapat berguru langsung kepada murid Syaikh ‘Abd al-‘Azīz Ibn Bāz, yaitu Syaikh Ali Mustafa Yakub. Beliau lebih familiar dengan sebutan Kiai Ali. Arogansi “manhaj” tidak pernah kami temukan dari Kiai Ali di sela-sela kajian kitab-kitab Hadisnya yang sangat mendalam. Tidak jarang ia menyebut Syaikh ‘Abd al-‘Azīz Ibn Bāz dengan gelar terhormat, Shaykhunā (Guru kami), disamping menyebut Hasyim Asy‘arī dengan shaykh masyaikhinā al-Imām (guru dari guru-guru kami, Imam). “Ke-salaf-an” kami, jika istilah ini tepat, semakin berwarna lagi dengan keberadaan pergerakan dakwah Syahamah yang dibimbing oleh Syaikh ‘Abd Allāh al-Hararī al-Ḥabashī dan muridnya Syaikh Salim al-Ḥasanī. Pada tahun 2005, dengan rasa penasaran kami mengikuti daurah-daurah yang diadakan oleh tokoh terkahir, sampai akhirnya sadar bahwa ternyata mereka musuh besar dari Salafi. Gerakan mereka disebut oleh Salaf dan lainnya dengan nama “al-Ahbash”. Kami langsung “pensiun dini” dari kajian mereka setelah mendengar taḥdhīr (peringatan), tabdī‘ (tuduhan bid‘ah) dan taḍlīl (tuduhan sesat) terhadap tokoh-tokoh besar Sunni seperti al-Ghazālī, Ibn Taymīyah, al-Būṭī, dan Wahbah al-Zuhaylī. Gaya mereka berdakwah tidak lepas dari taḥdhīr, tabdī‘, taḍlīl persis sama dengan sebagian besar tokoh Salafi. Tetapi berbeda dalam kontens dakwah.

Setelah itu, pada tahun 2006-2008 kami bertemu dengan Syaikh Muḥammad Ḥasan Hītū, ulama Suriah lulusan al-Azhar dan masih keturunan Syaikh ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī. Dengan kajian-kajiannya yang apik, kami menjadi sadar kualitas penguasan Uṣūl al-Fiqh dan Aqidah tokoh-tokoh yang sebelumnya, termasuk al-Albānī. Pernah suatu kali saat sampai pada bab Ijmā‘, ia mengemukakan bahwa mukhalafat al-ijmā‘ kufr (penentangan terhadap Ijmā‘ adalah kekafiran), maka kami menanyakan status al-Albanī yang menolak ijmā‘ kebolehan wanita menggunakan perhiasan emas.

Syaikh Muḥammad Ḥasan Ḥītū sempat tertegun, lalu menjawabnya dengan dengan kaidah, “Apabila pengingkarannya terhadap ijmā‘ mutawātir maka penyebab kekafiran. Apabila ijmā‘nya aḥād maka fasiq”. Ia juga menambahkan bahwa kafir di bab ini bukan khuruj min al-millah (keluar dari agama). Tidak jarang, ia pada bab akidah mengritisi keyakinan Ibn Tayimīyah dan Ibn Qayyim dalam masalah sifat-sifat Allah. Setiap kali membicarakan tema-tema ini, Syaikh Muḥammad Ḥasan Hītū selalu bersemangat.

Sekilas dari pengalaman tersebut membuat kami juga sangat berminat terhadap kajian-kajian aliran-aliran keagamaan dan dakwah, terutama Salafi. Oleh karena itu, buku ini dapat dikatakan sebagai cara penulis mengenang kembali masa-masa “indah” bernostalgia dengan ajaran-ajaran Salafi. Dalam penulisan buku ini tidak lepas dari anugerah Allah ta‘ālá, bantuan guru-guru mulia dan para sahabat. Oleh karena itu, rasa terimakasih kasih yang tak terkira kami persembahkan kepada al-Mu’arrikh Buya Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA dengan ketelitian, kedalaman, dan karyanya yang “segar” dan “berat” telah banyak memberikan bimbingan dan inspirasi dalam kerangka berpikir kami. Begitu juga, terimakasih kepada al-Ṣūfī Buya Prof. Dr. Yunasril Ali, MA yang detail dalam “memelototi” tulisan kami sesuai dengan kejernihan ruhaninya. Semoga mereka berdua selalu memperoleh keberkahan fuyūḍ al-raḥmān. Penghargaan yang mulia juga teruntuk kepada Prof. Dr. Masykuri, MA dan Prof. Dr. Didin Saifuddin, MA yang telah memudahkan semua urusan formal di SPs.

Ungkapan terimakasih terdalam kepada orang tua kami, ayahanda Nur Akmal dan Ibunda Asni yang selalu mendoakan kesuksesan dan kebaikan meskipun kami kurang maksimal dalam berbakti dan iḥsān. Hanya Allah yang mampu membalas kasih sayang mereka yang tak terhingga, a’ādhahumā Allah min an yuraddā ilá ardhal al-‘umr.

Rasa terimakasih dan sayang teruntuk kepada istri tercinta Eli Ermawati MS, Lc., S.H.I. yang cerewet menanyakan “Kapan selesai disertasinya?”, my sons Hisyam Faqih Arrazy dan Hushaim Shah Wali Arrazy, rabb ij‘al-hum min al-ṣāliḥīn. Apresiasi agung juga kepada guru kami almarhum al-Muḥaddīth
al-Faqīh Ali Mustafa Yaqub, karena genealogi keilmuannya yang unik “Wahabi-NU” kami persembahkan karya ini. Begitu juga kepada keluarga beliau, Bu Nyai Ulfa, Adinda Ustadz Ziaul Haramain, Lc. Begitu juga kepada akh Ulin Nuha yang membantu teknis penerbitan.

Tidak lupa terimakasih kepada kepada Buya Prof. Dr. Masri Mansur, MA. Dekan Fakultas Ushuluddin serta Buya Dr. Asril dan senior-senior kami yang di ASA (Awak Samo Awak). Begitu juga, terimakasih banyak kepada members of Husnul Khatimah Institute, MT Jam Gadang, Ghazalian Course. Begitu juga kepada Bapak Mazwar, Amien Mastur, H. Dwipa, dan Bu Lisma. Khuṣūsan, terimakasih yang luhur kami sampaikan kepada dr. Kemas M. Akib atas support besarnya untuk publikasi buku ini. Semoga karya ini dinilai sebagai keikhlasan di sisi Allah.
Ciputat, September 2017

Download ebook TEOLOGI MUSLIM PURITAN

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply