Shalahuddin al-Ayyubi Sang Pembebas Jerussalem (Tanah Para Nabi)

Shalahuddin al-Ayyubi — semoga Allah mencurahkan rahmat Nya— adalah seorang yang dermawan, lemah lembut, berakhlak mulia, rendah hati, penyabar terhadap apa yang ia benci dan sering melupakan kesalahan orang lain. Ia sering mendengar sesuatu yang tidak disuka tentang seseorang, tapi ia tidak pernah memberitahukannya dan juga tidak berubah sikapnya kepada orang itu.

Suatu ketika ia sedang duduk bersama sekelompok sahabatnya. Lalu beberapa orang mamluk saling melempar sarmuz satu sama lain. Benda itu terlempar mengenai Shalahuddin dan jatuh di dekatnya. Shalahuddin lalu menoleh ke arah lain, mengajak bicara teman duduknya agar bisa melupakan kejadian itu.

Suatu ketika ia pernah meminta dibawakan air. Tapi tidak datang juga. Ia ulangi lagi permintaannya dalam satu majlis sebanyak lima kali. Tapi masih belum datang juga. Shalahuddin lalu berkata: “Wahai kawan, Demi Allah, dahaga telah membunuhku.” Datanglah seseorang membawakan air. Shalahuddin pun meminumnya. Ia tidak mengingkari kelambatan pembawa air itu.

Suatu ketika ia jatuh sakit yang hampir membuatnya meninggal. Ketika sembuh dan masuk ke kamar mandi, air mandinya panas. Ia lalu meminta air dingin. Pembantunya lalu datang membawa air dingin. Jatuhlah sesuatu dari dalam air ke atas tanah. Shalahuddin tertimpa sesuatu dan kesakitan karena kondisinya yang masih lemah.

Lalu suatu saat ia pernah meminta air dingin juga. Datanglah seseorang membawakannya. Ketika Shalahuddin mendekatinya, jatuhlah bejana air ke atas tanah. Air tumpah mengenai Shalahuddin. Ia hampir saja celaka. Tapi ia hanya berkata kepada pelayannya itu: “Jika engkau ingin membunuh saya, kenalilah saya dulu.” Pelayan itu meminta ma`af. Shalahuddin hanya diam.

Sifat kedermawanannya tampak dari banyak sedekahnya. Ia tidak pernah menyimpan sesuatu kecuali ia bagi-bagikan. Cukuplah sebagai bukti atas kedermawanannya adalah ketika ia meninggal ia tidak meninggalkan di dalam brankasnya apa-apa kecuali hanya uang 1 dinar Suriyah, 40 dirham Nashiriyyah. Ketika di `Aka, saya dengar, untuk menghadapi pasukan Eropa, ia mengeluarkan 18000 hewan berupa kuda dan bighal, kecuali unta. Sedangkan barang, baju dan senjata, sudah tak terhitung lagi jumlah yang pernah diberikannya.

Ketika Negara al-`Alawiyyah di Mesir mulai mengecil kekuasaannya, ia ambil dari simpanan kas negara itu segala macam harta benda yang tak terhitung jumlahnya. Tapi ia bagi-bagikan semua yang didapatnya itu.

Sedangkan sikap rendah hatinya tampak dari sikapnya yang tidak menyombongkan diri di hadapan sahabat-sahabatnya. Sikap rendah hatinya itu selalu mencela raja-raja lain yang sombong. Ia selalu mendatangi kaum fakir dan para mutashawwif. Ia mendengarkan suara mereka. Jika ada salah seorang dari mereka yang berdiri untuk berdiri atau mendengar, ia akan ikut berdiri. Ia tidak akan duduk, hingga orang fakir itu duduk. Ia tidak pernah memakai sesuatu yang dilarang agama. Ia memiliki ilmu, dan makrifah. Ia banyak mendengarkan hadits, dan menyampaikannya.

Secara umum, ia berbeda di tengah-tengah pasukannya, banyak berbuat baik, bersikap terpuji, dan sering berjihad melawan orang kafir. Pembebasan yang dilakukannya adalah bukti semua itu.

Ia menjadi penguasa di Mesir pada tahun 564 H. Ia sakit disebabkan karena ia pergi untuk menemui jama`ah haji. Ia pulang dan jatuh sakit. Sakitnya sangat keras. Ia bertahan selama 8 hari dari saat ia jatuh sakit, lalu meninggal dunia. Semoga Allah mencurahkan rahmat untuknya.

Sebelum sakitnya ia telah memanggil putranya —al-Afdlal `Ali— dan saudaranya —al-Malik al-`Adil Abu Bakar—untuk berkonsultasi dengan mereka berdua mengenai apa yang harus ia lakukan. Ia berkata: “Kita sudah tidak berurusan lagi dengan bangsa Eropa. Tidak ada lagi yang mengganggu kita di negeri ini. Negeri mana lagi yang akan kita tuju?” Saudaranya —al-`Adil— menyarankannya untuk pergi menuju Khalath. Sebab Shalahuddin telah berjanji kepadanya jika Shalahuddin berhasil mengambil alih kota ini, maka akan diserahkan kepada al-`Adil.

Sementara itu putranya —al-Afdlal— mengusulkan untuk menyerbu negeri Romawi yang ketika itu berada di tangan anak-anak Qalaj Arsalan. Al- Afdlal mengatakan: “Romawi adalah negeri yang besar, banyak tentaranya, kaya dan mudah direbut. Negeri ini juga merupakan jalan bagi bangsa Eropa jika keluar menuju daratan. Jika kita bisa menguasai Romawi, maka kita akan bisa mencegah mereka untuk menyeberang.” Shalahuddin lalu berkata:

“Kalian berdua tidak mempunyai visi panjang. Tapi saya ingin menyerbu Romawi.”

Setelah itu ia berkata kepada saudaranya—al-`Adil—: “Bawalah bersamamu beberapa orang anakku dan sebagian pasukanku. Pergilah kamu menuju Khalath. Jika aku sudah selesai dengan Romawi, aku akan datang menemui kalian. Dari Khalath kita akan memasuki Azerbayjan. Kita akan menghubungkan negeri-negeri non Arab. Tidak ada seorang pun di sana yang bisa menghalangi.” Kemudian Shalahuddin mengizinkan saudaranya —al-`Adil— untuk pergi menuju al-Kurk. Al-Kurk dulunya adalah wilayah kekuasaan. Shalahuddin berkata kepadanya: “Bersiaplah dan datanglah untuk segera berangkat.” Ketika al-`Adil pergi menuju al-Kurk, Shalahuddin jatuh sakit dan meninggal sebelum kedatangannya.

Pada tahun 589 H, di bulan Shafar, Shalahuddin Yusuf ibn Ayyub ibn Syadzi —penguasa Mesir, Syam, al-Jazirah, dan negeri lainnya— meninggal dunia di Damaskus. Tanah kelahirannya adalah Tikrit. Ia meninggalkan 17 orang anak laki-laki.

Download ebooknya, klik di SINI: Riwayat Shalahuddin al-Ayyubi

===

Judul Asli: Al-Mukhtar Min al-Kamil fi al-Tarikh; Qishshah Shalahuddin al-Ayyubi
Penulis: Ibnu al-Atsir
Penerbit: Maktabah Usrah, Kairo
Penerjemah: Abu Haytsam
Edisi Terbit : Pertama, Februari 2008
PT. Kuwais International
Jl. Bambu Wulung No. 10, Bambu Apus
Cipayung, Jakarta Timur 13890
Editor & Layout : Kaunee Creative Team

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply