Serial Kisah Rasulullah SAW: Tanda-Tanda Rasul Terakhir pada Injil

Orang-orang Nasrani Habasyah itu tahu bahwa seorang Rasul terakhir akan dibangkitkan dan mereka diperintahkan mengikutinya seperti yang tertera pada Injil di bagian Kitab Ulangan (18): 15-22, “Bahwa seorang Nabi di antara kamu, dari antara segala saudaramu dan yang seperti aku ini, yaitu akan dibangkitkan oleh Tuhan Allah-mu bagi kamu, maka dia haruslah kamu dengar.”

Muhammad Menghilang

Halimah cepat-cepat mengajak Muhammad pergi, namun dari kejauhan orang-orang Habasyah itu terlihat bergegas mengikuti mereka. Untunglah Halimah mengenal daerah itu dengan baik, sehingga mereka bisa melepaskan diri dari kejaran orang-orang Habasyah walaupun dengan susah payah.

Tidak berapa lama kemudian, Halimah berkemas menyiapkan Muhammad untuk segera kembali ke Mekah. Sedih sekali Muhammad harus berpisah dengan saudara-saudaranya. Syaima, Unaisah, dan Abdullah. “Muhammad, jangan lupakan kami ya?” pinta Syaima dengan mata berkaca-kaca.

Muhammad mengangguk sambil memeluk mereka satu persatu. Kemudian, berangkatlah Muhammad meninggalkan dusun Bani Sa’ad dengan semua kenangan indah yang tidak akan pernah hilang dari benaknya seumur hidup. Halimah mengelus kepala Muhammad penuh sayang, “Bergembiralah, Muhammad. Engkau akan berjumpa dengan ibu dan kakekmu.”

Mekah pada malam hari sangat ramai ketika mereka tiba. Saat melalui  kerumunan orang itulah, Muhammad terpisah dan hilang. Halimah kebingungan. Ia takut orang-orang Habasyah itu diam-diam masih mengikuti mereka dan mengambil kesempatan ini untuk menculik Muhammad.

Sambil menangis, Halimah mendatangi Abdul Muthalib, “Sungguh, pada malam ini, aku datang dengan Muhammad, namun ketika aku melewati Mekah Atas, ia menghilang dariku. Demi Allah, aku tidak tahu di mana kini ia berada.”

Setelah memerintahkan orang untuk mencari, Abdul Muthalib berdiri di samping Ka’bah, lalu berdoa kepada Allah agar Dia mengembalikan Muhammad kepadanya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

Bertemu Kakek dan Ibunda

Tidak lama kemudian, datanglah seseorang bernama Waraqah bin Naufal* dan seorang temannya dari Quraisy. Keduanya menyerahkan Muhammad kepada Abdul Muthalib, “Ini anakmu, kami menemukannya di Mekah Atas.”

Alangkah lega dan gembiranya Abdul Muthalib. “Cucuku!” katanya sambil mendekap Muhammad. Abdul Muthalib memperhatikan cucunya dengan wajah berseri-seri, “Apakah kamu mau kakek ajak menunggangi unta yang hebat?”

“Mau. Tetapi, mana untanya kek?”

Sambil tertawa, orang tua itu mengangkat Muhammad dan mendudukkannya di atas bahu.

“Kau kini telah menduduki untanya, Nak! Ha….ha….ha….”

“Wah, unta hebatnya kok sudah tua ya Kek?”

“Biar tua, tapi ini unta yang hebat, cucuku! Lihat unta ini mampu mengajakmu berthawaf mengelilingi Ka’bah.”

Abdul Muthalib membawa Muhammad berthawaf di Kabah. Setelah itu ia memintakan perlindungan Tuhan untuk cucunya itu dan mendoakannya. “Mari kita menemui ibumu sekarang,” ajak Abdul Muthalib.

Alangkah senangnya anak dan ibu itu ketika mereka saling bertemu. Walaupun demikian, tersisip kesedihan di hati Muhammad ketika ia melepas Halimah As Sa’diyah, ibu susu yang selama ini telah merawatnya dengan limpahan kasih yang demikian besar.

“Selamat tinggal Muhammad. Jadilah orang besar seperti yang pernah dikatakan ibumu,” kata Halimah sambil beranjak pergi.

Sampai dewasa, Muhammad tidak pernah memutuskan tali silaturahim dengan ibu susunya itu.

Gembala Kambing: Mulai dari hidupnya di Bani Sa’ad sampai masa kecilnya di Mekah, hidup Nabi Muhammad dilalui sebagai seorang gembala. []

* Waraqah bin Naufal adalah paman Khodijah (kelak menjadi istri Muhammad). Waraqah bin Naufal tidak menyukai berhala. Ia tetap mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, menjadi hamba Allah yang setia. Ia tidak meminum minuman keras dan tidak berjudi. Ia bermurah hati terhadap orang orang miskin yang membutuhkan pertolongannya.

Bersambung…

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply