Serial Kisah Rasulullah SAW: Merindukan Mekah

Dapatkah kita bayangkan perasaan kaum Muhajirin yang terusir paksa dari Mekah, tanah kelahiran mereka sendiri. Rasa rindu akan Mekah semakin lama semakin besar. Banyak sekali hal yang membuat kaum Muhajirin merasa demikian sebab Mekah bukan sekedar tempat lahir, melainkan juga merupakan kota yang luar biasa.

Di Mekah terdapat Ka’bah, rumah Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, tempat para penduduk dan bahkan seluruh orang Arab berziarah. Kewajiban berziarah ke Ka’bah sudah begitu mendarah daging dalam diri orang Arab, baik itu Muslim maupun bukan. Kewajiban suci itu tidak bisa dilepaskan begitu saja, meski orang Quraisy pasti akan mencegah kedatangan setiap Muslim.

Selain itu, di Mekah masih tertinggal keluarga yang mereka cintai walaupun masih dalam kehidupan syirik karena menyembah berhala. Keluarga inilah yang sudah sangat ingin mereka ajak ke dalam kehidupan Islam. Di Mekah pula masih tertinggal harta benda dan barang perdagangan yang disita Quraisy tatkala mereka berhijrah. Rasa rindu kaum Muhajirin pada Mekah semakin besar karena mereka telah keluar dari kota itu akibat tindakan keras Quraisy. Bukan menjadi adat orang-orang Mekah untuk menyerah terhadap ketidakadilan tanpa melakukan pembalasan.

Bahkan Rasulullah sendiri tidak kuasa melupakan Mekah. Di Mekah sana terkubur jasad Khadijah, kekasih yang sangat beliau cintai. Tidak ada negeri yang lebih beliau sayangi melebihi Mekah, tanah tumpah darah yang menimbulkan begitu banyak kenangan. Suatu hari, seorang lelaki datang berhijrah dari Mekah. Ia menemui Rasulullah dan Aisyah.

“Bagaimana situasi Mekah saat kau tinggalkan?” tanya Aisyah.

Laki-laki itu menggambarkan keadaan rumah-rumah, padang-padang tandus, jalan, pasar-pasar yang hiruk pikuk, serta bunga-bunga yang tumbuh di tepi jalan menuju perbukitan. Suaranya penuh pilu dan sedih. Kerinduan Rasulullah begitu memuncak sehingga kedua mata beliau berkaca-kaca penuh linangan air mata.

“Cukuplah, jangan kau bangkitkan kerinduanku,” demikian ucap Rasulullah.

Namun, di tengah kerinduan dan beban berat mengurus umat, Rasulullah juga dibahagiakan dengan pernikahan putri bungsunya, Fathimah Az Zahra.

Orang-orang Munafik

Salah satu tokoh paling berpengaruh yang ada di Madinah adalah Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi, salah seorang dari Bani Al-Hubla. Sebelum dan sesudahnya orang-orang Al-Aus dan Al-Khazraj tidak pernah menjadikan Pemimpin lain selain Abdullah bin Ubay bin Salul, sampai akhirnya Islam datang.

Selain itu di Al-Aus terdapat tokoh berpengaruh lainnya yang ditaati dan dihormati kaumnya yaitu Abu Amir Abdu Ann Bin Shaifi bin An Nu’man, beliau adalah orangtua dari sahabat Rasulullah ﷺ yang bernama Hanzhalar Al-Ghasil. Abu Amir Bin Shaifi biasa dipanggil sebagai Pendeta oleh kaumnya.

Adapun Abdullah bin Ubay bin Salul kaumnya telah mempersiapkan mutiara sebagai mahkota untuk disematkan padanya dan menjadikan dia Raja mereka. Maka ketika kaumnya berpaling kepada Islam, dia menaruh dendam permusuhan kepada Rasulullah ﷺ dan menuduh Rasul telah mengambil mahkota kepemimpinannya. Tatkala kaumnya masuk Islam, Abdullah bin Ubay bin Salul ikut masuk Islam namun tetap menyimpan kemunafikan dan dendam kesumat.

Sementara Abu Amir Bin Shaifi memilih tetap pada kekafirannya, ia pergi bersama belasan kaumnya ke Mekah dengan meninggalkan Islam dan Rasulullah ﷺ.

Rasul bersabda, “Janganlah kalian memanggil dia Rahib (Pendeta), tetapi panggilah dia Fasiq.”

Sebelum berangkat ke Mekah Abu Amir menemui Rasulullah dan bertanya, “Agama apa yang engkau bawa?”

Rasulullah bersabda, “Aku datang dengan agama yang lurus (hanifiyah). Agama Ibrahim.”

Abu Amir berkata, “Aku juga menganut agama Ibrahim.”

Rasulullah bersabda, “Engkau tidak menganut agama Ibrahim.”

Abu Amir menjawab, “Betul, aku menganut agama Ibrahim !”

“Wahai Muhammad, Engkau telah memasukkan hal-hal baru ke dalam agama yang lurus (hanifiyah) yang bukan merupakan bagian darinya.”

Rasulullah bersabda, “Aku tidak pernah melakukan itu semua. Aku datang dengan agama Ibrahim dalam keadaan putih suci.”

Abu Amir berkata, “Seorang pendusta akan Allah matikan dalam keadaan terusir, terasing, dan sendirian.”

Rasulullah bersabda, “Benar! Barangsiapa berdusta, Allah akan lakukan itu.”

Demikianlah yang dilakukan musuh Allah, Abu Amir, ia beranjak ke Mekah.

Abdullah Bin Ubay

Abdullah Bin Ubay Bin Salul tetap terhormat pada pandangan kaumnya. Hanya saja dia selalu ragu-ragu hingga ia dikalahkan Islam. Dan dia masuk Islam secara terpaksa.

Suatu hari, Rasulullah ﷺ pergi menunggang keledai bersama Usamah bin Zaid bin Haritsah, di atas keledainya ada kain pelana yang di atasnya terdapat selimut asal Fadak yang diikat dengan serat palem. Rasulullah berjalan melewati Abdullah Bin Ubay Bin Salul yang sedang bernaung di bawah benteng kecil yang bernama Muzahim. Abdullah Bin Ubay Bin Salul sedang bersama beberapa orang dari kaumnya.

Tatkala Rasulullah melihat Abdullah Bin Ubay Bin Salul, Beliau ﷺ merasa malu melewatinya dengan mengendarai keledai, maka Rasulullah turun dari keledainya, dan mengucapkan salam lalu duduk sejenak. Rasulullah membacakan Al Quran kepada Abdullah Bin Ubay Bin Salul, dan mengajaknya kepada agama Allah, mengingatkannya tentang Allah, memberi peringatan keras, memberi kabar gembira, dan ancaman padanya. Abdullah Bin Ubay Bin Salul diam seribu bahasa.

Setelah Rasulullah selesai berbicara, Abdullah Bin Ubay Bin Salul berkata, “Wahai Muhammad sesungguhnya tidak ada orang yang lebih baik perkatannya dari perkataanmu. Apabila yang engkau katakan itu benar, duduk sajalah di rumahmu. Siapa pun yang datang menemuimu, bicaralah engkau kepadanya. Sedangkan orang yang tidak datang menemuimu, tidak usahlah engkau bersusah payah datang kepadanya dan mengatakan sesuatu yang orang itu tidak menyukainya.”

Abdullah bin Rawahah yang sedang berada bersama beberapa dari kaum Muslimin berkata, “Benar sekali, biarkan kami yang mengajaknya ke majelis-majelis, kampung dan rumah-rumah kami. Demi Allah, inilah suatu hal yang kami sukai, sesuatu yang dengannya Allah jadikan kami mulia. Dan Dia memberi petunjuk bagi kami padanya.”

Ketika Abdullah Bin Ubay Bin Salul mendengar kaumnya menentang pendapatnya, ia bersyair: “Kala tuanmu menjadi musuhmu. Kau akan senantiasa hina dan lawanmu akan menjatuhkanmu. Biasakah burung elang harus terbang tanpa sayapnya. Jika suatu hari bulunya dicabut, ia kan jatuh.”

Rasulullah beranjak dari tempat tersebut lalu pergi ke rumah Sa’ad Bin Ubadah. Ucapan Abdullah Bin Ubay Bin Salul masih terbersit di wajah Rasulullah. Sa’ad Bin Ubadah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat sesuatu terbersit di wajahmu, apakah Engkau baru mendengar hal yang tidak engkau sukai?”

Rasulullah bersabda, “Betul sekali.” Sa’ad Bin Ubadah berkata, “Wahai Rasulullah, bersikap lemah lembutlah kepada Abdullah Bin Ubay Bin Salul.

Demi Allah ketika engkau datang kepada kami, kami telah mempersiapkan mahkota yang akan kami berikan padanya sebagai pemimpin. Ia beranggapan Engkau telah merampas mahkota kepemimpinan itu darinya.” ()

Bersambung…

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply