Serial Kisah Rasulullah SAW: Kelompok Abu Bashir

Abu Bashir

Ada satu orang lagi yang mempunyai nasib seperti Abu Jandal namanya Abu Bashir. Ia datang ke Madinah dan minta agar Rasulullah ﷺ mau menerimanya, Namun, belum lama ia menikmati hidup sebagai muslim yang merdeka di Madinah, datanglah surat dari Azhar bin Auf dan Akhnas bin Syariq yang ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, yakni meminta agar Abu Bashir dikembalikan. Surat itu dibawa oleh seorang laki-laki dari bani Amir yang disertai seorang budak.

“Abu Bashir,” sabda Rasulullah ﷺ,

“Kita telah membuat perjanjian dengan pihak mereka seperti yang sudah kau ketahui. Pengkhianatan menurut agama kita tidak dibenarkan. Semoga Allah membuat engkau dan orang-orang Islam yang ditindas bersamamu memperoleh kelapangan dan jalan keluar. Pulanglah engkau kembali ke dalam lingkungan masyarakatmu.”

“Rasulullah,” kata Abu Bashir, “Saya akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang akan menyiksa saya karena agama saya ini.”

Namun, Rasulullah ﷺ mengulangi kata-kata beliau tadi. Akhirnya, Abu Basir pun dibawa oleh kedua orang tadi. Di Dzulhulaifah, belum jauh dari Madinah, mereka beristirahat dan makan kurma. Abu Bashir berkata kepada orang dari bani Amir, “Demi Allah aku ingin sekali melihat pedangmu yang bagus itu, hai fulan.”

Tanpa curiga utusan Quraisy itu menghunuskan pedang dan memperlihatkannya kepada Abu Basir sambil berkata, “Boleh, demi Allah memang ini adalah benda yang bagus. Ia sudah cukup kenyang malang melintang bersamaku.”

“Tolong Perlihatkan kepadaku, Aku ingin melihat dan memeriksanya,” kata Abu Basir.

Begitu pedang itu ada di tangannya, Abu Bashir menusukkannya ke utusan  Quraisy itu sampai meninggal dunia. Seketika itu juga budak yang menyertai mereka berlari ke Madinah sambil berteriak-teriak. Budak itu Terus Berlari memasuki masjid. Melihat kehadirannya Rasulullah ﷺ bersabda, “Sepertinya orang itu sedang ketakutan.”

Budak itu berlari ke hadapan Rasulullah ﷺ sambil berkata, “Teman Tuan membunuh teman saya, saya pun agaknya akan dibunuhnya pula.”

Kelompok Abu Bashir

Tidak lama kemudian datanglah Abu Bashir dengan membawa pedang terhunus. Abu Bashir tahu bahwa Rasulullah ﷺ sangat teguh memegang perjanjian. Jika saat itu ia menetap di Madinah, Rasulullah ﷺ pasti akan memulangkannya kembali. Maka Abu Bashirpun berkata,

“Rasulullah, jaminan Tuan sudah terpenuhi dan Allah sudah melaksanakannya buat tuan. Tuan menyerahkan saya ke tangan mereka dan dengan agama saya ini saya tetap bertahan supaya saya jangan dianiaya atau dipermainkan karena keyakinan agama saya ini.”

Setelah berkata begitu Abu Bashir pergi meninggalkan Madinah. Rasulullah ﷺ tahu maksud Abu Bashir. Beliau pun memandang kagum orang itu karena keberaniannya. Dalam hati Rasulullah ﷺ mengharapkan Abu Bashir mempunyai anak buah.

Sesuai dugaan Rasulullah ﷺ Abu Bashir tidak kembali ke Mekah ia pergi ke daerah Al Ish. Tempat itu adalah jalur perdagangan Quraisy menuju Syam, tepat di tepi laut. Kepergian Abu Bashir ke daerah ini didengar oleh kaum muslimin yang tinggal di Mekah. Mereka juga mendengar betapa kagumnya Rasulullah ﷺ pada keberanian Abu Bashir.

Maka diam-diam 70 muslim yang selama ini hidup tertindas di Mekah pergi menyusul Abu Bashir. Abu Jandal tentu saja berada di antara mereka itu. Ketika mereka tiba, kaum muslim yang tertindas itu mengangkat Abu Bashir sebagai pemimpin. Mulai sejak itulah mereka menyerang setiap kafilah dagang Quraisy yang lewat. Ini berbahaya! Sangat berbahaya! gerutu seorang pemimpin Quraisy,

“Kita tidak bisa menyalahkan Muhammad karena para pengikutnya itu tidak lari ke Madinah! Mau tidak mau kita harus meminta Muhammad menampung mereka ke Madinah agar jalur dagang kita aman!”

“Tapi itu tidak sesuai dengan perjanjian Hudaibiyah, ” jawab yang lain.

“Kita terpaksa mengalah, tidak ada jalan lain, bukan!”

Akhirnya orang Quraisy meminta Rasulullah ﷺ menerima Abu Bashir dan pasukannya. Mereka sadar bahwa orang yang imannya sangat kuat lebih berbahaya daripada membebaskannya.

Dengan demikian, gugurlah Salah satu isi perjanjian yang mengatakan bahwa orang muslim yang melarikan diri dari Quraisy harus dikembalikan.

Kini setiap muslim Mekah bisa bergabung setiap saat dengan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya di Madinah. Ini adalah salah satu tanda kemenangan kaum muslimin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Bersambung…

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply