Serial Kisah Rasulullah SAW: Istri-istri Rasulullah ﷺ dan Anjuran Bekerja kepada para Sahabat

Istri-istri Rasulullah

Kedudukan yang telah Rasulullah ﷺ berikan kepada para istrinya belum pernah didapati oleh wanita-wanita Arab sebelum mereka. Rasulullah ﷺ sangat lembut, selalu tersenyum, dan penuh kasih sayang kepada para isterinya.

“Laki-laki terbaik di antara kamu adalah yang berlaku paling baik kepada isterinya,” demikian sabda beliau.

Maka wajar saja, isteri-isteri Rasulullah ﷺ menjadi sedikit manja. Mereka begitu mencintai Rasulullah ﷺ sehingga saling berebut perhatian Beliau. Aisyah sangat cemburu jika Rasulullah ﷺ sedang memberi perhatian kepada Hafshah, demikian pula sebaliknya. Bahkan Aisyah sampai cemburu kepada almarhumah Khadijah. Hal seperti itu tentu mengganggu ketentraman hati Rasulullah ﷺ. Tidak cukup sampai di situ, para ibu kaum muslimin itu pun mengeluh kepada Rasulullah ﷺ tentang keserderhanaan hidup mereka.

Dengan mata berkaca-kaca, beberapa istri Rasulullah ﷺ pernah memohon agar Rasulullah ﷺ juga memperhatikan pakaian mereka yang sederhana. Para ibu kaum Muslimin itu tahu bahwa Rasulullah ﷺ adalah pemimpin negara yang cukup besar saat itu. Dengan mudah, Rasulullah ﷺ akan dapat memberikan mereka pakaian dari sutra, kain katun mesir, dan baju halus dari Yaman. Bahkan, Rasulullah ﷺ juga bisa saja memberikan setiap isterinya perhiasan dari emas. Jadi, mengapa mereka harus hidup sederhana.

Dengan cara halus, Rasululllah ﷺ berusaha menyadarkan para isteri beliau. Sebagai isteri Rasulullah ﷺ, mereka tidak sama dengan wanita-wanita lain. Mereka memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki wanita lain, yaitu bersuamikan Rasulullah ﷺ. Mereka harus menjadi wanita penyabar dan patuh kepada suami sehingga pantas diteladani oleh isteri-isteri sahabat. Namun, isteri-isteri beliau secara halus tetap menuntut agar Rasulullah ﷺ memberi uang belanja yang lebih layak.

Karena sudah tidak ada jalan lain. Rasulullah ﷺ pun memutuskan hidup terpisah dari isteri-isterinya. Masalah yang harus dihadapi masih segunung, termasuk ancaman Yahudi dari Khaibar. Para isteri yang harusnya menentramkan malah mengeruhkan batin Rasulullah ﷺ.

Mengetahui hal tersebut,  datang dan memarahi Aisyah. Umar bin Khattab juga memarahi putrinya Hafshah.

Akhirnya para isteri Rasulullah ﷺ itu menyadari kelalaian mereka. Sambil menangis, mereka memohon ampun pada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan mereka. Rasululllah ﷺ memaafkan mereka dan kembali hidup tenteram seperti semula.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيد نا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيد نا مُحَمد

Seruan Rasulullah ﷺ agar Bekerja

Di Madinah masih ada orang-orang muslim yang hidup tanpa rumah dan tanpa pekerjaan. Mereka ini tinggal di masjid dan hidup tenang dari harta zakat yang diberikan oleh orang lain. Setiap hari yang mereka lakukan adalah berdzikir dan sholat di masjid. Sebagian masyarakat sangat menghormati orang-orang yang tiada henti-hentinya berdzikir, sholat, dan berdoa itu.

Rasulullah ﷺ menemukan salah seorang di antara mereka yang benar-benar mengkhususkan dirinya untuk beribadah. Orang itu terlihat begitu kurus karena sholat setiap siang dan malam hari. Rasulullah ﷺ juga melihat kekaguman orang-orang kepada laki-laki tadi. Dahi Rasulullah ﷺ sedikit berkerut sehingga beliau bertanya kepada orang-orang,

“Siapa yang memberi dia makan?”

“Saudaranya ya Rasulullah.” jawab seseorang.

“Saudaranya itu jauh lebih ahli ibadah daripada dia,” demikian Sabda Rasulullah ﷺ.

Setelah itu Rasulullah ﷺ pun menghimbau semua orang yang hidup menganggur agar mau bekerja. Jika kita masih mempunyai kaki dan tangan, tidak ada alasan untuk tidak bekerja. Yang terbaik bagi seseorang adalah makan dari hasil pekerjaannya sendiri.

Rasulullah ﷺ menceritakan kisah Nabi Daud. Walaupun dia seorang raja yang berkuasa dia tetap makan dari hasil pekerjaannya sendiri. Maka tersentaklah orang-orang, ternyata ibadah itu mempunyai arti sangat luas. Bekerja untuk menafkahi keluarga termasuk ibadah besar jika diniatkan dengan ikhlas karena Allah semata.

Sejak itu kaum muslimin pun bekerja dengan giat. Apa pun yang halal mereka kerjakan, apalagi banyak ladang-ladang gembala dan sumur-sumur peninggalan orang Yahudi yang kini menjadi milik kaum muslimin. Bekerja sebagai gembala, pencari kayu bakar dan pembuat tembikar jauh lebih baik daripada orang yang terus berdiam diri di masjid hanya untuk berdzikir.

Rasulullah ﷺ adalah teladan kesungguhan yang sempurna. Apabila beliau telah memusatkan perhatiannya pada ibadah, maka dipusatkan lah perhatiannya sepenuhnya. Dan apabila melaksanakan suatu pekerjaan lain maka takkan beliau sudahi pekerjaan itu sebelum benar-benar selesai.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيد نا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيد نا مُحَمد

Bersambung…

 

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply