Serial Kisah Rasulullah SAW: Berbagai Operasi Militer Antara Badar dan Uhud

Perang Badar merupakan awal pertarungan bersenjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, Dan merupakan peperangan yang menentukan, Kaum muslimin memperoleh kemenangan besar yang diakui oleh seluruh orang Arab. Orang yang menyesali akibat perang tersebut adalah mereka yang secara langsung memperoleh kerugian berat, Yaitu kaum musyrikin atau orang-orang yang memandang kemuliaan dan kemenangan kaum muslimin merupakan pukulan telak terhadap eksistensi keagamaan dan perekonomian mereka yaitu kaum Yahudi.

Sejak kaum muslimin meraih kemenangan dalam Perang Badar dua kelompok tersebut menyimpan amarah terhadap kaum muslimin. Di Madinah terdapat para pendukung dua kelompok tersebut, dan mereka berpura-pura masuk Islam tatkala tidak ada tempat lagi untuk meraih kewibawaan mereka.

Mereka adalah Abdullah bin Ubay dan teman-temannya,  kelompok ketiga ini lebih besar lagi kemarahannya daripada dua kelompok di atas. Di samping itu terdapat kelompok keempat, mereka adalah orang-orang Baduy yang tinggal di sekitar Madinah. Masalah kekufuran dan keimaman mereka tidaklah menjadi perhatian bagi mereka, tetapi mereka adalah para perampok dan perampas. Mereka mulai goncang karena kemenangan yang diraih kaum muslimin.

Mereka khawatir akan tegak di Madinah suatu negara yang kuat, yang akan menghalangi mereka untuk meraih kesuksesan atau kekuatan melalui perampokan dan perampasan. Sehingga mereka pun membenci kaum muslimin dan menjadi musuh mereka.

Perang Bani Sulaim

Berita pertama yang disampaikan oleh utusan dari Madinah kepada Nabi ﷺ setelah Perang Badar adalah Bani Sulaim. Bani Sulaim ini berasal dari kabilah Ghathafan. Mereka menggalang kekuatannya untuk menyerang Madinah.

Nabi ﷺ dengan pasukan kavaleri yang berkekuatan 200 personel mendatangi kabilah tersebut di perkampungannya. Sesampainya beliau di wilayah mereka di daerah al-Kudr, Bani Sulaim melarikan diri dan meninggalkan 500 ekor unta. Mereka meninggalkan untanya di suatu lembah yang dikuasai oleh pasukan Madinah.

Beliau juga mendapatkan seorang budak yang bernama Yasar yang kemudian dibebaskan. Di perkampungan Bani Sulaim tersebut Nabi ﷺ  tinggal selama tiga hari. Kemudian beliau kembali ke Madinah. Peperangan tersebut terjadi pada bulan Syawal tahun kedua Hijriyah 7 hari setelah pulang dari Perang Badar. Dalam peperangan tersebut Nabi ﷺ  menyerahkan urusan Madinah kepada Siba’ bin Arfatah.

Persekongkolan untuk Membunuh Nabi Muhammad ﷺ 

Kekalahan kaum musyrikin dalam Perang Badar menimbulkan dampak yang mendalam. Kaum Quraisy di Mekah menjadi marah dan mulai meluap-luap emosinya terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Ada dua orang tokoh Quraisy yang melakukan persekongkolan untuk membunuh nabi Muhammad ﷺ. Tidak beberapa lama seusai Perang Badar, Umair bin Wahab Al Jami’ dan Safwan Bin Umayyah duduk bersama di sebuah batu.

Umair adalah salah seorang “Syaithan” Quraisy yang selalu menyakiti Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat beliau ketika masih berada di Mekkah. Sedangkan anaknya yang bernama Wahab bin Umair menjadi tawanan Badar. Umair menyebutkan para tokoh korban perang Badar, lalu Sofwan berkata, “Sesungguhnya setelah kematian mereka akan datang kehidupan yang baik.”

Umair berkata kepadanya, “Sungguh, kamu benar.

Demi Allah, seandainya aku tidak mempunyai tanggungan hutang, dan tidak khawatir terlantar setelah aku mati, pasti aku akan mendatangi Muhammad dan membunuhnya. Aku mempunyai alasan  yaitu anakku yang menjadi tawanan mereka.”

Safwan pun menjawab, “Utangmu aku tanggung, aku yang akan melunasinya, dan keluargamu bersama keluargaku selama mereka masih hidup. Hal itu tidak berat bagiku”

Umair kemudian berkata, “Rahasiakanlah persoalan ini, Akan kulakukan,” Selanjutnya Umair mengambil pedangnya, lalu dia berangkat ke Madinah. Ketika sudah sampai di pintu masjid dia menderumkan untanya. Terlihat olehnya Umar Ibnul Khattab yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang dari kaum muslimin tentang kemenangan perang Badr.

Maka Umar berkata, “Ini musuh Allah. Umair tidaklah datang kecuali untuk maksud jahat.”

Kemudian Umar masuk mendatangi Nabi Muhammad ﷺ seraya berkata, “Wahai nabi Allah, Umair musuh Allah telah datang dengan menyandang pedangnya.”

Nabi menjawab, “Suruhlah masuk menemui aku.”

Umar pun menemui Umair, dan sambil menarik tali pedang Umair ia berkata kepada beberapa orang dari kaum Anshor, “Masuklah, temui Rasulullah ﷺ  dan duduklah di sisi beliau, serta jagalah beliau dari orang jahat ini, karena dia perlu diwaspadai.”

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Berrsambung…

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply