Said bin ‘Amir: Pemilik Kebesaran di Balik Kesederhanaan

Siapa yang kenal nama ini, dan siapa pula di antara kita yang pernah mendengarnya sebelum ini? Berat dugaan bahwa banyak di antara kita — kalau tidak semua — yang belum pernah mendengarnya sama sekali. Dan saya yakin bahwa anda sekalian sekarang sama menunggu dan bertanya-tanya, siapakah kiranya Sa’id bin ‘Amir ini?

Tentu! Saat ini akan anda ketahui juga siapa dia tokoh tersebut. Ia adalah salah seorang shahabat Rasulullah yang utama, walaupun namanya tidak seharum nama mereka yang telah terkenal. Ia adalah salah seorang yang taqwa dan tak hendak menonjolkan diri!

Diadukan ke Khallifah

Suatu ketika, tatkala Amirul Mu’minin Umar berkunjung ke Homs, ditanyakannya kepada penduduk yang sedang  berkumpul lengkap: “Bagaimana pendapat kalian tentang Sa’id?” Sebagian hadirin tampil ke depan mengadukannya. Tetapi rupanya pengaduan itu mengandung barkah, karena dengan demikian terungkaplah dari satu segi kebesaran pribadi tokoh kita ini, kebesaran yang amat menakjubkan serta me­ngesankan!

Dari kelompok yang mengadukan itu Umar meminta agar mereka mengemukakan titik-titik kelemahannya satu demi satu. Maka atas nama kelompok tersebut majulah pembicara yang mengatakan:

Ada empat hal yang hendak kami kemukakan:

  1. la baru keluar mendapatkan kami setelah tinggi hari.
  2. Tak hendak melayani seseorang di waktu malam hari.
  3. Setiap bulan ada dua hari di mana ia tak hendak keluar mendapatkan kami hingga kami tak dapat menemui­nya.
  4. Dan ada satu lagi yang sebetulnya bukan merupakan kesalahannya tapi mengganggu kami, yaitu bahwa sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.

Umar tunduk sebentar dan berbisik memohon kepada Allah, katanya: “Ya Allah, hamba tahu bahwa ia adalah hamba-Mu terbaik, maka hamba harap firasat hamba terhadap dirinya tidak meleset.”

Abu Said Menjawab

Lalu Said dipersilahkan untuk membela dirinya, ia ber­kata:

  1. Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tak hendak keluar sebelum tinggi hari, maka demi Allah, sebetulnya saya tak hendak menyebutkannya.
  2. Keluarga kami tak punya khadam atau pelayan, maka sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram, lalu saya membuat roti dan kemudian wudlu untuk shalat dluha. Setelah itu barulah saya keluar mendapatkan mereka!
  3. Adapun tuduhan mereka bahwa saya tak mau melayani mereka di waktu malam, maka demi Allah saya benci menyebutkan sebabnya! Saya telah menyediakan. Siang hari bagi mereka, dan malam hari bagi Allah Ta’ala! Sedang ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan di mana saya tidak menemui mereka, maka sebabnya sebagai saya katakan tadi — saya tak punya khadam yang akan mencuci pakaian, sedang pakaianku tidak pula banyak untuk diper­gantikan. Jadi terpaksalah saya mencucinya dan menunggu sampai kering, hingga baru dapat keluar di waktu petang.
  4. Kemudian tentang keluhan mereka bahwa saya sewaktu­-waktu jatuh pingsan sebabnya karena ketika di Mekah dulu saya telah menyaksikan jatuh tersungkurnya Khubaib al-Anshari. Dagingnya dipotong-potong oleh orang Quraisy dan mereka bawa ia dengan tandu sambil mereka menanya­kan kepadanya: “Maukah tempatmu ini diisi oleh Muham­mad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sehat wal ‘afiat?” Jawab Khubaib: “Demi Allah, saya tak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi oleh keselamatan dan kesenangan dunia, sementara Rasulullah ditimpa bencana, walau oleh hanya tusukan duri sekalipun…”

Baca dan Download, di sini.

 

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply