Rasulullah SAW, Mengajarkan Do’a kepada Buraidah RA

Suatu hari Rasulullah SAW memanggil sahabat bernama Buraidah dan mengajarkan doa berikut ini:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ضَعِيْفٌ فَقَوِّ فِيْ رِضَاكَ ضَعْفِيْ وَخُذْ إِلَيَّ الْخَيْرَ بِنَاصِيَتِيْ وَاجْعَلِ الْإِسْلَامَ مُنْتَهَى رِضَائِيْ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ضَعِيْفٌ فَقَوِّنِيْ وَإِنِّيْ ذَلِيْلٌ فَأَعِزَّنِيْ وَإِنِّيْ فَقِيْرٌ فَارْزُقْنِيْ
Allahumma ini dha’ifun faqawwini fi ridhaka dha’fi, wa khudz ilayyal khaira binashiyati waj’alil islama muntaha ridha’i. Allahuma inni dha’ifun faqawwini wa inni dzalilun fa-a’izzani wa inni faqirun farzuqni
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba yang lemah, maka dengan ridhamu berilah aku kekuatan dan giringlah pikiranku pada kebaikan, jadikanlah Islam sesuatu yang paling kuridhai. Ya Allah, sesungguhnya aku ini hamba yang lemah maka berilah aku kekuatan, aku juga hamba yang hina maka jadikanlah aku mulia dan aku adalah hamba yang fakir maka berilah aku rezeki.” (HR. Al-Hakim)
Rasulullah SAW berkata pada Buraidah bahwa siapa saja yang mengamalkannya, Allah SWT akan menjadikannya orang yang selalu dalam kebaikan dan pandai dalam memahami agama. Doa itu pun diamalkan Buraidah dan sejarah mencatat (dalam kitab Siyar A’lami An-Nubala’ karya Adz-Dzahabi) ia termasuk golongan sahabat yang ahli fikih dan cerdas dalam berijtihad.
Buraidah ibn Al-Hashib adalah salah satu sahabat yang sering mendapat nasihat langsung dari Rasulullah SAW. Ia termasuk salah satu sahabat yang secara pribadi mendapat perhatian khusus dari Rasulullah. Ia juga memiliki hubungan khusus dengan Rasulullah. Bahkan, tanpa basi-basi Rasulullah SAW pernah menegur langsung atas sikapnya yang kurang pas.
Tentu, tidak akan semua dialog Nabi dan sahabatnya dapat terekam dalam hadis, apalagi jika sahabat itu memiliki kedekatan dengan Rasulullah. Lalu, para ahli hadis beberapa abad berikutnya baru meneliti dan menelusuri rekam jejak peristiwa di zaman Nabi untuk memasukkannya dalam kitab hadis dengan standar dan kualifikasi hadis yang mereka anut. Maka, dari itu, dituntut sikap kehati-hatian untuk memahami hadis, tidak boleh sembarangan menolak hadis gara-gara sanad yang dianggap lemah, tidak boleh menganggap hadis dhaif sebagai sesuatu yang ditolak, sebab boleh jadi kualifikasi dan penilaian kita salah.
Dalam riwayat Al-Bukhari dikisahkan bahwa pernah Buraidah menunjukkan rasa marahnya pada Ali ibn Abi Thalib karena mengambil tawanan perang sebagai budaknya. Melihat sikap Buraidah seperti itu, Rasulullah saw. menegurnya. Jika kita menganggap Buraidah salah atau Sayyidina Ali yang salah, tentu kita bisa terjebak pada hal yang salah. Karena itu, dituntut pemahaman menyeluruh tentang hadis dan asbabul-wurudnya.
Di kesempatan lain, Rasulullah saw. pernah mengajari Buraidah secara langsung tentang doa setelah bangun dari rukuk. Ini terekam dalam hadis. Namun, bukankah banyak nasihat Nabi kepada Buraidah yang tidak terekam oleh hadis dan baru terditeksi berabad-abad berikutnya.

Ada pula kisah menarik. Suatu ketika pernah Buraidah berjalan sendirian melintasi masjid Nabawi. Tapi, ia merasa dibuntuti seseorang, ia pun terhenyak setelah tahu bahwa orang itu ternyata Rasulullah SAW. Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba Rasulullah menarik lengan Buraidah dan mengajaknya mengendap-endap untuk melihat seseorang yang sedang shalat khusyuk di dalam masjid. Usai shalat orang itu berdoa (dan Rasulullah saw. maupun Buraidah mendengarnya),
أَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ أَنِّيْ أَشْهَدُ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ اَلأَحَدُ الْفَرْدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ تَلِدْ وَلَمْ تُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَكَ كُفُوًا أَحَدٌ 
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pada-Mu, aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah, Zat yang tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau Esa dan tiada suatu pun sekutu bagi-Mu. Engkau Maha Tunggal, tempat meminta segala sesuatu yang mana Engkau tidak beranak, tidak diperanakkan dan tiada suatu pun yang setara dengan-Mu.”
Lalu, Rasulullah s.a.w melepas genggaman tangan Buraidah dan berkata, “Wahai Buraidah, tahukah kamu apa yang kulihat dari orang itu?” Buraidah menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian beliau berkata, “Orang itu telah memohon pada Allah swt. dengan salah satu asma-Nya yang jika diucapkan dalam doa, apa pun permintaannya akan dikabulkan.” Usai berdoa, orang itu keluar dari masjid. Betapa kagetnya, Buraidah setelah tahu orang itu ternyata adalah Abu Musa Al ‘Asy’ari.
Begitu banyak model pendidikan yang diperkenalkan Rasulullah kepada sahabat di zamannya. Hingga setiap sahabat di masa itu merasa dekat dengan Rasul karena kehebatan beliau sebagai pemimpin, pembimbing, atau sebagai kawan dekat. Dari kisah ini dapat kita tangkap bahwa sangat dimungkinkan Nabi mengajarkan doa khusus kepada sahabat dengan redaksi yang berbeda. Lalu, dari beberapa generasi sesudahnya baru terekam oleh ahli hadis, atau justru tak dianggap sebagai hadis karena kurangnya bukti filologis. Atau mungkin, ulama 4 abad berikutnya justru mendapat ilham melalui mimpi berupa doa, wirid atau zikir dari Rasul yang mungkin isinya senada dengan doa yang pernah diajarkan Rasul kepada sahabat di zamannya.

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply