Qeis bin Sa’ad: Kedudukan di sisi Nabi SAW, tak ubah seperti Ajudan

Berasal dari keluarga Arab yang paling dermawan dari turunannya yang mulia, suatu keluarga yang Rasulullah saw. pernah berkata terhadapnya:

“Kedermawanan menjadi tabi’at anggota keluarga ini!”

Nah, siapakah kiranya pemuda yang sangat dicintai kaumnya ini, sampai-sampai mereka siap mengurbankan harta untuk membelikan janggut yang akan menghiasi mukanya, sebagai penyempurnaan bentuk luarnya bagi kebesaran hakiki dan kepemimpinan yang tinggi yang sudah dimilikinya…?

Walaupun usianya masih muda, orang-orang Anshar memandangnya seperti seorang pemimpin. Mereka mengatakan: “Seandainya kami dapat membelikan janggut untuk Qeis dengan harta kami, niscaya akan kami lakukan”. Sebabnya ia berwajah licin, tak ada suatu pun kekurangan dari sifat-sifat kepemimpinannya yang lazim terdapat pada adat kebiasaan kaumnya, selain soal janggut yang oleh para pria dijadikan sebagai tanda kejantanan pada wajah-wajah mereka.

Ahli Strategi dan Muslihatnya Tak Berbanding

Ia adalah seorang Ahli Strategi lihai yang banyak tipu muslihat, seorang yang mahir, licin dan cerdik, dan orang yang terus terang mengatakan secara jujur tentang dirinya:

“Kalau bukan karena Islam, saya sanggup membikin tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh orang Arab mana pun!”

Sebabnya, karena ia adalah seorang yang tinggi kecerdasannya, banyak akal dan encer otaknya. Pada peristiwa Shiffin ia berdiri di fihak Ali menentang Mu’awiyah. Maka duduklah ia merencanakan sendiri tipu muslihat yang mungkin akan membinasakan Mu’awiyah dan para pengikutnya di suatu hari atau pada suatu ketika kelak. Namun ketika ia menyaring macam-macam muslihat yang telah memeras kecerdasannya. Namun, ketika ia menyaring itu disadarinya bahwa itu adalah suatu muslihat jahat yang membahayakan. Maka teringatlah ia akan firman Allah swt.:

“Dan tipu daya jahat itu akan kembali menimpa orangnya sendiri!” (Q.S. 35 al-Fathir:43)

Maka ia pun segera bangkit, lalu membatalkan cara-cara tersebut sambil memohon ampun kepada Allah, serta mulutnya seakan-akan hendak mengatakan:

“Demi Allah, seandainya Mu’awiyah dapat mengalahkan kita nanti, maka kemenangannya itu bukanlah karena kepintarannya, tetapi hanyalah karena keshalehan dan ketaqwaan kita.”

Ajudan Rasulullah SAW

Sesungguhnya pemuda Anshar suku Khazraj ini, adalah dari suatu keluarga pemimpin besar, yang mewariskan sifat-sifat mulia dari seorang pemimpin besar kepada pemimpin besar pula. Ia anak dari Sa’ad bin ‘Ubadah, seorang pemimpin Khazraj. Sewaktu Sa’ad masuk Islam, ia membawa anaknya Qeis dan menyerahkannya kepada Rasul sambil berkata:

“Inilah khadam anda ya Rasulallah!” Rasul dapat melihat pada diri Qeis segala tanda-tanda keutamaan dan ciri-ciri kebaikan. Maka dirangkul dan didekatkannya ke dirinya dan senantiasalah Qeis menempati kedudukan di sisi Nabi. Anas, shahabat Rasulullah pernah mengatakan:

“Kedudukan  Qeis bin Sa’ad di sisi Nabi, tak ubah seperti ajudan.”

Selagi Qeis memperlakukan orang-orang lain sebelum ia masuk Islam dengan segala kecerdikannya, mereka tak tahan akan kelihaiannya. Dan tak ada seorang pun di kota Madinah dan sekitarnya yang tidak memperhitungkan kelihaiannya ini secara hati-hati. Maka setelah ia memeluk Islam, Islam mengajarkan kepadanya untuk memperlakukan manusia dengan kejujuran, tidak dengan kelicikan. Ia adalah seorang anak muda yang banyak – amalnya untuk Islam, karena itu di kesampingkannya kelihaiannya, dan tidak hendak mengulangi lagi tindakan-tin­dakan liciknya masa silam.

Dermawan Tiada Tara

Bagi Qeis sebagai telah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang paling dermawan dan suka membantu di antara suku-suku Arab, ada petugas yang sering berdiri di tempat ketinggian memanggil para tamu untuk makan siang bersama mereka atau sengaja menyalakan api di malam hari untuk menjadi petunjuk bagi para musafir yang lewat.

Orang-orang di zaman itu mengatakan: “Siapa yang ingin memakan lemak dan daging, silahkan mampir ke benteng perkampungan Dulaim bin Hari­tsah!” Dulaim bin Haritsah adalah kakek kedua dari Qeis. Di rumah bangsawan inilah Qeis mendapat didikan kedermawan­an dan kepemurahan. Di suatu hari Umar dan Abu Bakar bercakap-cakap sekitar kedermawanan dan kepemurahan Qeis sambil. berkata

“Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kepemurahannya, niscaya akan habis licin harta orang tuanya…!”

Pembicaraan tentang anaknya itu, sampai kepada Sa’ad bin ‘Ubadah, maka serunya:

“Siapa dapat membela diriku terhadap Abu Bakar dan Umar…? Diajarnya anakku kikir dengan memperalat namaku…!”

Pada suatu hari pernah ia memberi pinjaman pada salah seorang kawannya yang kesukaran dengan jumlah besar. Pada hari yang telah ditentukan guna melunasi utang, pergilah orang itu untuk membayarnya kepada Qeis. Ternyata Qeis tidak bersedia menerimanya, ia hanya berkata:

“Kami tak hendak menerima kembali apa-apa yang telah kami berikan!”

Fithrah manusia mempunyai kebiasaan yang tak pernah berubah, dan sunnah (hukum) yang jarang berganti-ganti yaitu.: di mana terdapat kepemurahan, terdapat pula keberanian. Benarlah – sesungguhnya dermawan sejati dan keberanian sejati adalah dua saudara kembar yang tak pernah berpisah satu dari lainnya untuk selama-lamanya. []

Anda beruntung bila memiliki ebooknya, download KLIK di SINI.

 

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply