Qadha (Mengganti) Shalat Yang Terlewat: Haruskah?

Seluruh ulama sepakat bahwa pada dasarnya mengqadha’ atau mengganti shalat yang terlewat merupakan ibadah yang disyariatkan dan bahkan diperintahkan di dalam syariat Islam. Di antara dalil yang menjadi landasan pensyariatan penggantian shalat yang terlewat adalah hadits-hadits berikut ini:

Rasulullah SAW menegaskan tentang shalat yang terlewat karena lupa harus diganti begitu ingat. Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW bersabda:

”Siapa yang terlupa shalat, maka lakukan shalat ketika ia ingat dan tidak ada tebusan kecuali melaksanakan shalat tersebut dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (HR. Al Bukhari)

Di dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani disebutkan Ibrahim berkata bahwa Orang yang telah meninggalkan sekali shalat meski terlewat sejak 20 tahun sebelumnya, maka dia tetap wajib mengganti shalat itu. (Fathul Bari, juz 4 hal. 59)

Urgensi Mengqadha’ Shalat Yang Terlewat

Amalan yang pertama kali akan ditanya di hari qiyamat adalah masalah shalat.

Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari manusia dari amalnya pada hari kiamat adalah masalah shalat.(HR. Abu Daud)

Shalat adalah kewajiban utama tiap muslim. Dan hal-hal yang sekiranya membuat seseorang terhalang dari melakukan shalat pada waktu tertentu di tempat tertentu, tidaklah membuat kewajiban shalat itu menjadi gugur. Orang yang karena satu dan lain hal, terlewat kewajiban shalatnya, tetap dibebankan kewajiban mengerjakan shalat.  Dan bila tidak diganti dengan qadha’ shalat, maka ancaman siksa sudah tegas di dalam kitabullah:

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. (QS. Al-Muddatstsir: 42-43)

Rasulullah SAW pernah tertinggal dari mengerjakan shalat Shubuh

Al-Imam Muslim dalam kitab Shahihnya meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah tertinggal dari mengerjakan shalat Shubuh, yaitu ketika beliau SAW dan sebagian shahabat dalam perjalanan pulang dari perang Khaibar. Lalu mereka bermalam dan tertidur tanpa sengaja (ketiduran), meskipun sebenarnya beliau SAW telah memerintahkan Bilal bin Rabah untuk berjaga. Dan mereka tidak bangun kecuali matahari telah terbit dan cukup tinggi posisinya.

Hadits ini diriwayatkan dan diredaksikan oleh Abu Hurairah radhiyallahuanhu, dan lengkapnya hadits tersebut sebagai berikut: Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu berkata,

“Ketika Rasulullah SAW kembali dari perang Khaibar, beliau berjalan di tengah malam hingga ketika rasa kantuk menyerang beliau, maka beliau pun berhenti untuk istirahat (tidur). Namun beliau berpesan kepada Bilal, “Bangunkan kami bila waktu Shubuh tiba.”

Sementara itu Bilal shalat seberapa dapat dilakukannya, sedang Nabi dan para shahabat yang lain tidur. Ketika fajar hampir terbit, Bilal bersandar pada kendaraannya sambil menunggu terbitnya fajar. Namun rasa kantuk mengalahkan Bilal yang bersandar pada untanya. Maka Rasulullah SAW, Bilal dan para shahabat tidak satupun dari mereka yang terbangun, hingga sinar matahari mengenai mereka. Yang mula-mula terbangun adalah Rasulullah SAW.

Ketika terbangun, beliau berkata,”Mana Bilal”. Bilal menjawab,”Demi Allah, Aku tertidur ya Rasulullah”. Beliau bersada,”Bersiaplah”. Lalu mereka menyiapkan kendaraan mereka. Lalu Rasulullah SAW berwudhu’ dan pemerintahkan Bilal melantunkan iqamah dan Nabi SAW mengimami shalat Shubuh. Seselesainya, beliau bersabda,

“Siapa yang lupa shalat maka dia harus melakukannya begitu ingat. Sesungguhnya Allah berfirman,”Tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku. (HR. Muslim)

Al-Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadits ini di dalam kitab Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil atas wajibnya mengqadha’ atau mengganti shalat yang terlewat. Dan tidak ada bedanya, apakah shalat itu ditinggalkan karena adanya ‘udzur syar’i seperti tertidur dan terlupa, atau pun ditinggalkan shalat itu tanpa udzur syar’i, seperti karena malas dan lalai. (Syarah Shahih Muslim, jilid 5 hal. 181-183)

Bagaimana tata caranya? Baca selengkapnya, download klik di sini. 

 

Judul: Qadha Shalat Yang Terlewat : Haruskah?
Penulis: Ahmad Sarwat, Lc., MA
Terbit: 24 August 2018
Penerbit: Rumah Fiqih Publishing
Halaman: 67
Legalitas: Waqaf/Gratis

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply