Pancasila, Lima Sila Dasar Negara.

Suatu kali ada kerabat bercerita luasnya negara kita Indonesia, dia melakukan penerbangan dari sebuah kota di Sumatera menuju Jayapura, Papua. Dengan 1 x transit perjalanan ditempuh dalam waktu hampir 11 Jam, dia membandingkan penerbangan Jakarta-Incheon (Korsel) 13 Jam-an memilik selisih lebih kurang 2jam penerbangan.

Begitulah luasnya negeri tercinta Indonesia ini, negara yang dimerdekakan, dan diwariskan para pejuang-pejuang dengan darah dan airmata. Berikut adalah pidato Bung Tomo menggelora dan menyemangati para pejuang-pejuang kemerdekaan lewat radio.

Sumber : YouTube

Saudara-saudara.

Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.

Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,

Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,

Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,

Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,

Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,

Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini. (Sumber : MerdekaCom)

Tak ada rasa takut kehilangan nyawa dan harta, para pejuang kita dari berbagai daerah hanya memikirkan :

Merdeka…Merdeka …Merdeka atau Mati

Para pejuang-pejuang kemerdekan Indonesia memiliki motivasi yang tinggi untuk merdeka yang didasari oleh keyakinan akan adanya Tuhan. Dengan persenjataan seadanya, bambu runcing, pedang, dan beberapa pucuk senjata api berani menhadapi persenjataan modern pemenang Perang Dunia ke II, Inggris dan penjajah Belanda. Tanpa keyakinan akan ada kekuatan yang lebih besar dari jumlah tentara dan persenjata yaitu yakin akan keberadaan Tuhan. Keyakinan ini dituangkan pada Sila Pertama Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa

Pancasila merupakan dasar negara, fondasi kita dalam mengurus setiap tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia. Pancasila lahir dari para pemikir-pemikir bangsa dari berbagai suku dan agama. Ini adalah buah kesepakatan akan keutuhan bangsa, Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tapi tetap satu).

Panitia 9 BPUPKI

BPUPK (Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), membentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari Radjiman Wedyodiningrat (Ketua), Soekarno, Mohammad Hatta, Agus Salim,  KH. Wahid Hasyim, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakar, AA. Maramis, Achmad Subarjo, dan M. Yamin. Tugas dari Panitia Sembilan adalah perumusan dasar negara yang benar-benar tepat

Dalam beberapa kali sidang BPUPKI terjadi perdebatan-perdebatan hingga lahir kesepakatan yang ditanda-tangani oleh Panitia 9 tanggal 22 Juni 1945, yang memuat Pembukaan UUD dan Pancasila dituangkan dalam Piagam Jakarta

Piagam Jakarta

Panitia sembilan terdiri dari berbagai suku dan agama, mereka sepakat menetapkan Dasar Negara Indonesia, menerabas perbedaan yang menjadi penghalang penetapan Dasar Negara. 22 Juni 1945, ditanda-tangani Piagam Djakarta oleh Panitia 9 dan ditetapkan sebagai dasar negara.

Sumber : Wikipedia

Atas prakarsa Hatta, Kasman Singodimejo ditugaskan untuk membujuk dan melunakkan hati Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Umum Muhammadiyah saat itu) merupakan teman dekatnya. Tugas yang dibeban kan Hatta adalah meniadakan kata yang tercantum dalam Piagam Jakarta.

Saat KH. Hasyim Asyari (Pendiri NU- Nahdlatul Ulama mendengar kabar dari anaknya KH. Wahid Hasyim (Ayahanda Gusdur) yang juga sebagai salah anggota PPKI pulang ke Tebu Ireng, Jombang tentang polemik Piagam Jakarta

tentang Sila Pertama “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” (Republika Online – ROL, Tahajud Pendiri NU dan Dihapusnya 7 Kata Piagam Jakarta).

KH. Hasyim Asyari berkata :

“Tunggu nanti malam, saya shalat dulu, minta petunjuk dari Allah”. Pagi pun datang, Kiai Hasyim akhirnya menyampaikan sikapnya kepada sang anak. “Wahid, saya setuju (tujuh kata) dalam Piagam Jakarta dihilangkan, yang penting Indonesia kuat dulu, persatuan dan kesatuan kuat dulu

Tokoh NU dan Muhammadiyah memiliki tekad yang sama, memilih dasar negara yang melindungi segenap rakyat Indonesia tanpa memandang perbedaan suku, bahasa, dan agama. Semua yang menghalangi, disingkirkan dengan mohon petunjuk dari Allah SWT.

Bila para pejuang dan Pendiri bangsa memilih lima sila yang bisa menyatukan bangsa ini menjadi bangsa yang utuh.

Apakah Pancasila (Lima Sila Dasar) belum cukup sebagai sebuah dasar negara?

Selamat menikmati kebahagian di hari Senin, dan semoga hari-berikutnya tetap bahagia. Aamiin

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply