New Normal atau “Old” Normal?

Beberapa malam yang lalu, sempat berjalan-jalan seputaran RT tempat tinggal, ada orang yang berkumpul sambil bersenda gurau. Terlihat kondisi seperti tak ada wabah Pandemi Covid-19, mereka duduk-duduk, berbicara tanpa memperdulikan Physical Distancing, tanpa menggunakan masker, tak terlihat sedikitpun kekhawatiran akan terpapar Pandemi Covid-19.

Korea Selatan memiliki kebiasaan bali-bali (Bahasa Korea : 발리 발리), secara harfiah berarti “cepat-cepat” (lihat kamus Bahasa Indonesia -Korea). Kebiasaan ini sangat efektif menangani penyebaran Covid-19 (SARS-CoV-2).

Pemerintah Korea Selatan menangani wabah penyebaran virus Corona ini dengan baik. Negara ini melakukan uji tes virus Corona dengan sangat cepat, bahkan menjadi yang tercepat di dunia.

Dalam sebuah Wawancara Park Neunghoo (Menkes Korea Selatan) dengan CNN, Senin, 9 Maret 2020 (Wawancara bisa dilihat di https://edition.cnn.com/videos/world/2020/03/09/south-korea-coronavirus-park-neunghoo-hancocks-intv-sot-vpx.cnn), dia menjelaskan cepat-cepat dalam penanganan wabah Covid-19 :

  1. Pemerintah Korea Selatan menangani wabah penyebaran virus Corona ini dengan baik. Negara ini melakukan uji tes virus Corona dengan sangat cepat, bahkan menjadi yang tercepat di dunia (Baca : https://kesehatan.rmol.id/read/2020/03/10/424695/berhasil-turunkan-angka-kasus-virus-corona-menteri-kesehatan-korsel-perlahan-kami-berharap-bisa-melewati-puncak-wabah-itu)
  2. Korea Selatan memiliki komitmen “mendeteksi pasien secara dini sangat penting”. Korea Selatan menyediakan tes secara “drive-thru clinic” , fasilitas ini mempercepat dan memperluas jangkauan peserta tes. Korea Selatan melakukan tes massal dengan hampir semua fasilitas kesehatan, tidak kurang 19.000 orang per-hari. (Indonesia berpenduduk +/- 274 Juta orang per 19 Mei 2020, baru melakukan tes Covid-19 pada angka 10.000 orang/hari)
  3. Pemerintah Korea Selatan membuka informasi seluas-luasnya tentang masyarakat yang terpapar Covid-19, berbasis GPS sehingga orang-orang berada di lokasi paparan dengan kesadaran sendiri melakukan pemeriksaan dini. Ini sangat membantu pelacakan, sehingga seluruh tim yang terlibat dalam penanganan wabah Pandemi Covid-19 secara cepat-cepat teridentifikasi. Memudahkan petugas kesehatan dalam menangani korban, secara langsung mengurangi beban mereka.
  4. Penerapan Social Distancing secara ketat untuk 51 Juta orang, diawasi secara disiplin oleh semua aparatur pemerintahan di semua tingkat pemerintahan.

Maret, 2020, Korea Selatan melakukan Social Distancing secara ketat oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea ditangani oleh KCDC (Korea Centers for Disease Control and Prevention).

KCDC memiliki kewenangan yang luas, dapat mengoperasikan anggaran, personalia, dan organisasinya. (KBS World

Tanggal 6 Mei 2020, Korea Selatan melakukan pelonggaran kebijakan karantina wilayah, saat itu tercatat kasus yang terpapar Covid-19 sebanyak 10.808. Jumlah kasus baru berada dalam jumlah yang relatif melandai. Tingkat kesembuhan korban juga tinggi, semua tindakan ini berdasarkan data dan statistik. (Statistik Kasus Covid-19 di Korea Selatan bisa dilihat di Worldometers)

Senin, 11 Mei 2020, pemerintah Korea Selatan menemukan kasus baru di Itaewon :

Kasus baru tersebut muncul seiring ditemukannya kluster penyebaran baru di Korea Selatan, yakni Itaewon. Hal ini sontak membuat Korea Selatan kini mengantisipasi gelombang kedua virus corona.Ironisnya gelombang kedua ini terjadi hanya satu minggu setelah pemerintah Korea Selatan melonggarkan kebijakan karantina wilayah dan tinggal di rumah yang sebelumnya diberlakukan sejak bulan Maret. ( Sumber : GridHealth )

Tanggal 29 Mei 2020, Menteri Kesehatan Korea Selatan kembali menerapkan pengetatan setelah “New Normal” dianggap gagal.

Korea Selatan kembali menerapkan sejumlah tindakan pembatasan sosial di ibukota Seoul setelah terjadinya lonjakan terbaru kasus infeksi virus corona. (Kompas)

New Normal atau “Old” Normal?

Akhir Mei 2020, pemerintah menggulirkan wacana New Normal.

Liputan6 dalam Video 1 menit 26 detik mengulas tentang : Wacana New Normal Pandemi Covid-19 Versi Pemerintah (lihat videonya di Liputan6)

Wacana ini menuai kritikan dari berbagai para ahli kesehatan :

IDI Nilai New Normal Tidak Tepat Diterapkan dalam Waktu Dekat (Okezone)

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menilai langkah pemerintah pusat mewacanakan new normal di tengah kasus positif Covid-19 meningkat tidak tepat. Seharusnya, pemerintah pusat tetap menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara menyeluruh dan ketat. (Liputan6)

Pemerintah “berkilah” wacana New Normal belum keputusan merupakan keputusan Pemerintah,

New Normal masih wacana jangan di ributkan – Kemenkes (Merdeka)

New Normal baru wacana bukan keputusan pemerintah – Mahfud MD, Menko Polhukam (CNN)

Presiden Jokowi dalam video yang diunggah CNBC Indonesia yang bertajuk New Normal : Presiden ajak beradaptasi dengan Covid-19 mengatakan :

Dan situasi seperti ini akan kita hadapi terus sampai vaksin bisa ditemukan – Presiden Jokowi

Badan Kesehatan Dunia, WHO, dalam rilisnya menjelaskan syarat dan kondisi dalam menerapkan New Normal, Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P. Kluge, menyampaikan beberapa kriteria (dari berbagai sumber) :

  1. Negara harus membuktikan bahwa transmisi Covid-19 telah dikendalikan. (CNN Indonesia).
  2. Kapasitas sistem kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit memadai untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak dan mengkarantina pasien.(TirtoId)
  3. Wabah virus corona harus ditekan untuk wilayah atau tempat dengan kerentanan yang tinggi. Utamanya adalah di panti wreda, fasilitas kesehatan mental, serta kawasan pemukiman yang padat. (Republika)
  4. Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja mulai ditetapkan seperti jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, dan etika pernapasan (CNN Indonesia)
  5. Pelonggaran pembatasan, menurut WHO, harus dilakukan secara bertahap dan otoritas terkait diminta terus mengevaluasi kebijakannya. (Warta Ekonomi)
  6. Masyarakat harus diberikan kesempatan untuk memberi masukan, berpendapat dan dilibatkan dalam proses masa transisi menuju new normal (Republika)

Data terakhir dari Pemerintah saat pertanggal 15 Juni 2020 :

  1. Kasus, 32.294
  2. Dirawat, 21.973
  3. Meninggal, 2.198
  4. Sembuh, 15.123

Akankah kita mengambil hikmah dari Korea Selatan? Atau mengambil tindakan sendiri ala Indonesia“. Wallahu A’lam.

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply