Muslim Perkotaan: Antara Gairah Agama & Keterbatasan Ilmu

Muslim perkotaan barangkali bukan istilah yang baku, sehingga pengertiannya boleh jadi tidak seragam. Penulis punya diskripsi tersendiri yang mungkin pembaca sepakat atau pun juga tidak sepakat. Namun bagi penulis, muslim perkotaan adalah sebuah fenomena yang unik. Dalam pandangan penulis, fenomena muslim perkotaan adalah anomali dari apa anggapan kita selama ini. Dikatakan anomali karena fenomenanya memang seperti terbalik dari yang umumnya. Biasanya gairah dan semangat berislam itu lebih terasa di kampung halaman atau di wilayah pedesaan. Perkotaan pada umumnya merupakan bukan tempat subur dalam beragama, cenderung lebih sering dikenal sebagai tempat maksiat, banyak kemunafikan dan jauh dari nilai-nilai agama.

Ternyata yang terjadi pada fenomena muslim perkotaan justru sebaliknya. Setidaknya fenomena ini penulis rasakan sejak 20 hingga 30-an tahun terakhir. Entah ini pandangan subjektif atau naif, namun penulis merasakan justru di masa sekarang ini mereka yang punya semangat beragama justru mereka yang berdomisili di perkotaan. Sebaliknya di pedesaan gairah keislaman sudah meredup meninggalkan sisa-sisa masa kejayaan.

Fenomena Mie Instan

Fenomena mie instan adalah fenomena dimana makanan itu hanya kelihatannya saja menarik dengan bermacam rasa dan aroma, serasa makan makanan enak dan bergizi. Namun dalam kenyataannya, makanan itu sama sekali tidak mengandung gizi. Yang makan tertipu dengan gambar pada kemasannya yang kelihatan sangat eksentrik.

Tontonan dan Show

Kajian agama di kalangan muslim perkotaan lebih sering dikemas dalam bentuk tontonan dan pertunjukan (show). Sebuah pertunjukan selalu mengutamakan aksi di atas panggung dan dipenuhi oleh para penonton. Tolok ukur kesuksesannya adalah sebarapa termasyhur nara sumbernya dan seberapa banyak hadirin yang memenuhi area pertunjukan. Oleh karena itulah maka kita akan selalu melihat para artis tidak pernah ketinggalan untuk dihadirkan di setiap pertunjukan pengajian. Sebab massa yang hadir memang berniat ingin bertemu dan melihat langsung artis-artis pujaan hatinya. Syukur kalau bisa tampil berfoto sefli dengan para artis itu.

Sedangkan konten materi kajian biasanya tidak terlalu penting lagi untuk dipermasalahkan. Justru kalau materinya agak berat dan serius, kasihan jamaahnya yang awam dan tidak paham. Mereka akan mengantuk dan tertidur pulas. Maka desain awalnya pastilah berupa panggung tabligh yang banyak didominasi dengan orasi, lawakan segar, yel-yel penyemangat dan narasi kosong tanpa makna.

Baca selengkapnya, download klik di sini.

Judul: Muslim Perkotaan: Antara Gairah Agama & Keterbatasan Ilmu
Penulis: Ahmad Sarwat, Lc.,MA
Terbit: 25 Desember 2019
Penerbit: Rumah Fiqih Publishing
Halaman: 54
Legalitas: Waqaf/Gratis

Baca juga:

Berilmu sebelum Berhutang
Mengaji kepada ustadz Google
Muslimah Zaman Now

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply