Menghapus Dosa Dengan Dzikir

Wahai kaum muslimin, jauhilah maksiat karena maksiat mengantarkan kepada kekufuran, menjadi faktor hilangnya nikmat, pembawa malapetaka, mengurangi usia, dan mencabut keberkahan rezeki. Seorang hamba akan terhalang rezekinya akibat dosa yang diperbuat. Maksiat menyebabkan hati menjadi gelap dan keras, terhalang meraih cahaya ilmu dan titian petunjuk, serta menjerumuskan pelakunya kepada kemaksiatan lain.

Sebagian ulama salaf berkata, “Sesungguhnya bentuk hukuman sebuah kemaksiatan adalah kemaksiatan berikutnya. Kemaksiatan akan membuat pelakunya kecanduan, membuat sulit melakukan ibadah setelah itu, hingga ia terbiasa dengan kemaksiatan dan menjustifikasinya. Bahkan ia melakukan maksiat meskipun tahu hukum dan dampaknya yang berbahaya. Dia tidak merasakan kenikmatan dalam perbuatan maksiatnya, tetapi karena hobi dan kebiasaan.

Demikian pula halnya dengan orang yang melalaikan shalat, kecanduan minuman keras dan narkoba, memakan harta riba, orang-orang yang selalu mencukur jenggot, wanita yang berlebihan memakai perhiasan, dan wanita yang memakai pakaian tidak senonoh. Mereka semua menganggap perbuatannya itu baik dan melupakan dampak akhirnya. Allah s.w.t. berfirman,

“Maka apakah orang yang dijadikan menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Al-Fathir: 8)

Di antara dampak maksiat yang paling berbahaya adalah dicabutnya rasa malu sehingga berani melakukan maksiat secara transparan, dan mengumumkannya dihadapan semua orang. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Setiap (kesalahan) umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan. Di antara bentuk keterbukaan adalah seseorang melakukan amal perbuatan di malam hari, kemudian Allah s.w.t. menutupinya di pagi hari, namun ia berkata, “Wahai fulan! Tadi malam aku melakukan ini dan ini. Sungguh, di malam hari Tuhannya telah menutupi kesalahannya, namun di pagi hari ia menyingkap tabir Allah terhadapnya.” (HR.  Muttafaq ‘Alaih)

Terdapat orang yang bangga dengan kemaksiatannya dan memandang bahwa maksiat baginya adalah wajib, sehingga ia senantiasa berbuat dosa berulang kali hingga maksiat menjadi ringan baginya dan berbuat dosa terasa kecil dalam hatinya. Itulah tanda-tanda matinya hati dan rusaknya fithrah. Karena tatkala dosa terasa kecil bagi pelakunya, sesungguhnya ia besar di sisi Allah s.w.t. Mengabaikan maksiat juga termasuk tanda dan bukti kemunafikan. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata,

“Sesungguhnya orang yang berbuat dosa besar senantiasa memandang dosa-dosanya seperti ia memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, maka ia mengatakan, ‘Hanya seperti ini.’”

Mengabaikan dan memandang ringan suatu dosa merupakan indikasi pengakuan terhadap kemaksiatan yang Allah s.w.t. jadikan sebagai salah satu penghalang ampunan dosa, kehancuran hati dan dicap dengan kelalaian.

Keutamaan Dzikir

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari-Ku.” (Al-Baqarah: 152)

Jika anda mengucapkan Laa ilaaha illallah, niscaya Allah akan mengingat nama anda. Oleh karena itu, salah seorang sahabat berkata, “Aku tahu kapan Tuhanku ingat kepadaku.” Lalu ia ditanya, “Kapan itu?” ia menjawab, “Tatkala aku menyebut nama-Nya. Dia berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu.”

Demikianlah, menjalin keharmonisan dengan Allah amatlah mudah, tanpa kesulitan dan beban.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’du: 28)

Di antara faedah dzikir adalah memperoleh ketenangan dan ketentraman hati. Dalam dzikir terdapat pengobatan bagi orang-orang yang merasa gelisah, mengalami kepedihan hidup dan berpaling dari dokter psikologi. Sesungguhnya manusia merasakan kegelisahan karena sedikitnya dzikir mereka dan berpaling dari Allah s.w.t.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (Thaha: 124)

Dzikir mampu menetralisir berbagai problematika dan melapangkan segala beban jiwa. Sebaliknya, kelalaian dari dzikir membuahkan kegelisahan, kegundahan, kesulitan dan penguasaan setan terhadap diri.

Download ebooknya, KLIK di SINI – Menghapus Dosa dengan  Dzikir

===

Judul Asli: Adz-Dzikr Yamhu adz-Dzunub
Penulis: Amru Khalid
Penerbit: Daurur Raudhah
Editor & Layout : Kaunee Creative Team
Edisi Terbit : Pertama, Februari 2008
Penerjemah: Subhan Nur
PT. Kuwais International
Jl. Bambu Wulung No. 10, Bambu Apus
Cipayung, Jakarta Timur 13890

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply