Mengajak kepada Petunjuk: Amar Makruf Nahi Munkar

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa (siksa) seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” | HR Muslim, dishahihkan Al-Albani dalam Misykâtul Mashâbîh (158), Abu Dawud (4609), Al-Albani berkata, “Shahih.” At-Timidzi (2674), ia berkata, “Hadits hasan shahih,” dan Al-Albani berkata, “Shahih.” An-Nasa‘i (2554), Al-Albani berkata, “Shahih.”

Di Bawah Naungan Wasiat

Islam dengan sendirinya telah menjanjikan dan menjadikan kebaikan sebagai satu jalan menuju kekokohannya. Ia juga menjanjikan kepada orang yang menjaga kesatuannya dengan pahala dan balasan serta mengancam orang yang bertujuan mengadakan perpecahan dengan siksa dan hukuman.

Di dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ memberikan dorongan kepada kita untuk mengajak manusia kepada petunjuk dan tidak mengajak kepada kesesatan. Beliau Rasulullah ﷺ juga menjelaskan, siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka balasan dan pahalanya seperti pahala orang yang ia ajak hingga hari kiamat. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa (siksa) seperti dosa-dosa orang yang ia ajak hingga hari kiamat dan hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk Mengajak kepada petunjuk dan kebaikan ialah sebuah kalimat yang komprehensif. Ia mencakup setiap kemuliaan yang ada, seperti tolong-menolong dalam kebaikan dan berpegang teguh dengan akhlak yang mulia. Sebagaimana ia juga mencakup perbuatan menghilangkan kemungkaran, pemberantasan bid‘ah, dan tolong-menolong dalam menghancurkan tempat-tempat kekejian. Mengajak kepada hal yang makruf serta kebaikan dan petunjuk merupakan salah satu syi‘ar-syi‘ar Islam. Sebab, ia mempersiapkan sebuah masyarakat yang bersatu dan kokoh. Allah berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Âli-Imrân: 110).

Menyuruh kebaikan dan mengajak kepada petunjuk serta mencegah kemungkaran dan tidak menyesatkan merupakan tuntutan dan perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Âli-Imrân: 104).

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga telah memerintahkan kita untuk menyuruh kepada kebaikan dan mengajak kepada petunjuk serta mengubah dan menghilangkan kemungkaran dengan cara apa pun (namun sesuai syariat—pnj). Dari Abu Sa‘id Al-Khudri RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman’.” | HR Muslim (49), dishahihkan Al-Albani dalam Misykâtul Mashâbîh (5137), HR Ibnu Majah (4013), Al-Albani berkata, “Shahih.”

Diriwayatkan pula oleh Ummul Mukminin, Ummu Salamah Hindun binti Abi Ummayah (namanya ialah Hudzaifah) RA, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

“Sungguh, (nanti ) kalian akan dipimpin oleh para penguasa yang kalian ketahui beberapa perbuatan mereka (yang sesuai syariat) dan mengingkari (perbuatan) mereka yang menyelisihi. Barangsiapa yang membencinya, maka ia telah berlepas diri dan barangsiapa yang mengingkarinya maka ia telah selamat. Namun (dosa) itu bagi orang yang ridha dan mengikutinya. Para shahabat bertanya, ‘Tidak bolehkah kami memerangi mereka?’ Nabi menjawab, ‘Tidak, selama mereka masih melaksanakan shalat’.”

Maknanya, barangsiapa yang membenci dengan hatinya namun tidak mampu mengingkari dengan tangan dan lisannya, ia telah terlepas dari dosa dan telah menunaikan tugasnya. Barangsiapa yang menjalankannya sesuai dengan kekuatannya, ia telah selamat dari maksiat ini. Namun, barangsiapa yang ridha dengan perbuatan mereka dan mengikuti mereka, ia adalah orang yang bermaksiat. Sudah seharusnya seseorang yang hendak mengajak kepada petunjuk, ia berhias dan menyifati dirinya dengan petunjuk tersebut serta memaksa dirinya berjalan menuju kepadanya, hingga dakwahnya memiliki pengaruh yang benar. Di samping itu, hendaknya pula ia bersikap lemah-lembut dalam berdakwah serta bijaksana dalam menyampaikannya. Allah SWT berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125).

Jika Anda mengajak kepada petunjuk, wajib bagi Anda menyifati diri dengan apa yang Anda ucapkan dan perintahkan.

Demikianlah yang diperintahkan Rasulullah ﷺ kepada kita. Jika tidak, maka Anda termasuk orang-orang munafik yang mengatakan sesuatu namun tidak berbuat. Apa balasan mengajak kepada petunjuk? Sesungguhnya, manfaat yang besar dan sesuatu yang berharga sebagai hasil dakwah menuju kebaikan serta kebahagiaan agung yang diperoleh suatu masyarakat karena mereka mengetahui tujuannya yang benar ialah pahala dan ganjaran yang besar bagi orang yang melakukan dan menjalaninya. Yakni, akan ditulis untuknya pahala yang sama dengan pahala orang yang mengerjakan kebaikan yang diserukannya tanpa mengurangi pahala orang-orang yang mengerjakan sedikit pun. Islam telah menjadikan (amalan) memberikan petunjuk kepada manusia termasuk sebaik-baik amalan dan yang lebih dekat kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.” (Fushshilat: 33).

Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan…

Mengajak kepada kesesatan itu mencakup seluruh jenis-jenis kejelekan, kejahatan, penyelewengan dan kemaksiatan, serta hal yang tidak diridhai Allah SWT. Berbuat kejahatan dan memberi dorongan untuk mengerjakannya, menyebarkan buku-buku dan makalah yang mempropagandakan kerusakan serta kejahatan, merusak ketentraman masyarakat dan memecah belah barisan umat, semua ini dan hal yang semisal bisa dikategorikan sebagai kesesatan.

Tak diragukan lagi, siapa yang mengajak kepada kesesatan dan pelanggaran, tak memiliki tujuan kecuali menghancurkan dan memecah belah umat serta melemparkannya ke jurang kehinaan dan keburukan hingga ia menjadi makanan yang lezat bagi musuh-musuhnya, wajib bagi Anda dan setiap orang yang menisbatkan kepada agama yang lurus untuk berdiri satu barisan dalam menghadapinya. Jika Anda tak mengerjakannya, ketahuilah kerusakan dan malapetaka telah menyebar di kalangan umat Islam serta kekacauan telah merajalela. Sehingga, umat ini pun diliputi dengan kehancuran, kerusakan, dan kemerosotan harga diri.

Hukuman bagi orang yang mengajak kepada kesesatan

Dikarenakan ajakan kepada kesesatan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat muslim, maka penyerunya akan memperoleh hukuman sebagaimana hukuman orang yang mengikuti kesesatannya hingga hari kiamat tanpa mengurangi dosa-dosa orang yang mengikutinya sedikit pun. Sebab, kesesatan mereka tersebut merupakan salah satu hasil dari apa yang dilakukan penyeru kesesatan.

Karena itu, kita wajib untuk tidak menyambut ajakan orang-orang yang menyesatkan dan berbuat kerusakan. Alasan kita bahwa kita tidak tahu dan tertipu, hal itu tak akan bermanfaat bagi diri kita. Sebab, kita wajib menjadi orang-orang yang berakal dan berpikir dengan menggunakan akal yang telah diamanahkan Allah.

Pelajaran dari wasiat

  • Mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari kemungkaran.
  • Mengajak kepada kebaikan pahalanya dilipatgandakan dan mengajak kepada kesesatan hukumannya lebih dilipatgandakan lagi.
  • Setiap muslim wajib menyambut setiap ajakan kebaikan dan petunjuk serta menjauhi setiap ajakan yang mengandung kerusakan dan kesesatan.

Wallahu a’alaam []

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply