Mencegah Kemungkaran dengan Adzan

Hakim At-Tanukhi menuturkan sebuah kisah yang dia dengar dari Abu Al-Hasan Muhammad bin Abd Al-Wahid Al-Hasyimi tentang seorang pedagang. Aku adalah seorang pedagang yang memiliki banyak piutang pada beberapa pemimpin di Baghdad. Namun, setiap kali ditagih, mereka terus menunda pembayarannya atau bahkan mengingkari dan meremehkannya. Aku memutuskan untuk mengadukan perkara ini kepada khalifah, karena meskipun sudah mengadu kepada menteri Ubaidillah bin Sulaiman, piutangku tetap sulit ditagih.

Sampai kemudian salah seorang temanku bersedia membantuku untuk mengambil hakku tanpa perlu mengadu kepada khalifah. “Ikutlah bersamaku,” katanya. Aku pun mengikutinya pergi ke seorang penjahit yang biasa menjahit di pasar Tsulatsa. Setelah penjahit itu selesai membaca al-Qur’an di masjid, temanku menceritakan kepadanya tentang masalahku, kemudian kami bertiga melanjutkan perjalanan. Ketika sedang berjalan, aku agak mundur ke belakang dan berkata kepada temanku, “Aku telah peringatkan orang tua ini bahwa kita sangat dibenci.”

Kami tiba di pintu rumah seseorang dan dia menyambut dengan tangan terbuka. Aku bingung, karena aku tahu para penghuni rumah ini tidak peduli kepada orang lain, bahkan mereka tidak patuh kepada perintah seorang menteri, bagaimana mungkin orang tua ini mendapat perhatian sedemikian besar? Si penjahit itu hanya tertawa dan berkata, “Sudahlah jangan banyak tanya, jalan saja terus.”

Sampailah kami di pintu rumah seorang pembesar. Ketika para pembantu pembesar itu mengetahui kedatangan si penjahit, mereka menunjukkan rasa ta’dzim dan berebut untuk mencium tangannya, tetapi si penjahit menolak. Para pemuda itu lalu berkata, “Wahai Syaikh, ada apa gerangan? Tuan kami sedang pergi, jika kamu ada keperluan yang dapat kami penuhi, katakanlah segera. Tetapi jika tidak, maka silahkan masuk dan duduklah bersama kami sampai tuan kami datang.”

Aku memendam keherananku dan kami pun masuk lalu duduk. Tak lama berselang, si pembesar tiba. Ketika berjumpa dengan Syaikh, pembesar itu tampak sangat menghormatinya. Pembesar itu berkata, “Aku tidak melepas pakaianku atau engkau akan memintaku berbuat sesuatu.”

Si Penjahit lalu menyampaikan masalahku. Si Pembesar menjawab, “Tapi demi Allah, aku hanya memiliki 5000 dirham dari jumlah yang kamu minta. Serahkanlah uang itu kepadanya sebagai jaminan, adapun sisa hutangku akan segera aku lunasi.”

Pembesar itu kemudian mengeluarkan uang dirham dan perhiasan yang senilai dengan sisa hutangnya dan memberikannya kepadaku. Kemudian aku memintanya dengan disaksikan temanku untuk membuat perjanjian bahwa jaminan ini berlaku sampai waktu tertentu. Jika sampai waktu yang ditentukan dia tidak dapat melunasi hutangnya, maka aku boleh menjual barang jaminan itu dan mengambil hasil penjualannya sebagai pembayaran hutangnya. Pembesar itu menyetujui permintaanku, kami pun keluar dan pulang.

Sesampainya kami di masjid si penjahit, aku berkata padanya, “Allah telah mengembalikan harta ini kepadaku atas bantuanmu, maka kuharap kamu mau mengambil sebagian.” Dia menjawab, “Betapa cepat kamu mengganti perbuatan baikku dengan perbuatan buruk, pergilah, semoga Allah memberkahimu dengan hartamu itu.”

“Tapi aku memerlukan sesuatu darimu,” kataku. “Katakanlah,” jawabnya. “Beritahu aku mengapa mereka begitu patuh kepadamu, padahal mereka selalu meremehkan para pejabat negeri ini,” tanyaku. “Aku tahu maksudmu, tapi janganlah kamu ganggu pekerjaanku dan kehidupanku,” demikian jawabnya.

***

Namun, aku terus merajuk kepadanya. Akhirnya dia berkata, “Sejak dulu aku biasa shalat berjamaah dengan orang-orang di masjid ini, aku membaca al-Qur’an sejak empat puluh tahun lalu. Mata pencaharianku adalah dengan menjadi penjahit, sebab aku tidak dapat mengerjakan pekerjaan selain itu.

Beberapa tahun yang lampau, ketika aku berjalan menuju masjid untuk shalat maghrib, aku melihat seorang Turki yang tinggal di sini sedang menarik perempuan yang sedang lewat dan memaksanya masuk ke rumahnya. Perempuan itu menolak dan meminta tolong. Sesungguhnya suamiku akan menceraikanku, dan melarangku tidur di luar rumah, jika dia menjumpaiku seperti ini, dia akan merobohkan rumahku bersama perbuatan bejatmu itu.’

Aku segera menolong perempuan itu dan meminta kepada si Turki untuk meninggalkannya, tetapi dia malah memukulku dengan menusuk benda tajam yang dia pegang, dia juga menikam dan memukuliku. Setelah aku tak berdaya, dia menyeret perempuan itu ke dalam rumahnya, sementara aku pulang untuk membersihkan darah di tubuhku. Lukaku dibalut dan aku istirahat sejenak. Ketika tiba waktu isya’, aku kembali pergi untuk shalat.

Seusai shalat aku berkata kepada orang-orang di masjid, ‘Ayo kita serbu musuh Allah, si Turki itu, jangan kita menyerah sampai kita berhasil mengeluarkan perempuan tadi dari dalam rumah itu.

Mereka menuruti ajakanku, kami pun segera menggedor pintu rumahnya. Dari dalam keluar beberapa pemuda dan kami segera saling baku hantam. Pemuda-pemuda itu terus mengincarku, sampai akhirnya salah seorang dari mereka berhasil memukulku dengan kuat sampai aku hampir mati karenanya. Seperti orang mati, aku dibawa para tetanggaku ke rumah. Keluargaku mengobati lukaku dan aku tidur beberapa saat.

Tepat tengah malam aku terbangun, aku menjadi susah tidur disebabkan sakit yang kurasakan dan karena aku masih memikirkan kejadian tadi. Aku berpikir pastilah si Turki akan mabuk sepanjang malam dan tidak akan menyadari jam berapa sekarang. Jika saat ini aku mengumandangkan adzan, pasti dia akan menganggap bahwa hari telah fajar, dan dia akan membebaskan perempuan yang disekapnya, sehingga perempuan itu akan dapat kembali ke rumah sebelum fajar dengan selamat.

Dengan susah payah aku berangkat ke masjid, aku menaiki menara masjid lalu aku kumandangkan adzan. Setelah itu, aku duduk di atas menara untuk melihat kalau-kalau perempuan itu sudah dibebaskan, dan jika ia tak kunjung dibebaskan, aku akan berteriak mengumandangkan iqamah, supaya si Turki mengira bahwa hari telah benar-benar pagi dan segera membebaskan perempuan tadi.

Beberapa saat berlalu, perempuan itu masih di dalam rumah si Turki. Tiba-tiba kulihat jalan dipenuhi orang-orang berkuda yang membawa obor. Mereka menanyakan tentang siapa yang berani mengumandangkan adzan di tengah malam seperti ini. Aku takut bukan kepalang dan beringsut tak berani berkata apa-apa.

Tetapi, kemudian aku berpikir, kalau aku dapat meminta pertolongan mereka untuk membebaskan perempuan itu, maka aku berteriak dari atas menara, ‘Aku yang mengumandangkan adzan.’ Mereka berteriak kepadaku, ‘Apa yang kamu lakukan, turunlah, menghadaplah kepada Amirul Mukminin.

Aku turun. Di bawah aku telah ditunggu Badar dan beberapa pemuda, mereka membawaku menghadap Amirul Mukminin. Ketika berhadapan dengan khalifah, aku merasa takut. Setelah menghormat padanya, baginda mempersilahkanku duduk.

Baginda berkata, ‘Mengapa kamu mengagetkan orang dengan mengumandangkan adzan sebelum waktunya?Sampai orang keluar dari rumah lebih awal, orang-orang yang akan berpuasa memulai puasanya padahal waktu imsak belum tiba, dan para penjaga malam yang sedang meronda pun berhenti berkeliling.’

‘Apakah Amirul Mukminin akan mempercayaiku jika aku katakan yang sebenarnya?’ tanyaku pada baginda.

‘Baik, aku akan percaya,’ ujarnya.

Aku kemudian menceritakan tentang kelakuan si Turki dan tak lupa kutunjukkan pula bekas lukaku sebagai bukti. Seusai mendengar penuturanku, baginda berkata kepada Badar, ‘Wahai Badar, bawa orang itu dan perempuan yang disekapnya ke hadapanku.’

Aku bersembunyi di suatu tempat, lalu Badar datang membawa si Turki dan perempuan yang disekap. Khalifah lalu bertanya kepada perempuan tentang kebenaran ceritaku, perempuan itu lalu menuturkan hal yang sama dengan yang aku katakan. Khalifah kemudian berkata kepada Badar, ‘Bawalah dia segera kepada suaminya, pastikan dia masuk rumahnya untuk menceritakan kepada suaminya kejadian yang dialaminya, sampaikan pada suaminya untuk tidak menceraikan perempuan ini dan katakan kepadanya untuk berbuat baik pada istrinya.’

Khalifah memanggilku dan aku berdiri mendengarkan ketika baginda bertanya kepada di Turki, ‘Berapa banyak simpanan makananmu?’ ujar baginda. ‘Sekian, sekian,’ jawab si Turki.

‘Berapa banyak pemberianmu?’ ujar baginda lagi – ‘Sekian, sekian,’ jawabnya.

‘Berapa banyak koneksi?’ tanya baginda. – ‘Sekian, sekian,’ jawabnya.

‘Berapa banyak budak perempuan yang kamu miliki?’ tanya baginda. – Si Turki kemudian menyebutkan jumlahnya.

‘Lalu, apakah dengan semua itu berikut segala nikmat yang kamu terima, kamu berani melakukan maksiat kepada Allah Swt dan merongrong wibawa Sultan? Kamu melanggar aturan yang ditetapkan oleh Dzat yang menyuruhmu untuk berbuat baik?’ ujar khalifah. Si Turki hanya diam seribu bahasa.

Khalifah lalu berkata, ‘Kumpulkan Jaulaq (tumbuhan berduri) dan ambilkan alat penumbuk batu kapur, lalu masukkan penjahat ini ke dalamnya.’ Si Turki kemudian dimasukkan ke dalamnya, lalu baginda berkata kepada para Farasy, ‘Pukuli dia,’ mereka pun memukulinya.

Aku mendengar jeritan si Turki yang dipukuli di dalam Jaulaq sampai ia mati. Mayatnya kemudian dibuang di sungai Tigris. Khalifah lalu memerintahkan Badar untuk menyita semua barang yang ada di rumahnya.

Khalifah kemudian berkata kepadaku, ‘Wahai syaikh, apapun bentuk kemungkaran yang kau temukan, besar atau kecil, atau apapun kesalahan seseorang yang terlihat olehmu lalu kamu memperingatkan pelakunya, tapi dia justru melawanmu, walaupun pelakunya adalah dia (Sultan menunjuk Badar) sekalipun, maka kumandangkanlah adzan seperti yang kau lakukan saat ini. Aku akan mendengar adzanmu dan akan aku hukum orang yang melawanmu seperti yang kulakukan terhadap si Turki tadi.’

Setelah berdoa untuk khalifah, aku pergi meninggalkan tempat itu. Tak perlu waktu lama, berita tentang titah khalifah sudah tersebar ke seluruh kalangan di seantero negeri. Dan sejak saat itu, tidak ada seorang pun yang melakukan suatu kesalahan berani membantah jika ku tegur, karena mereka takut kepada khalifah, dan takut kalau aku akan mengumandangkan adzan seperti yang pernah aku lakukan dahulu. []

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply