Khitan (Disunat) bagi Wanita, Haruskah?

Umumnya para ulama menyebutkan bahwa khitan atau sunat itu hukumnya wajib laki-laki muslim. Sampai jadi omongan di tengah masyarakat bahwa batasan muslim atau belum muslim itu selain syahadat adalah sunat alias khitan.

Biasanya khitan ini sudah diterapkan sejak usia belum baligh atau mumayyiz, khususnya kepada anak laki-laki. Mereka yang sudah dikhitan akan merasa bangga di depan teman-temannya karena sudah dikhitan. Dan pada sebagian masyarakat, sunat atau khitan itu malah dijadikan hari besar, dirayakan bahkan diadakah perjamuan makan dan pesta. Si anak yang dikhitan itu diperlakukan ibarat pengantin, kadang diarak keliling desa. Malah sebagiannya menyebut dengan istilah ‘pengantin sunat’.

Lalu bagaimana dengan khitan bagi anak perempuan? Apakah hukumnya wajib juga sebagaimana khitan untuk anak laki-laki?

Secara terminologis istilah khitan berarti:Jika khitan pada anak laki-laki adalah menyunnat kulup dari batang dzakar (penis), maka tindakan khitan pada anak perempuan adalah menyunnat bagian ‘clitoral hood’. Clitoral Hood atau disebut juga preputium clitoridis and clitoral prepuce adalah lipatan kulit yang mengelilingi dan melindungi clitoral glans [batang klitoris]. Berkembang sebagai bagian dari labia minora dan merupakan homolog dari kulup penis [biasa disebut preputium] pada kelamin laki-laki.

“(Sunnah) fitrah itu ada lima, berkhitan, mencukur rambut sekitar kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Khitan dalam hadits diatas berlaku umum bagi laki-laki dan wanita. Sebab dalam beberapa hadits lain, Rasulullah menyebutkan perintah khitan bagi wanita. Bahkan beliau SAW juga menyampaikan tehnik pelaksanaannya sebagaimana dalam hadits berikut:

“Jangan berlebihan dalam memotong, karena hal itu menjadi hal yang baik (memberi keuntungan) untuk wanita dan lebih disukai suaminya.” (HR. Abu Dawud).

Khitan Wanita Dalam Tinjauan Medis Banyak orang tua mengeluh karena rumah sakit yang mereka kunjungi tidak menyediakan jasa sunnat buat anak perempuan. Konon beberapa rumah sakit tertentu memang menolak jasa tersebut karena dilarang oleh WHO (World Health Organization). Benarkah demikian?

Khitan Perempuan Versi WHO

.Dr. Vallery Sp.OG yang menjadi narasumber dari sisi medis menjelaskan bahwa khitan perempuan dari sudut pandang WHO berbeda dengan tatacara sunnat perempuan yang diatur dalam syariat Islam.

Adapun sunnat perempuan dalam pandangan WHO ada 4 tipe, yakni:

  • Tipe pertama, khitan dilakukan dengan cara mengangkat sebagian atau seluruh klitoris perempuan. Termasuk pengangkatan preputium (kulit di sekitar klitoris) dan dalam dunia kedokteran disebut klitoridektomi.
  • Tipe kedua, eksisi yang dilakukan dengan cara mengangkat sebagian atau seluruh klitoris dan labia minora yang merupakan kulit tipis seperti lidah yang berada di sekeliling vagina dengan atau tanpa eksisi dari labia majora.
  • Tipe ketiga, khitan dilakukan dengan cara menjahit labia menjadi satu dengan tujuan membuat lubang vagina menjadi lebih kecil. Tindakan ini dalam dunia kedokteran disebut sebagai infibulation. Dengan atau tanpa melakukan pemotongan pada klitoris.
  • Tipe keempat, diklasifikasikan sebagai semua tindakan yang dilakukan pada bagian luar alat kelamin perempuan (vulva), untuk tujuan non-medis baik dengan cara menusuk, melubangi, menggores, atau pemotongan daerah genital.

Jika melihat dari 4 tipe di atas, wajar jika WHO melarang tindakan khitan perempuan. Sebab sunnat perempuan versi mereka membahayakan bagi manusia, khususnya anak perempuan. Unsur berbahaya tersebut disebut dengan Female Genital Mutilation (FGM), yakni menghilangkan secara total atau sebagian dari organ genitalia eksterna wanita.

Tindakan Medis Sunnat Perempuan Dalam Islam

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr. Valleria, Sp.OG menambahkan penjelasannya dalam seminar tersebut bahwa khitan di Indonesia berbeda dengan tindakan Female Genital Mutilation (FGM). Khitan perempuan dalam Islam dilakukan dengan cara menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris tanpa sedikitpun melukai klitoris. Jadi tindakan ini sama sekali tidak merusak atau menghilangkan bagian eksterna genital perempuan. Secara teknis, penorehan tudung klitoris dilakukan menggunakan needle khusus. Karena umumnya dilakukan pada usia kurang dari 5 tahun, dengan anatomi tudung klitoris yang masih sangat tipis dan belum banyak dilalui pembuluh darah serta saraf. Tindakan ini sangat minim pendarahan dan rasa sakit.

Hikmah & Manfaat Khitan Bagi Wanita

Setiap aturan dalam syariat Islam tentu memiliki hikmah dan manfaat di dalamnya. Ada banyak hikmah dan manfaat bagi anak perempuan yang dikhitan, antara lain:

  1. Bukti Cinta dan Taat Pada Allah dan Rasul
  2. Menceriakan Wajah Wanita
  3. Menyenangkan Suami
  4. Memuliakan & Menyeimbangkan Syahwat Wanita
  5. Menyehatkan Organ Genital & Saluran Kandungan Wanita

Al-Qarafi, salah satu ulama dalam madzhab Maliki mengatakan:

“Khitan hukumnya sunnah bagi laki-laki, sedangkan bagi wanita adalah bentuk pemuliaan baginya. [Adz-Dzakhirah, jilid 4, hal 167]

Ibnu Qayyim mengatakan,

“Di antara faedah khitan adalah menyeimbangkan gairah seks wanita. Tidak diingkari bahwa pemotongan ujung kulit ini (yakni khitan wanita) menjadi tanda penghambaan pelakukanya kepada Allah. Agar manusia tahu bahwa orang yang seperti itu termasuk hamba-hamba Allah yang lurus. Maka, khitan menjadi tanda penisbatan ini, yang tidak ada penisbatan lebih mulia darinya. Selain itu, ia juga mengandung kebersihan, kesucian, keindahan dan penyeimbangan syahwat bagi wanita.”

Baca selengkapnya, download klik di sini.

Judul: Khitan Bagi Wanita, Haruskah?
Penulis: Aini Aryani, Lc
Terbit: 21 Oktober 2018
Penerbit: Rumah Fiqih Publishing
Halaman: 36
Legalitas: Waqaf/Gratis

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply