Khalid ibnul Walid: Panglima Tak Tekalahkan, Namun Wafat di Ranjang

Di suatu hari ia melakukan dialog dengan dirinya pribadi dan menggunakan fikiran sehat untuk merenungkan Agama baru, Yang panji-panji kebenarannya selalu bertambah cemerlang hari demi hari, semakin tinggi menjulang. Ia bermohon kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, kiranya Ia mengulurkan jalan petunjuk, lalu bercahayalah ke dalam hatinya keyakinan yang menggembirakan. Ia berkata kepada dirinya: “Demi Allah, sungguh telah nyata bukti-buktinya!

“Sungguh laki-laki itu adalah Rasul! Lalu, sampai kapan? Ah, aku akan pergi berangkat, demi Allah, aku akan masuk Islam.”

Nah, marilah kita dengarkan ia radhiallahu ‘anhu  men­ceriterakan perjalanannya penuh berkat kepada Rasulullah saw. dan keberangkatannya dari Mekah ke Madinah, guna mengambil tempatnya kelak dalam kafilah Kaum Muslimin:

“Aku menginginkan seseorang yang akan menjadi teman seperjalanan, lalu kujumpai Utsman bin Thalhah; kuceriterakan kepadanya apa maksudku, dan ia pun segera menyetujuinya. Kami ke luar berangkat bersama-sama waktu mendekati siang. Sewaktu kami sampai di suatu dataran tinggi, tiba-tiba kami bertemu dengan ‘Amr bin ‘Ash.”

Ia mengucapkan salam dan kami membalasnya. Kemudian ia bertanya: “Mau ke mana tuan-tuan ini?” Maka kami beritakan kepadanya maksud tujuan kami; ia balik memberitakan maksudnya hendak menjumpai Nabi pula, hendak masuk Islam.

Maka berangkatlah kami bersama-sama sehingga sampai ke kota Madinah di awal hari bulan Safar tahun yang kedelapan Hijriyah. Di kala aku telah dekat dengan Rasulullah saw., aku segera memberi salam kenabiannya, Nabi pun membalas salamku dengan muka yang cerah. Aku pun masuk Islam dan mengucapkan syahadat yang haq.

Maka sabda Rasul: “Sungguh aku telah mengetahui bahwa anda mempunyai akal sehat, dan aku mengharap, akal sehat itu hanya akan menuntun anda kepada jalan yang baik.” – “Aku berjanji setia (bai’at) kepada Rasulullah, lalu kataku: “Mohon anda mintakan ampun untukku terhadap semua tindak­an masa laluku yang menghalangi jalan Allah.” – Beliau menjawab:

“Sesungguhnya keIslaman itu telah menghapuskan segala perbuatan yang lampau.”

Kataku pula: “Sekalipun demikian ya Rasulallah Maka beliau pun mengucapakn do’a:

“Ya Allah, aku mohon engkau ampuni dosa Khalid ibnul Walid terhadap tindakannya menghalangi jalan-Mu di masa lalu.”

Meneruskan Panji Perjuangan

Taqdir Allah telah menentukannya akan bangkit berjuang di bawah panji-panji Nabi Muhammad saw. menegakkan kalimat tauhid. Sekarang bersama Khalid, yang telah memeluk Islam, akan kita saksikan hal-hal yang menakjubkan.

Masih ingatkah anda, tiga orang syuhada pahlawan perang Muktah? Mereka ialah Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah. Mereka semuanya pahlawan perang Muktah di tanah Syria. Untuk keperluan peperangan ini orang-orang Romawi telah mengerahkan sekitar dua ratus ribu prajurit dan di sana pula Kaum Muslimin menunjukkan prestasi gemilang.

Dan masih ingatkah anda akan kata-kata Rasulullah saw. melipur duka ketika kematian mereka sebagai syuhada; tiga orang pahlawan perang Muktah, sewaktu beliau bersabda: “Panji perang di tangan Zaid bin Haritsah. Ia bertempur bersama panji­nya sampai ia tewas. Kemudian panji tersebut diambil Ja’far yang bertempur pula bersama dengan panjinya sampai ia gugur pula. Kemudian giliran Abdullah bin Rawahah memegang panji tersebut sambil bertempur maju, hingga ia gugur sebagai syahid pula.” – Sebenarnya ada dari pemberitaan Rasulullah ini yang masih ketinggalan, sengaja kami simpan untuk mengisi lembaran ber­ikut ini. Dan sisa yang ketinggalan itu ialah:

“Kemudian panji itu pun diambil alih oleh suatu pedang dari pedang Allah, lalu Allah membukakan kemenangan di tangan­nya.”

Siapakah kiranya pahlawan itu, Ia adalah Khalid ibnul Walid. Sebenarnya Khalid bin Walid yang segera ikut menerjunkan diri ke dalam perang Muktah sesudah masuk Islam ini hanyalah prajurit biasa saja, di bawah pimpinan panglima yang bertiga yang telah diangkat Rasul: Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah yang telah menemui syahidnya menurut urutan tersebut di medan perang yang dahsyat itu.

Sesudah panglima yang ketiga tewas menemui syahidnya, dengan cepat Tsabit bin Arqam menuju bendera perang tersebut lalu membawanya dengan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah pasukan Islam agar barisan mereka tidak kacau balau dan agar semangat pasukan tetap tinggi. Tak lama sesudah itu, dengan gesit ia melarikan kudanya ke arah Khalid, sembari berkata kepadanya:

“Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman.”

Khalid merasa dirinya sebagai seorang yang baru masuk Islam, tidak layak memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat orang-orang Anshar dan Muhajirin yang telah lebih dulu masuk daripadanya. Sopan, rendah hati, arif bijaksana dan kelebihan-kelebihan akhlaq lainnya, memang miliknya dan sewajarnya ada padanya.Ketika itu ia menjawab: “Tidak. tak usah aku yang memegang panji, andalah yang berhak memegangnya, anda lebih tua, dan telah menyertai perang Badar!”

Tsabit menjawab pula: “Ambillah, sebab anda lebih tahu muslihat perang dari aku, dan demi Allah aku tak akan mengambilnya, kecuali untuk diserahkan kepada anda!” Kemudian ia berseru kepada seluruh anggota pasukan Islam: “Sediakah kamu sekalian di bawah pimpinan Khalid. Mereka menjawab: “Setuju!”

Dengan gesit panglima baru ini melompati kudanya; didekapnya panji itu dan mencondongkannya ke arah depan dengan tangan kanannya, tak ubahnya hendak memecahkan semua pintu yang terkunci selama ini dan sudah datang saatnya buat didobrak dan diterjang melalui jalan panjang, dari saat itulah baik selagi Rasul masih hidup maupun sesudah beliau waIat, kepahlawanannya yang luar biasa, mencapai titik puncak yang telah ditentukan Allah baginya.

Diangkat Abu Bakar As Shiddiq RA Menjadi Panglima

Sesudah Rasul waIat, memenuhi panggilan Allah Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, Abu Bakar Shiddiq memikul segala tanggung jawab Khilafah. Gelora angin kemurtadan bertiup kencang dengan tipu dayanya, hendak menghancurkan Agama yang baru dengan semboyannya yang berbisa dan propagandanya yang merusak binasa. Di awal kegemparan yang mengejutkan ini, Abu Bakar menolehkan mata dan perhatiannya yang pertama kepada seorang pejuang yang tepat, seorang laki-laki pilihan. Abu Sulaiman, si Pedang Allah, Khalid bin Walid.

Memang benar, bahwa Abu Bakar telah mulai memerangi kaum murtad dengan pasukan yang dipimpinnya sendiri, tetapi hal ini tidak bertentangan dengan rencananya untuk mempersiapkan Khalid untuk suatu hari yang menentukan nanti, yakni menentukan kalah menangnya dalam peperangan terseru menghadapi orang-orang murtad itu, di mana ia merupakan bintang lapangan dan pahlawan yang ulung.

“Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Bahwa sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan, ialah Khalid ibnul Walid, sebilah pedang di antara pedang-pedang Allah yang ditebaskan kepada orang-orang kafir dan munafik…!”

Mengislamkan Panglima Romawi, Georgius

Keluarbiasaan Khalid telah mengagumkan para panglima Romawi dan komandan pasukannya, yang mendorong salah seorang di antara mereka, Georgius namanya untuk mengundang Khalid dalam saat-saat peperangan berhenti agar tampil ke­padanya. Di kala keduanya sudah bertemu, panglima Romawi itu menghadapkan percakapannya kepada Khalid, katanya:

“Tuan Khalid, jujurlah anda kepadaku, jangan berbohong, sebab orang merdeka tak pernah bohong! Apakah Allah telah menurunkan sebilah pedang kepada Nabi anda dari langit, lalu pedang itu diberikannya kepada anda, hingga setiap anda hunus­kan terhadap siapa pun, pedang tersebut pasti membinasakan­nya?”

Jawab Khalid: “Oh, tidak!”

Orang itu bertanya pula: “Mengapa anda dinamai Pedang Allah?”

Jawab Khalid: “Sesungguhnya Allah telah mengutus RasulNya kepada kami, sebagian kami ada yang membenarkannya, dan sebagian pula mendustakannya. Aku dulunya termasuk orang yang mendustakannya, sehingga akhirnya Allah menjadikan hati kami menerima Islam, dan memberi petunjuk kepada kami melalui Rasul-Nya, lalu kami berjanji setia kepadanya. Kemudian Rasul mendo’akanku, dan beliau berkata kepadaku: “Engkau adalah pedang Allah di antara sekian banyak pedang pedang-Nya.” Demikianlah, maka aku diberi nama. Pedang Allah.“

Kami menerima Islam, dan memberi petunjuk kepada kami melalui Rasul-Nya, lalu kami berjanji setia kepadanya. Kemudian Rasul mendo’akanku, dan beliau berkata kepadaku: “Engkau adalah pedang Allah di antara sekian banyak pedang pedang-Nya.” Demikianlah, maka aku diberi nama. “Pedang Allah”

  • Kepada apa anda sekalian diserunya?
  • Kepada mentauhidkan Allah dan kepada Islam.
  • Apakah orang-orang yang masuk Islam sekarang akan mendapat pahala dan ganjaran seperti anda juga?
  • Memang, bahkan lebih Bagaimana dapat jadi, padahal anda sudah lebih dahulu memasukinya?
  • Karena sesungguhnya kami telah hidup bersama Rasullah saw., kami telah melihat tanda-tanda kerasulan dan mu’jizatnya, dan sewajarnyalah bagi setiap orang yang telah melihat seperti yang kami lihat dan mendengar seperti yang kami dengar, akan masuk Islam dengan mudah.

Adapun anda, wahai orang-orang yang belum pernah melihat dan mendengarnya, lalu anda beriman kepada yang ghaib, maka pahala anda lebih berlipat ganda dan besar, bila anda membenarkan Allah dengan hati ikhlas serta niat yang suci. Panglima Romawi itu pun berseru, sambil memajukan kudanya ke dekat Khalid dan berdiri di sampingnya:

“Ajarkanlah kepadaku Islam itu, hai Khalid!”

Maka masuk Islamlah panglima itu. dan shalat dua raka’at, satu-satunya shalat yang sempat dilakukannya. Kedua pasukan balatentara itu sudah mulai bertempur lagi. Dan panglima Romawi Georgius sekarang berperang di pihak Muslimin, dan mati-matian me­nuntut syahid, sampai ia mencapainya dan berbahagia men­dapatkannya.

Diberhentikan Umar bin Khattab dari Panglima

Selagi Khalid memimpin balatentara Islam dalam peperangan yang banyak menimbulkan qurban ini, selagi ia merenggutkan kemenangan gemilang dari cengkeraman tentara Romawi secara luar biasa, saat itulah ia tiba-tiba dikejutkan oleh sepucuk surat yang datang dari Madinah, dibawa oleh seorang kurir Khalifah yang datang dari Khalifah baru, Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab. Dalam surat tersebut tercantum salam penghargaan ‘Al-faruq” kepada seluruh pasukan Islam, berita berkabungnya terhadap Khalifah Rasulullah saw. Abu Bakar Shiddiq r.a. yang telah wafat. Kemudian putusannya memberhentikan Khalid dari pimpinan pasukan dan mengangkat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah sebagai gantinya.

Khalid membaca surat itu dengan tenang. dengan memohonkan rahmat untuk Abu Bakar serta taufiq untuk Umar. Dimintanya kepada si pembawa surat agar tidak menceriterakan kepada siapapun isi surat tersebut, menyuruhnya tetap tinggal di suatu tempat dan tidak meninggalkannya, serta tidak berhubungan dengan siapa pun.

la memulai lagi meneruskan pimpinan pertempuran, sambil menyembunyikan berita kematian Abu Bakar dan perintah-perintah Umar sampai kemenangan betul-betul menjadi kenyataan, yang waktu itu telah dekat sekali seolah-olah telah berada di tangan.

Lonceng kemenangan pun telah berbunyi, orang-orang Romawi telah mengundurkan diri, maka menghadaplah pahlawan itu kepada Abu ‘Ubaidah seraya memberi hormat sebagaimana layaknya seorang prajurit terhadap panglimanya. Abu ‘Ubaidah mula-mula hanya menyangka sebagai olok-olok dari seorang panglima yang,telah mewujudkan kemenangan yang tak diduga-duga. Tetapi tak lama kemudian ia melihat suatu kenyataan yang sesungguhnya, lalu diciumnya Khalid di antara kedua matanya dan memuji kebesaran jiwa dan akhlaqnya.

Ada lagi riwayat lain dalam sejarah yang mengatakan, bahwa surat yang dikirimkan oleh Amirul Mu’minin Umar ditujukan kepada Abu ‘Ubaidah berita tersebut disimpan saja oleh Abu ‘Ubaidah terhadap Khalid sampai perang berakhir.

Riwayat manapun yang benar, yang ini atau yang itu, yang penting bagi kita ialah sikap Khalid pada kedua kondisi tersebut, yang mengungkapkan bahwa benar-benar ia suatu pribadi yang mengagumkan, penuh keagungan dan kemuliaan. Dan setahuku, tak satu pun dalam seluruh kehidupan Khalid, suatu kejadian yang menjelaskan keikhlasannya yang mendalam dan kejujurannya yang teguh, melebihi apa yang ditunjukkan peristiwa ini.

Sama saja baginya, apakah jadi panglima, atau hanya prajurit biasa. Sesungguhnya jadi pemimpin seperti halnya prajurit masing-masing membawa kewajiban yang harus ditunaikankannya terhadap Allah yang ia imani, terhadap Rasul yang ia bai’at, terhadap Agama yang telah dipeluknya, dan ia bernaung di bawah panji-panjinya.

Baktinya yang diberikan sebagai amir yang memerintah, sama dengan darmanya yang dibaktikannya sebagai prajurit yang dititah.”Kemenangan besar terhadap nafsu ini dipersiapkan baginya sebagai juga bagi orang lainnya, oleh contoh teladan dan perangai para Khalifah, yang memegang tampuk pimpinan Ummat Islam waktu itu. Abu Bakar dan Umar dua nama, yang bila saja lidah bergerak menyebutnya, maka terbayanglah dalam hati segala sifat keutamaan manusia dan kebesarannya.

Sekalipun hubungan belas kasih seolah-olah hilang tercecer antara Umar dan Khalid, namun kebersihan jiwa Umar, keadilan, ketaqwaan dan kebesaran pribadinya yang luar biasa, tak sebenang pun diragukan oleh Khalid. Karena itu pula, tak ada alasan untuk meragukan keputusan-keputusan yang diambilnya, karena hati nurani yang mengeluarkannya, telah sampai ke puncak keshalehan, kelurusan, keikhlasan don kejujuran, sejauh yang dapat dicapai oleh manusia yang berhati bersih dan terpimpin.

Tak ada sedikit pun maksud jelek Umar terhadap pribadi Khalid itu, hanya ia merasa keberatan terhadap pedangnya yang terlalu cepat dan tajam. Hal ini telah dibayangkannya sewaktu ia mengusulkan pemberhentian Khalid kepada Abu Bakar, menyusul terbunuhnya Malik bin Nuwairah, katanya:

“Sesungguhnya pada pedang Khalid itu ada rohaqnya”,- artinya kelancangan, ketajaman dan ketergesaan. Lalu dijawab oleh Khalifah ash-Shiddiq: “Aku tak akan menyarungkan pedang, yang telah dihunus Allah atas orang-orang kafir.”

Umar tidak mengatakan bahwa rohaq (kecepatan bertindak) pada Khalid. hanya menjadi sifat rohaq itu sebagai sifat pedangnya bukan pribadi orangnya. Kata-kata itu tidak saja mengungkapkan adab sopan santun, tapi juga penilaian baiknya terhadap diri Khalid.

Wafat di Ranjang

Sewaktu ia meninggal dunia Umar menangis sejadi-jadinya. Kemudian umum dapat mengetahui, bahwa Umar bukan menangis hanya karena kehilangannya semata, tetapi yang beliau tangisi ialah lenyapnya kesempatan untuk mengangkatnya kembali memegang pucuk pimpinan tentara Islam, sesudah berkurangnya kefanatikan manusia yang berlebih-lebihan kepadanya. Karena sebetulnya sudah agak lama Umar bertekad memulihkan kepemimpinannya itu dan menjernihkan sebab-sebab pemberhentiannya, kalau tidaklah maut datang menjemput pahlawan besar itu untuk bersegera pulang ke tempat kembalinya di surga.

Bukankah ia tidak pernah beristirahat seperti itu di bumi? Bukankah telah datang masanya bagi jasad yang selalu bekerja keras itu, untuk tidur sekejap? la lah pribadi yang sering dilukiskan oleh shahabat-shahabat maupun oleh musuh-musuhnya, dengan kata-kata: “Orang yang tidak pernah tidur dan tidak membiarkan orang lain tidur!

Adapun ia sendiri, seandainya dibolehkan memilih, tentu ia akan memilih agar Allah menambah usianya agar dapat meneruskan perjuangan meruntuhkan semua bangunan-bangunan lapuk, dan agar dapat menambah amal-amal dan jihadnya dalam Islam.

Semangat juang dan keharuman namanya akan selalu dikenang sepanjang masa, selama kuda-kuda perang masih meringkik, mata-mata pedang masih berkilatan, dan selama panji-panji dan bendera tauhid masih berkibaran di atas pundak bala tentara Islam. Sungguh dia pernah berkata:

“Tak ada yang dapat menandingi kegembiraanku, bahkan lebih gembira dari saat malam pengantin, atau di saat dikaruniai bayi, yaitu suatu malam yang sangat genting, di mana aku dengan ekspedisi tentara bersama orang-orang Muhajirin menggempur kaum musyrikin di waktu shubuh!”

Oleh karena itulah ada sesuatu yang selalu merisaukan fikirannya sewaktu masih hidup, yaitu kalau-kalau ia, mati di atas tempat tidur, padahal ia telah menghabiskan seluruh umurnya di atas punggung, kuda perangnya, dan di bawah kilatan pedangnya. Ia lah orangnya yang pernah berperang bersama Rasulullah saw. Ia yang telah menundukkan kaum murtad. Ia yang telah membumi ratakan takhta kerajaan Persi dan Romawi. Ia yang telah melompat menjelajahi bumi di Irak langkah demi langkah. hingga dimenangkannya untuk Islam dan di Syria setapak demi setapak pula, sampai semuanya dipersembahkannya ke haribaan Islam.

la adalah seorang panglima, dengan kesukaran hidup seorang prajurit serta rendah hatinya. Sebaliknya seorang prajurit dengan tanggung jawab seorang panglima dengan teladannya! Seorang pahlawan perang yang hatinya risau kalau-kalau ia mati di atas tempat tidurnya. Ketika itu ia berkata, sedang air matanya meleleh keluar:

“Aku telah ikut serta dalam pertempuran di mana-mana. seluruh tubuhku penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak serta tancapan panah. Kemudian inilah aku tidak sebagai yang kuingini, mati di atas tempat tidur, laksana matinya seekor unta! Maka tidak akan tertidur mata orang-orang pengecut.”

Itulah kata-katanya, yakni kata-kata yang tak akan diucapkan seseorang dalam suasana demikian, kecuali seorang laki-laki jantan seperti dia! Di saat-saat ia hampir menghembuskan nafas­nya yang penghabisan, ia ucapkan wasiatnya itu.

Tahukah anda kepada siapa ia berwasiat? Yaitu kepada Umar bin Khatthab sendiri. []

Sebuah kisah kepahlawanan yang sangat panjang, download saja ya? Klik di Sini.

 

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply