Khadijah binti Khuwailid: Isteri Muhammad SAW

Khadijah binti Khuwailid dikenal sebagai wanita terhormat, seorang pengusaha multinasional yang dihormati. Masa mudanya ia habiskan–dalam istilah sekarang–untuk membina karir. Kemudian ia mempersembahkan semua yang dimilikinya untuk perjuangan suaminya menegakkan ajaran Islam. Selama bertahun-tahun Khadijah mendampingi Nabi Muhammad saw., membina keluarga yang penuh ketentraman dan kebahagiaan. Ketika Rasulullah saw., mendapatkan tugas yang berat –mengemban risalah Allah Swt.,– Khadijah meneguhkan hatinya dan menambah kepercayaan dirinya. Ketika Nabi didustakan kaumnya, Khadijah menyakininya dengan tulus. Ketika masyarakatnya menyembah berhala, di belakang Penghulu Para Nabi ia bersujud menyembah Allah Swt.,.

Khadijah adalah salah seorang yang memiliki peran yang luar biasa sebagai pendukung dakwah Nabi saw.,. Ketika Rasulullah saw., baru menerima wahyu Allah Swt., melalui Jibril, pada saat itulah Khadijah tampil sebagai penyejuk jiwa yang membuat suaminya menjadi tenang. Khadijah juga wanita pertama yang yakin dan juga menyakinkan suaminya adalah laki-laki pilihan Allah Swt., untuk menyebarkan risalah-Nya di muka bumi. Kesaksian Khadijah tersebut bukan hanya membuat Nabi saw., merasa tentram, tetapi juga menumbuhkan semangat yang tinggi untuk segera melakukan dakwah dan mengubah keadaan masyarakat Arab yang sedang mengalami kemerosotan moral dan spiritual.

Di rumah Khadijah-lah permulaan terpancarnya wahyu Allah Swt., dan benih-benih kebenaran. Dengan kesetiaan dan ketegaran, Khadijah selalu menemani suaminya di kala bertemu dengan bangsanya sendiri maupun ketika ‘bertemu dengan Allah Swt. Dari rumah Khadijah itu pula Al-Qur’an memancar dan menjadi panutan bagi seluruh masyarakat Islam di seluruh dunia. Tentu sangat mencengangkan karena selama 10 tahun, Jibril mendatangi Nabi saw., yang pada saat itu seringkali berada di rumah Khadijah. Tentu tidak mengherankan jika Khadijah menjadi salah satu saksi terkuat bagi perjalanan risalah kerasulan Muhammad saw.

Bersama-sama dengan Abu Thalib, Khadijah menjadi benteng yang sangat kuat bagi pelaksanaan dakwah Nabi Muhammad saw. Kecerdasan dan perilakunya yang lembut tetapi tangkas membuat penduduk Mekah semakin menjadi segan jika harus berhadapan langsung dengan Nabi saw., karena mereka tahu bahwa di balik itu terdapat Khadijah dan Abu Thalib, dua sosok yang sangat terkenal kedermawanan, keberanian, dan kejujurannya.

Penderitaan di Syi’b Abi Thalib

Salah satu peristiwa yang mengingatkan perjuangan Khadijah membela Nabi saw., adalah pengepungan terhadap keluarga Nabi dan beberapa orang yang berjumlah sekitar 400 orang dari Bani Hasyim dan Muthalib di sebuah tempat yang bernama Syi’b Abu Thalib oleh sekawanan kelompok dari Bani Umayah yang tidak suka dengan adanya Islam. Para sejarawan mencatat bahwa peristiwa ini bukan hanya dipicu oleh adanya agama baru yang disebarkan di Mekah, tetapi juga perseteruan antara dua kelompok, yaitu antara Bani Umayah dan Bani Hasyim. Sedangkan Syi’b Abu Thalib adalah lembah yang sulit dijangkau oleh manusia karena letak dan bentuknya yang terjal, di antara lekukan gunung, dan jalan yang sempit.

Pengepungan yang dilakukan selama tiga tahun (616 M-619 M) membuat keluarga Nabi saw., hanya bisa bertahan. Untunglah, Khadijah merupakan istri yang sangat tegar, bahkan beliaulah yang tetap konsisten untuk memberi makan dan minum untuk Ali dan Fatimah. Tentu, bekal makanan dan minuman itu tidak bisa bertahan dalam waktu lama, tetapi Khadijah sekali-kali dengan cara sembunyi-sembunyi pergi ke rumahnya untuk mengambil persediaan makanan.

Di samping itu, masih terdapat sanak saudaranya dari Bani Hasyim yang merasa kasihan, sehingga terkadang pergi ke lembah untuk memberikan bekal makanan dan minuman meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi pula. Ketabahan Khadijah teruji dan terbukti dengan kesetiannya menemani Nabi saw., di lembah dalam jangka waktu cukup lama. Khadijah merupakan wanita aristokrat yang biasa hidup dengan kemudahan dalam mengakses kebutuhan finansial. Ia pun hampir tidak pernah dihadapkan pada situasi sulit dan melelahkan selama ia masih berprofesi sebagai pedagang ulung. Akan tetapi, situasi yang ia alami di lembah Syi’b membuatnya sadar dan segera beradaptasi bahwa perjuangan menegakkan agama Allah memang harus dilalui dengan penuh risiko yang membahayakan. Bersama-sama dengan yang lain, Khadijah menguatkan diri serta meminta pertolongan kepada Allah Swt., agar cobaan itu segera berlalu.

Kedermawanan Khadijah

Pada saat itu, keamanan Khadijah dan yang lain terancam, bukan hanya dari pengepungan yang dilakukan oleh Bani Umaiyah, melainkan juga dari alam yang sangat panas di siang hari dan dingin yang luar biasa di malam hari. Namun, Khadijah tetap menunjukkan diri sebagai wanita hebat yang shalehah dan dermawan. Ia masih sempat membagi-bagikan selimut dan pakaian kepada penduduk lain yang berada di lembah Syi’b. Penderitaan yang dialami oleh seluruh kelompok yang terkepung itu sirna karena di tengah-tengah mereka terdapat Nabi Allah dan istrinya yang selalu memberikan kesejukan. Selama tiga tahun itu pulalah harta Khadijah habis karena harus dibelanjakan untuk membeli persediaan makanan dan minuman secara sembunyi-sembunyi.

Dan di antara pahlawan-pahlawan yang tetap berusaha menyokong perbekalan Nabi saw., dan semua yang ada di lembah Syi’b adalah Mutim bin Adi, Hisyam bin Amir, Zuhair bin Abu Umayah, Abu Bukhtari bin Hisyam, dan Zama’a bin Aswad. Pada dasarnya, kelima orang ini bukanlah muslim, bahkan bukan pula berasal dari Bani Hasyim. Akan tetapi kelimanya memiliki kesadaran bahwa mereka tidak suka dengan perlakuan tidak adil yang dilakukan Bani Umayah dan beberapa penduduk lain dari suku Quraisy. Di sinilah sebuah prinsip keadilan memang harus ditegakkan dan dijunjung meskipun tidak selamanya harus berasal dari kalangan yang satu agama.

Akhirnya, karena Bani Umayah dan penduduk suku Quraisy merasa tidak berhasil mengucilkan dan membunuh Nabi saw., secara pelan-pelan, mereka merasa bosan sendiri dan melepaskan Nabi saw., dan pengikutnya dari pengepungan yang telah lama dilakukan. Peristiwa pengepungan di lembah Syi’b oleh kaum Quraisy dari Bani Umayah seperti diceritakan di atas cukup membuktikan bahwa Khadijah tidak pernah mengeluh dan khawatir akan kehilangan seluruh harta miliknya.

Membantu Muhajirin ke Habsyi

Demikian pula ketika terjadinya peristiwa hijrah dari Mekah ke Habsyi juga meyakinkan banyak sejarawan bahwa perbekalan seluruh muhajirin yang berjumlah 100 orang itu pun ditenggarai ditanggung oleh Khadijah. Hal ini diindikasikan oleh sulitnya mengharap bantuan dari muhajirin yang waktu itu akan pergi meninggalkan Mekah, karena mereka tidak ada yang memiliki harta benda, seperti yang dimiliki Khadijah.

Sebuah kisah yang juga cukup popular di kalangan umat Islam adalah tentang datangnya beberapa wanita tua dari waktu ke waktu bahkan sampai Khadijah meninggal dunia. Para wanita ini sering menerima kedermawanan Khadijah semasa hidupnya. Dan ketika Khadijah meninggal dunia, para wanita ini masih bersilaturahmi ke rumah Rasul saw., di Madinah dan masih mendapatkan santunan yang sama. Sikap Rasul saw., ini membuat Aisyah terheran-heran dan menanyakannya kepada Rasul saw. Rasulullah menjawab,

“Ketika aku bersama Khadijah dan masih di Mekah, para wanita itu selalu datang. Mereka semua mencintai Khadijah, maka aku pun akan mencintai semua orang yang dicintai oleh Khadijah.”

Tentu, pernyataan Rasul ini bisa membuat perasaan kewanitaan Aisyah terusik. Namun, ia sadar bahwa kepribadian Khadijah sulit dicari bandingannya. Kesalehan Khadijah bukan hanya popular di kalangan penduduk Mekah dalam hal ibadah yang berdimensi spiritual, melainkan juga ibadah-ibadah lain yang berdimensi sosial.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Khadijah sebagai istri Nabi saw., merupakan teladan wanita yang paling baik dalam memainkan peran, baik dalam wilayah publik maupun domestik. Untuk itu, apa yang bisa dijadikan referensi bagi para wanita masa kini adalah sosok Khadijah yang mampu mengolah perannya sesuai dengan kebutuhan ruang sosialnya.

Selain itu, perjuangan yang dilakukan Khadijah untuk mendukung dakwah Nabi saw., di atas semakin menepis asumsi klasik dan konservatif mengenai kelayakan peran wanita dalam ruang publik. Bahwa wanita diciptakan hanya untuk laki-laki terbantah, karena Khadijah hadir bukan hanya sebagai pelengkap melainkan juga penentu terlaksananya dakwah Nabi saw. []

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply