Janji Surga bagi Orang yang Ikhlas

Sesungguhnya kunci kesuksesan dan keselamatan itu ada dalam keikhlasan. Al-Qur’an memfirmankan, hanya orang-orang yang ikhlas yang tidak bisa ditipu dan disesatkan oleh syaitan.

“Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Shad: 83)

Dan hanya orang-orang yang ikhlas yang dapat terhindar dari kehancuran dan kecelakaan. “Semua manusia akan hancur, kecuali mereka yang berilmu. Setiap orang yang berilmu akan hancur, kecuali orang-orang yang beramal. Setiap orang yang beramal akan hancur, kecuali orang-orang yang ikhlas.”

Maka, seorang ulama pernah mengatakan, “Siapa yang bisa menjadikan sesaat saja dari umurnya, tulus ikhlas karena mengharap wajah Allah, maka dia telah selamat.” Begitu pentingnya dan begitu tingginya kedudukan ikhlas ini, sampai-sampai pada hadis qudsi dikatakan: “Keikhlasan adalah rahasia yang diambil dari rahasia-rahasia-Ku. Aku telah menempatkannya sebagai amanat di hati sanubari hamba-hamba-Ku yang Aku cinta.” (HR. al-Qazwaini)

Hingga malaikat yang terdekat pun tidak pernah tahu kondisi keikhlasan hati seorang hamba. Ikhlas merupakan sesuatu yang sangat khusus, sangat rahasia, dan sangat spesial antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ikhlas adalah harta hakiki seorang manusia. Keikhlasan laksana mutiara yang teramat mahal yang harus kita miliki dan pelihara terus-menerus.

Janji Surga bagi Orang yang Ikhlas

Manakala ikhlas telah tertanam dalam pengamalan suatu ketaatan, sedangkan ketaatan itu murni hanya dalam rangka mencari wajah Allah saja, maka kita dapat menyaksikan bahwa pasti Allah akan memberi balasan yang besar terhadap orang-orang yang ikhlas meskipun ketaatannya itu sedikit.

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. asy-Syuura: 20)

Jika seorang hamba benar-benar mengikhlaskan tujuannya hanya untuk mencari keridhaan Allah dan kampung akhirat, maka Allah akan meridhainya dan memberinya kebahagiaan dunia dan akhirat. Firman-Nya:

“Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. al-Imran: 145)

Imam Hasan ra. berkata tentang penggalan ayat “Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (artinya) Allah akan memberikan kepada seorang hamba dengan niatnya (niat akhirat) (pahala) dunia dan akhirat. Pada ayat di atas Allah berjanji akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Ini berarti bahwa orang yang niat dan motivasinya akhirat akan dicatat sebagai orang-orang yang bersyukur. Sedangkan orang yang bersyukur akan ditambah pahalanya dan rezekinya. Sebagamana firman Allah pada ayat lainnya:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu …’” (QS. Ibrahim: 7) Bersyukur itu indah dan nikmat. Karena hanya dengan bersyukur kita bisa menikmati nikmat dan karunia yang ada dan tersedia. Jika kita tidak bersyukur, maka nikmat sebesar apapun tidak pernah akan bisa membuat kita senang, suka, dan gembira. Orang yang bersuyukur akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat. Yakni pahala di dunia berupa kebahagiaan dan bertambahnya nikmat dunia.

Dan pahala di akhirat yang sudah tentu akan lebih besar lagi. Jadi, orang yang tujuan dan keinginannya akhirat, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah swt. berfirman yang artinya: “Wahai anak Adam, beribadah-lah kepada-Ku sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan.” (HR. al-Hakim)

Pada hadis Qudsi yang lainnya Allah swt. berfirman: “Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia).” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Perhatikan, pada hadis yang mulia ini Allah telah menjanjikan kepada orang yang beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan dua hadiah, sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan dua siksa. Adapun dua hadiah itu adalah Allah mengisi hati orang yang beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan kekayaan serta memenuhi kebutuhannya.

Sedangkan dua siksa itu adalah Allah memenuhi kedua tangan orang yang tidak beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan berbagai kesibukan, dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan kepada manusia. Alangkah ruginya usaha kita jika hanya diniatkan untuk dunia semata. Untuk itulah pentingnya meluruskan niat dalam beribadah. Sungguh Allah telah mengingatkan kepada kita dalam salah satu firman-Nya, bahwa bagi-Nya ada dua pahala, dunia dan akhirat, dan Dia memerintahkan kepada hamba-Nya agar memilih keduanya:

“Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. an-Nisa’: 134)

Kalau kita berniat murni melaksanakan perintah Allah, maka Allah akan membalas di dunia dan juga di akhirat. Inilah kelebihan kita sebagai orang Islam, karena dengan hanya melaksanakan satu perbuatan baik saja, jika murni karena Allah, maka untuk dunianya pasti dapat dan akhiratnya mendapat pahala keridhaan Allah. Bukankah kehidupan kita yang sebenar-benarnya adalah akhirat?

Dunia ini sekedar tempat singgah untuk mencari bekal pahala akhirat, karena kita ini makhluk yang diperjalankan melalui lima alam, yaitu: alam ruh, alam janin, alam dunia, alam kubur, dan alam akhirat. Alam akhirat ada dua pilihan, yakni surga dan neraka. Kesempatan menentukan pilihan itu ada pada saat ini. Jika kita berniat ikhlas karena Allah, maka ibarat kita akan mendapatkan sekeping uang logam yang dapat dua sisi. Dengan satu niat, tapi insya Allah dapat dua keuntungan sekaligus.

Wallahu a’laam bish shawab.[]

Dari buku Dahsyatnya Ikhlas, Penulis: Mahmud Ahmad Mustafa Penerbit: MedPress Digital 2012

 

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply