Indahnya Ridho: Berlapang Dada Agar Tuhanmu Menjadi Ridho

Persembahan Penulis

Wahai Kekasihku, Saya berdo’a, semoga Allah selalu memberimu keselamatan. Amma ba’du.

Ketika memulai tulisan ini, saya tertarik untuk lebih memperdalam makna kata ridha. Awalnya, saya beranggapan bahwa membicarakan ridha sama saja dengan tema lainnya atau memiliki arti seperti kata lain, yang tidak membutuhkan kajian khusus kecuali sekedar membaca dan mengumpulkan referensi lalu menuliskannya.

Namun, ketika mulai membaca, saya merasa bahwa anggapan tersebut keliru. Maka, keraguan mulai berkecamuk dalam benak saya karena kenyataan tidak semudah seperti yang saya bayangkan. Ridha mengandung makna yang luas. Akan tetapi, bersamaan dengan keluasan maknanya, kata itu tidak dapat diartikan secara terpisah, karena ridha merupakan kumpulan dari beberapa arti kata. Ridha bagaikan sebuah bangunan utuh yang tersusun dari pondasi dan beberapa lantai.

Jadi, ridha adalah kumpulan materi yang membentuk bangunan yang utuh. Ridha berbeda dengan kata sabar dan syukur, tetapi ridha tersusun dan terbentuk dari keduanya. Ridha mengandung rasa kecintaan, ibadah, keyakinan, tawakal, penyerahan diri, permohonan ampun, baik sangka, pekerti yang terpuji, tawadhu atau rendah hati, sedikit berangan-angan atau berharap, dan hanya takut kepada Allah.

Anda akan tercengang ketika mengetahui bahwa kata ridha mencakup semua makna tersebut dan bercampur menjadi satu, sehingga membentuk satu ramuan yang dapat menyejukkan hati. Akibatnya, hati menjadi tentram dan damai. Orang yang memiliki hati ridha akan wafat dalam keadaan tenang sejahtera dan dibangkitkan dalam keadaan tentram dan damai.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah keharibaan Tuhan dengan puas dan ridha-Nya. Masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku dan surga-Ku.” (Al-Fajr [89]: 27-30)

Namun, bersikap ridha dalam menerima kekerasan atau kezaliman bisa menjadi sesuatu yang aneh, tapi kalau kita bisa mengelolanya dengan baik akan menghasilkan buah yang begitu manis dan nikmat. Perasaan ridha dapat membuahkan kebaikan dan mencapai kehidupan sosial yang bermartabat. Allah Swt berfirman,

“Yaitu orang-orang yang dapat mengekang emosi dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. (Ali Imran [3]: 134)

Akhirnya, saya ucapkan rasa terima kasih kepada semua yang turut andil membantu dalam proses penulisan buku ini, terutama ayah dan ibu, teman-teman tercinta, baik teman dekat maupun teman jauh. Tidak lupa pula untuk yang telah membantu saya dalam menyumbangkan tulisan atau pikirannya di saat saya meminta bantuan. Semua yang namanya termaktub dalam buku ini, saya bersyukur kepada Allah dapat hidup di antara kalian dan terima kasih kepada kalian yang telah memberikan pertolongan.

Semoga Allah tetap menjadi sebaik-baik penolong bagi kalian, dan semoga Allah menerima amal baik kita. Sesungguhnya Dialah sebaik-baiknya tempat bergantung.
Syaima’ Hasan
01 Juli 2005 M

Download

KLIK di Sini…!

===

Judul Asli : Ithlaalur ridhaa : Kaifa yardha qalbuka liyurdhi anka Rabbuka?
Penulis : Dr. Syaimaa’ Hasan, dkk.
Penerbit : Loaloa
Tahun Terbit : 1426H/2005M

Penerjemah : M. Nasri, Lc
PT. Kuwais International
Jl. Bambu Wulung No. 10, Bambu Apus
Cipayung, Jakarta Timur 13890

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply