Hukum Bermualamah Dengan Bank Konvensional

Mengapa kita membahas masalah bagaimana bermuamalah dengan bank konvensional? Ada beberapa hal alasan yang telah menjadi fenomena belakangan ini, antara lain:

A. Munculnya Semangat Anti Riba

Pembahasan tentang bagaimana kita bermuamalah dengan bank konvensional ini di latarbelakangi dari semakin tingginya kesadaran umat Islam akan haramnya riba dan dosa-dosanya. Di berbagai forum seperti majelis taklim, pengajian, masjid, bahkan sampai juga di sosial media, banyak bermunculan ajakan untuk meninggalkan riba.

Salah satu yang disasar sebagai pusat riba adalah bank konvensional. Ada muncul beberapa fatwa yang mengharamkan kita bermuamalah dengan bank konvensional, haram menyimpan uang, haram mentransfer, haram menerima transfer, malah sampai banyak karyawan bank konvensional yang ramai-ramai mengundurkan diri karena ada fatwa yang mengharamkan. Ini sebuah fenomena yang patut untuk dicatat.

Namun di sisi lain, nyatanya masih banyak kita yang tidak bisa berlepas diri dari bank konvensional. Sehingga banyak yang berada pada sisi yang dilematis, antara mengharamkan bank konvensional di satu sisi, tetapi sulit berlepas diri darinya. Ibarat lagu masa lalu, benci tapi rindu. Fenomena inilah yang menggelitik Penulis untuk membuat beberapa catatan terkait perbedaan pendapat di kalangan ulama.

B. Tidak Bisa Hindari Bank Konvensional

Lepas dari keharaman bank sebagaimana yang difatwakan banyak kalangan, namun dalam kenyataannya tetap saja umat Islam tidak bisa berlepas diri seratus persen dari bermuamalah atau berinteraksi dengan bank konvensional.

1. Terima Gaji dan Pembayaran

Sebagian kalangan tidak bisa berlepas dari bermuamalah dengan bank konvensional dengan alasan bahwa
gaji yang diterimanya hanya bisa didapat lewat transfer ke bank konvensional. Akibatnya, mau tidak mau
dia harus menjadi nasabah di bank konvensional itu.

2. Membayar atau Mentransfer

Demikian juga dalam membayar suatu transaksi pembelanjaan atau tagihan, beberapa pihak hanya bisa
menerima lewat bank konvensional tertentu. Meski kita bisa setor dari bank syariah, atau pun setor
tunai, namun tujuannya tetap ke bank konvensional. Tetap saja masih bermuamalat dengan bank
konvensional.

3. Uang Elektronik

Uang elektronik di masa sekarang sudah bukan lagi menjadi gaya hidup, tetapi sudah menajdi kebutuhan
hidup, karena kepraktisannya serta banyak manfaat lainnya. Naik kendaraan umum seperti bus Trans
Jakarta, komuter line, bahkan menyeberang Selat Sunda menggunakan fery penyeberangan, semua harus
menggunakan uang elektronik alias e-money. Sayangnya bank syariah belum punya produk e-money yang bisa
dimanfaatkan secara luas. Akhirnya mau tidak mau kita tetap harus bermuamalah dengan bank konvensional.
Dan masih banyak lagi penyebab kenapa kita masih harus menggunakan jasa bank konvensional.

C. Keharaman Yang Setengah Hati

Tabrakan antara teori keharaman bank dengan realitas yang ada, akhirnya memunculkan sikap yang ambigu. Di satu sisi ngotot ingin mengaramkan bank, namun di sisi yang lain harus tunduk pada kenyataan. Lalu bagaimana cara yang benar dalam bersikap ketika situasinya seperti ini? Apakah tetap kita haramkan bank konvensional ini secara total, atau kah haram yang sifatnya setengah hati? Haram tapi kalau kepepet berubah jadi halal? Ataukah sebenarnya fatwa keharaman atas bank konvensional punya cacat yang membuat keharamannya menjadi kurang pada tempatnya? Tentu para ulama kontemporer jadi berbeda pendapat cukup panjang. Dan buku kecil ini mencatat beberapa hal yang perlu kita ketahui.

Baca selengkapnya, download klik di sini. 

Judul: Hukum Bermualamah Dengan Bank Konvensional
Penulis: Ahmad Sarwat, Lc. MA
Terbit: 15 April 2019
Penerbit: Rumah Fiqih Publishing
Halaman: 76
Legalitas: Waqaf/Gratis

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply