Hudzaifah Ibnul Yaman: Personal Intelijen Pilihan Rasulullah SAW

Ketika itu malam gelap gulita dan menakutkan. sementara angin topan dan badai meraung dan menderu-deru, seolah-olah hendak mencabut dan menggulingkan gunung-gunung Sahara yang berdiri tegak di tempatnya. Dan suasana di kala itu mencekam hingga menimbulkan kebimbangan dan kegelisahan, mengundang kekecewaan dan kecemasan, sementara kelaparan telah mencapai saat-saat yang gawat di kalangan para shahabat Rasulullah saw.

Maka siapakah ketika itu yang memiliki kekuatan. apa pun kekuatan itu yang berani berjalan ke tengah-tengah perkemahan musuh di tengah-tengah bahaya besar yang sedang mengancam, menghantui dan memburunya, untuk secara diam-diam menyelinap ke dalam, yakni untuk menyelidiki dan mengetahui keadaan mereka? Maka Rasulullah yang memilih di antara para sahabatnya, orang yang akan melaksanakan tugas yang amat sulit ini! Dan tahukah anda, siapa kiranya pahlawan yang dipilihnya itu? Itulah dia Hudzaifah ibnul Yaman…!

Ia dipanggil oleh Rasulullah saw. untuk melakukan tugas, dan dengan patuh dipenuhinya. Dan sebagai bukti kejujurannya, ketika ia mengisahkan peristiwa tersebut dinyatakannya bahwa ia mau tak mau harus menerimanya. Hal itu menjadi petunjuk, bahwa sebenarnya ia takut menghadapi tugas yang dipikulkan atas pundaknya serta khawatir akan akibatnya. Apalagi bila diingat bahwa ia harus melakukannya dalam keadaan lapar dan timpaan hujan es, serta keadaan jasmaniah yang amat lemah, sebagai akibat pengepungan orang-orang musyrik selama satu bulan atau lebih!

Dan sungguh, peristiwa yang dialami oleh Hudzaifah malam itu, amat menakjubkan sekali! Ia telah menempuh jarak yang terbentang di antara kedua perkemahan dan berhasil menembus kepungan, lalu secara diam-diam menyelinap ke perkemahan musuh. Ketika itu angin kencang telah memadamkan alat-alat penerangan pihak lawan hingga mereka berada dalam gelap gulita, sementara Hudzaifah r.a. telah mengambil tempat di tengah-tengah prajurit musuh itu.

Seteru Kemunafikan, Kawan Keterbukaan

Penduduk kota Madain berduyun-duyun keluar untuk nyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat dipilih oleh Amirul Mu’minin Umar r.a. Mereka pergi menyambutnya, karena lamalah sudah hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan shahabat Nabi yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar mengenai keshalihan ketaqwaannya, begitu pula tentang jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak.

Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. la mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam sedang mulutnya sedang mengunyah!

Demi ia berada di tengah-tengah orang banyak dan mereka tahu bahwa orang itu tidak lain dari Hudzaifah ibnul Yaman, mereka jadi bingung dan hampir-hampir tak percaya! Tetapi apa yang akan diherankan? Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar?

Hal itu dapat difahami, karena baik di masa kerajaan Persia terkenal itu atau sebelumnya, tak pernah diketahui adanya kepemimpin semulia ini. Hudzaifah meneruskan perjalanan sedang orang-orang berkerumun dan mengelilinginya.

Dan ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-olah me­nunggu amanat, diperhatikannya air muka mereka, lalu katanya: “Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah.”

Ujar mereka: “Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah?”

Ujarnya: “Pintu-rumah para pembesar. Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengiakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan!”

Suatu pernyataan yang luar biasa di samping sangat menakjubkan! Dari ucapan yang mereka dengar dari Wali Negeri yang baru ini, orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih dibencinya tentang apa saja yang terdapat di dunia ini, begitu pun yang lebih hina dalam pandangan matanya daripada kemunafikan. Dan pernyataan ini sekaligus merupakan ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian Wali Negeri baru ini, serta sistem yang akan ditempuhnya dalam pemerintahan. Hudzaifah ibnu Yaman memasuki arena kehidupan ini dengan bekal tabi’at istimewa. Di antara ciri-cirinya ialah anti kemunafikan, dan mampu melihat jejak dan gejalanya walau tersembunyi di tempat-tempat yang jauh sekali pun.

Pengalaman Hudzaifah yang luas tentang kejahatan dan ketekunannya untuk melawan dan menentangnya, menyebabkan lidah dan kata-katanya menjadi tajam dan pedas. Hal ini diakuinya kepada kita secara ksatria, katanya:

“Saya datang menemui Rasulullah saw., kataku Padanya: Wahai Rasulullah, lidahku agak tajam terhadap keluargaku, dan saya khawatir kalau-kalau hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka. Maka ujar Rasulullah saw kenapa kamu tidak beristighfar…? Sungguh, saya ber­istighfar kepada Allah tiap hari seratus kali…”

Nah, inilah dia Hudzaifah musuh kemunafikan dan sahabat  keterbukaan. Dan tokoh semacam ini pastilah imannya teguh dan kecintaannya mendalam. Demikianlah pula halnya Hudzaifah, dalam keimanan dan kecintaannya. []

Baca dan download klik di sini.

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply