Harta Gono-Gini, Antara adat, Syariat dan Undang-Undang

Suatu ketika, penulis sempat diminta tolong oleh salah seorang Jemaah yang ingin membagikan warisan dari harta orang tuanya yang sudah meninggal lumayan lama. Nilai warisannya mencapai 4 milyar lebih. Sebenarnya, tidak penting berapa nominal dan nilainya, karena bagi penulis, yang terpenting itu adalah siapa saja yang hidup ketika si empunya harta meninggal dari kerabat dan keluarga. Karena dengan dengan itu kita bisa pastikan siapa yang dapat dan siapa yang tidak dapat.

Di hari yang sudah dijanjikan untuk pembagian warisan, lebih tepatnya untuk bimbingan dan konsultasi waris, penulis datang ke rumah beliau dengan sudah mengantongi kertas nama-nama siapa yang menjadi ahli waris dan berapa bagian yang menjadi jatahnya. Itu saja.

Karena penulis bukanlah orang partai juga bukan orang bisnis, juga sama sekali tidak ada hubungan dengan salah satu anggota keluarga penerima waris, hasil catatan yang penulis bawa juga adalah hasil murni dari perhitungan secara faraidh Islam.

Tidak ada tendensi untuk menguntungkan salah satu pihak atau siapapun. Penulis hanya mencatat, siapa dan dapat berapa. Yang tidak dapat yang tidak dicatat. Sayangnya, ketika di hari bimbingan waris tersebut, ada beberapa anggota keluarga yang tidak hadir.

Walhasil, penulis mendapat panggilan kedua di hari berbeda untuk tujuan yang sama, dengan alasan anggota keluarga di hari itu akan hadir lebih lengkap. Yang kemudian agenda di hari pemanggilan kedua itu bukan bimbingan waris, akan tetapi adu argument antara penulis dengan salah satu anggota keluarga penerima ahli waris yang tidak hadir di hari pertama, tentang adanya beberapa catatan penulis yang tidak sesuai dengan KHI (Kompilasi Hukum Islam). Termasuk yang diperdebatkan adalah harta gono-gini.

Cerita ini, rasanya cukup bagi penulis untuk menulis buku ini sebagai amanah dan juga tanggung jawab keilmuan. Dengan harapan buku kecil ini dapat memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi pembaca.

Gono-Gini Antara Adat Dan Syariat

Gono-gini adalah istilah yang dikenal oleh budaya orang Jawa kebanyakan dan sekitarnya untuk merujuk kepada harta yang dimiliki secara bersama oleh suami dan istri di dalam pernikahan. Jadi, harta yang dihasilkan oleh salah satu pasangan; entah istri atau suami, di masa pernikahan mereka, kepemilikannya adalah milik bersama. Inilah yang dimaksud dengan harta gono-gini atau biasa juga disebut dengan nama harta bersama.

Karenanya, jika terjadi perpisahan antara keduanya, baik itu pisah hidup, atau juga pisah mati, harta yang ada haruslah dibagi 2 terlebih dahulu; karena memang harta tersebut milik bersama. Maka ketika sudah tidak lagi dikatakan bersama, kepemilikan harta pun kembali ke individu masing-masing.

Misalnya, jika suami menceraikan istrinya, maka suami tidak boleh membawa harta yang dia anggap sebagai hartanya sendiri karena berkat usahanya sendiri. Dia harus membaginya dengan pembagian 50 berbanding 50, untuk memberikan jatah tersebut kepada istrinya.

Begitu juga jika salah satu pasangan wafat. Harta yang ditinggalkan tidak bisa langsung dijadikan harta warisan yang kemudian diberikan kepada ahli waris. Harta tersebut mestilah diberikan setengahnya yakni 50%-nya kepada pasangan yang hidup sebagai harta bersama. Dan sisanya, barulah dijadikan harta warisan yang dibagikan kepada ahli-ahli waris yang ada.

Gono-Gini Dalam Budaya Indonesia

Di hampir seluruh daerah Indonesia, harta bersama itu ada dan dilakukan sejak dahulu kala. Bahkan ia sudah menjadi aturan tak tertulis hampir di seluruh daerah Indonesia. Nama harta bersama di setiap daerah di Indonesia itu berbeda-beda, tidak semua memakai istilah Gono-Gini. Dalam budaya aceh misalnya, harta bersama dikenal dengan istilah Hareuta Syareukat.

Berbeda lagi dengan budaya bugis dan Makassar yang mengenal harta bersama dengan istilah Cakkara. Kalau di Kalimantan disebut dengan nama Perpantangan. Budaya orang sunda menyebutnya Guna Kaya. Di Bali, namanya Druwe Gabro. Banyaknya ragam nama untuk satu jenis harta ini di hampir seluruh daerah Indonesia, itu menunjukkan bahwa harta bersama memang sudah eksis sejak dahulu. Bahkan tidak berlebihan jika kita katakan bahwa itu sudah ada sebelum pemerintahan Indonesia berdiri.

Bagaimana Harta Gono-Gini Dalam Syariat Islam???

Download dan Baca ebooknya (klik di sini) Harta Gono Gini

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply