Hamzah bin Abdul Mutthalib: Singa Allah dan Panglima para Pejuang Syuhada

Hamzah telah kenal akan kebesaran dan kesempurnaan. keponakannya, tahu sebaik-baiknya akan kepribadian dan watak serta akhlaqnya. la tidak hanya mengenalnya sebagai seorang paman terhadap keponakannya semata, tetapi juga sebagai saudara terhadap saudaranya, dan shahabat terhadap teman sejawatnya. Sebabnya ialah karena Rasulullah dan Hamzah dari satu generasi, dan usia yang berdekatan. Mereka dibesarkan bersama, bermain bersama dan menjadi shahabat karib, serta menempuh jalan kehidupan dari bermula selangkah demi selangkah secara bersama-lama pula. Hanya memang, di waktu muda masing-masing mereka telah menempuh jalan sendiri-sendiri. Hamzah mulai bersaing dengan teman-temannya untuk mendapatkan kelayakan hidup dan merintis jalan bagi dirinya untuk beroleh kedudukan di kalangan pembesar-pembesar kota. Mekah dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Sementara Muhammad saw tetap bertahan di ling­kungan cahaya ruhani yang mulai menerangi jalan baginya me­nuju Ilahi, serta mengikuti bisikan hati yang mengajaknya men­jauhi kebisingan hidup untuk mencapai renungan yang dalam, serta mempersiapkan diri dalam menyambut dan menerima kebe­naran. Kita tegaskan, bahwa walaupun kedua anak muda itu telah mengambil arah yang berlainan, tetapi tidak satu detik pun hilang dari ingatan Hamzah. Keutamaan shahabat dan ke­ponakannya, yakni keutamaan dan kemuliaan yang mengantar­kan pemiliknya kepada kedudukan tinggi di mata manusia umumnya, dan melukiskan secara gamblang masa depannya yang gemilang telah banyak diketahui Hamzah. Ia kenal Muhammad saw sebagaimana ia kenal akan dirinya, bahkan lebih dari itu lagi. Semenjak mereka lahir ke alam wujud, menjadi remaja dan sama-sama berangkat dewasa, di mana lembaran kehidupan Muhammad saw terbuka di hadapan matanya suci bersih laksana sinar matahari, tidak satu cacat pun dilihatnya pada lembaran itu!

Panglima Pejuang Pertama

Dan semenjak masuk Islam, Hamzah telah bernadzar akan membaktikan segala keperwiraan, kesehatan bahkan hidup matinya untuk Allah dan Agama-Nya, hingga Nabi saw berkenan memasangkan pada dirinya julukan iatimewa ini: “Singa Allah dan singa RasulNya “ Sariyah, atau angkatan bersenjata tanpa disertai Nabi, yang mula pertama dikirim untuk menghadapi musuh, dipimpin oleh Hamzah. Dan panji-panji pertama yang dipercayakan oleh Rasulullah saw kepada salah seorang Muslimin, diserahkan kepada Hamzah. Kemudian ketika kedua angkatan bersenjata berhadapan-muka di perang Badar, keberanian luar biasa telah ditunjukkan oleh Singa Allah dan Singa Rasul-Nya yang tiada lain dari Hamzah! Sisa-sisa tentara Quraisy kembali dari Badar ke Mekah dan berjalan terhuyung-huyung membawa kegagalan dan kekalahan – – – – Abu Sufyan tak ubah bagai pohon kayu besar yang tumbang dan tercabut dengan urat akarnya. la berjalan dengan kepala tunduk meninggalkan di tengah-tengah medan, tubuh pemuka-pernuka Quraisy yang telah tiada bernyawa, seperti Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Umayah bin Khalaf, Uqbah bin Abi Mu’aith, Aswad bin Abdul Aswad al Makhzumi, walid bin ‘Utbah, Nadlar bin Harits, ‘Ash bin Sa’id, Tha’mah bin ‘Adi serta beberapa puluh pemimpin dan tokoh Quraisy lainnya seperti mereka.

Syahid di Kancah Uhud

Berhari-hari lamanya sebelum peperangan dimulai, tak ada pekerjaan Hindun kecuali menggembleng dan menghasut Wahsyi serta menumpahkan segala dendam dan kebenciannya kepada Hamzah dan merencanakan peranan yang akan dimainkan oleh budak itu. la telah menjanjikan kepada budak itu, andainya ia berhasil membunuh Hamzah, akan diberinya kekayaan dan perhiasan paling berharga yang dimiliki oleh wanita — sementara itu jari-jarinya yang penuh kebencian memegang anting-anting, permata yang mahal serta kalung emas yang terlilit pada lehernya —, lalu dengan kedua matanya yang bercahaya katanya kepada Wahsyi:
“Jika kamu dapat membunuh Hamzah, maka semua ini menjadi milikmu!”
Marilah sekarang kita dengarkan cerita Wahsyi menyampaikan laporan pandangan mata tentang peristiwa tersebut, katanya. “Saya seorang Habsyi, dan mahir melemparkan tombak dengan teknik Habsyi, hingga jarang sekali lemparanku meleset. Tatkala orang-orang telah mulai berperang, saya pun keluar dan mencari-cari Hamzah, hingga akhirnya tampak di antara manusia tak ubahnya bagai unta kelabu yang mengancam orang-orang dengan pedangnya hingga tak seorang pun yang dapat bertahan di depannya. Maka demi Allah, ketika saya bersiap-siap untuk membunuhnya, saya bersembunyi di balik pohon agar dapat menerkamnya atau menunggunya supaya dekat, tiba-tiba saya didahului oleh Siba’ bin Abdul ‘Uzza yang tampil he depannya. Tatkala ia tampak oleh Hamzah, maka serunya: “Marilah ke sini hai anak tukang sunat wanita!” Lalu ditebasnya hingga tepat mengenai kepalanya. Ketika itu saya pun menggerakkan tombak mengambil ancang-ancang, hingga setelah terasa tepat, saya lontarkan­lah hingga mengenai pinggang bagian bawah dan tembus he bagian muka di antara dua pahanya. Dicobanya bangkit ke arahku, tetapi ia tak berdaya lalu rubuh dan meninggal. Saya datang mendekatinya dan mencabut tombakku, lalu kembali he perkemahan dan duduk-duduk di sana, karena tak ada lagi tugas dan keperluanku Saya telah membunuh­nya semata-mata demi kebebasan dari perbudakan yang memilikiku.” Dan tak ada salahnya bila kita mendengarkan kisah Wahsyi selanjutnya: “Sesampainya di Mekah saya pun dibebaskan. Saya tetap bermukim di sana sampai kota itu dimasuki oleh Rasulullah di hari pembebasan, maka saya lari he Thaif. Dan tak kala perutusan Thaif menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislaman, timbul berbagai rencana dalam fikiranku. Kataku dalam hati biarlah saya pergi he Syria, atau ke Yaman, atau ke tempat lain. Demi Allah, ketika saya berada dalam kebingungan itu datanglah seseorang mengatakan kepadaku: “Hai tolol! Rasulullah saw tak hendak membunuh seseorang yang masuk Islam!” Maka pergilah saya mendapatkan Rasulullah saw di Ma­dinah Saya baru tampak olehnya ketika tiba-tiba telah berdiri di depannya mengucapkan dua kalimat syahadat Tatkala saya dilihatnya, beliau bertanya: “Apakah kamu ini Wahsyi? “Benar ya Rasulullah’; ujarku. Lalu sabdanya: “Ceritakanlah kepadaku bagaimana kamu membunuh Hamzah!” Maka saya ceritakanlah. Dan setelah cerita saya itu selesai, sabdanya pula: “Sangat menyedihkan! Sebaiknya engkau menghindarkan perjumpaan denganku.” Maka selalulah saya menghindarkan diri dari hadapan dan jalan yang akan ditempuh oleh Rasulullah agar tidak ke­lihatan oleh beliau sampai saat beliau diwafatkan Allah. Tatkala Kaum Muslimin pergi memadamkan pemberontakan (nabi palsu) Musailamatul Kadzdzab penguasa Yamamah, saya pun ikut bersama mereka dan membawa tombak yang saya gunakan untuk membunuh Hamzah dahulu. Ketika orang-orang mulai bertempur saya lihat Musailamatul Kadzdzab sedang berdiri dengan pedang di tangan. Maka saya pun bersiap-siaplah dan menggerakkan tombak mem­buat ancang-ancang, hingga setelah terasa tepat, saya lempar­lah dan menemui sasarannya.
Maka sekiranya saya dengan tombak itu telah membunuh sebaik-baik manusia yaitu Hamzah, saya berharap kiranya Allah akan mengampuniku karena dengan tombak itu pula saya telah membunuh sejahat-jahat manusia yaitu Musai­lamah!

Tak Ada Wanita yang Menangisi

Rasulullah pulang ke rumah meninggalkan medan peperangan. Di jalan didengarnya wanita-wanita Bani Abdil Asyhal menangisi syuhada mereka. Maka dengan amat santun dan sayang, sabdanya:
“Tetapi Hamzah, tak ada wanita yang menangisinya!”
Hal ini kedengaran oleh Sa’ad bin Mu’adz, dan disangkanya Rasulullah akan senang hatinya bila ada wanita yang menangisi pamannya, lalu segeralah ia mendatangi wanita-wanita Bani Asyhal tali dan menyuruh mereka agar menangisi Hamzah pula. Suruhan itu mereka lakukan, tetapi demi Rasulullah mendengar tangis mereka, ia pergi menemui mereka sabdanya:
“Bukan ini yang saya maksudkan. Pulanglah kalian, semoga Allah memberi kalian rahmat, dan tak boleh menangis lagi setelah hari ini!”
Dan para penyair shahabat Rasulullah berlomba-lomba meng­gubah sya’ir untuk meratapi Hamzah dan mengenangkan jasa-jasanya yang besar. [] Baca selengkapnya dan download klik di sini.  

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply