H. Agus Salim: “Leiden is lijden!”*

“Jadi kalau kalian telah selesai merumput, silakan masuk lagi untuk mendengar pidato saya dalam bahasa kambing,” ujar Salim. (Sumber : Republika )

H.Agus Salim memiliki kemampuan menggunakan berbagai  bahasa asing (polyglot). Kalimat pada kutipan diatas merupakan sindiran saat rapat umum Syarikat Islam  (SI). Saat ketegangan antara kelompok SI Putih dan SI Merah Para pendukung  SI Merah pimpinan Musso sering mengeluarkan ejekan Mbek” ketika Agus Salim berpidato pada rapat-rapat Syarikat Islam (SI).

Republika : Agus Salim Muda
Republika : Agus Salim Muda

H. Agus Salim mahir berbahasa Inggris, Perancis, Belanda, dan Bahasa Arab. Kemampuan bahasanya sering mendapatkan pujian dari native speaker (penutur asli) bahasa-bahasa tersebut.

Prof Schermerhorn yang mewakili Belanda dalam perundingan Linggarjati memiliki kesaksian sendiri soal kemampuan berbahasa asing Agus Salim  (Merdeka)

Tahun 1930, Agus Salim menghadiri Konferensi Buruh Internasional di Jenewa ia menggunakan Bahasa Inggris. Kemudia didaulat peserta kongres untuk berpidato menggunakan Bahasa Perancis. (Merdeka)

Gedung Persatuan Wartawan Mesir adalah saksi bisu dia mengejutkan para pewarta Mesir waktu itu. Tak ada yang mengira Pak Salim akan berpidato dengan bahasa Arab. (Merdeka)

H. Agus Salim (lahir dengan nama Masyhudul Haq (berarti “pembela kebenaran”); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, 8 Oktober 1884. H.Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.

Lahir sebagai anak pejabat era kolonial, H. Agus Salim bisa mendapatkan pendidikan anak-anak Eropah,  ELS (Europeesche Lagere School). Kemudian melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya  ke HBS (Hoogere Burgerschool) di Batavia (Jakarta). Lulus dengan predikat terbaik HBS untuk wilayah Hindia Belanda (Indonesia). Setelah lulus ia bekerja sebagai penerjemah dan pembantu Notaris pada pada kongsi pertambangan di Indragiri, Riau. (Wikipedia)

Tahun 1906, H.Agus Salim muda berangkat ke Jedah, Arab Saudi, bekerja di Konsulat Belanda.

Dengan gaji pokok setahun 1080 Gulden, tunjangan perabot 500 gulden, dan hak pensiunnya 720 gulden. Enam bulan kemudian naik jadi 2.400 gulden setahun dan jatah pensiun 1.600 gulden. Jumlah itu sangat besar bagi Salim muda. (Tirto)

H.Agus Salim bekerja di Jeddah sampai tahun 1911, selama di Arab Saudi ia juga belajar dengan pamannya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (Imam Masjidil Haram), yang merupakan pamannya sendiri. Disinilah ia belajar tentang Islam, nilai-nilai religiusnya mulai terbentuk dan menjadi landasan dalam perjuangan kemerdekaan.

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi adalah ulama besar yang menjadi panutan bagi ulama dan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. seperti K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Syekh Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Jamil Jaho, dan lain-lain.

Bekerja di Arab Saudi sampai 1911, dengan posisi sebagai Leerling Dragoman (penerjemah ahli)  dan sekretaris Drogman di Konsulat Belanda di Jeddah. Selama di Arab Saudi, H. Agus Salim bisa menunaikan Haji sebanyak 5 kali.

Tahun 1911, H. Agus Salim kembali ke tanah air, dan bekerja di Bureau voor Openbare Werken (BOW)—Jawatan Pekerjaan Umum, dengan gaji besar hingga tahun 1912. Saat bekerja disini ia sempat pulang kampung ke Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, dan menikah dengan Zainatun Nahar Almatsier.

Tahun 1912-1915, ia mendirikan sekolah dasar berbahasa Belanda (HIS) dan bekerja sebagai editor bahasa Melayu  Commissie voor de Volkslectuu (sekarang Balai Pustaka). Muda, mapan, dan bergaji besar, itulah H. Agus Salim muda.

Tahun 1915, ia ikut pergerakan Syarikat Islam yang didirikan oleh Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto yang dikenal dengan HOS Tjokroaminoto . H. Agus Salim  aktif di Syarikat Islam dan bahkan dikenal sebagai tokoh Syarikat Islam. Hidup dari rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lain,  kekurang uang untuk belanja rumah tangga. 

Kehidupan mapan saat bekerja dengan penjajah Belanda ia tinggakan. Memilih berjuang lewat pergerakan kemerdekaan Indonesia bersama-sama HOS Tjokroaminoto. Syarikat Islam. Di pertemuan-pertemuan SI selalu jadi bintang panggung. Kemampuan berorasinya menimbulkan rasa iri kelompok-kelompok SI Merah yang dimotori Semaun, Musso  (belakangan terlibat Pemberontakan PKI Madiun).

Tahun 1922-1924 ia menjadi anggota Dewan Volkstraad  (DPR era penjajahan Belanda) tak mengubah kehidupan pribadinya,  hidup dengan sangat sederhana di rumah kontrakan yang berpindah-pindah. “Leiden is lijden!”

Pasca Kemerdekaan, tahun 1946, ia diangkat menjadi Menteri Muda Luar Negeri, Tahun 1947 ia didaulat Perdana Menteri Sjahrir (PNI) menjadi Menteri Luar Negeri (Kabinet Sjahrir) . Tahun 1948 ia ditawan oleh penjajah Belanda.

H. Agus Salim sebagai menteri seharusnya berhak mendapatkan sebuah rumah di Menteng. Perumahan Menteng sejak dulu adalah kawasan elite yang hanya dihuni para pejabat tinggi dan pengusaha besar Belanda, beliau memilih hidup di rumah kontrakan. Pergi bekerja dengan sepeda yang terkadang harus didorong karena bannya bocor. “Leiden is lijden!”

Suatu ketika salah seorang dari 10 anaknya meninggal, untuk membungkus jenazah ia hanya mengunakan taplak meja, begitu sederhananya kehidupan beliau. Een leidersweg is een lijdenweg. Leiden is lijden (jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin itu menderita),

Pada 4 November 1954 H. Agus Salim wafat dalam kesederhanaan, tenang dan damai. Haji Agus Salim adalah pahlawan pertama yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan Negara di tahun 1961.

 

*Leiden is lijden: pepatah Belanda yang berarti Memimpin itu menderita

 

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply