Fathimah Az-Zahra: Isteri Ali bin Abi Thalib RA

Ali Syari’ati menulis sebuah buku dengan judul Fathimah is Fathimah. Al-Hamidi juga menulis buku khusus tentang Fathimah. Dalam dua buku tersebut, penulis memiliki kesimpulan yang sama bahwa Fathimah adalah wanita yang mulia, penyabar, dan dermawan sebagaimana ibundanya, Khadijah. Fathimah dibesarkan di rumah pemuka umat sedunia, Muhammad saw. Ia menyelesaikan pelajaran di tangan beliau, memperoleh pendidikan langsung dari beliau, dan diasuh oleh beliau.

Dialah anak kesayangan ayahnya, dan orang yang paling dicintai oleh Rasulullah saw., sehingga beliau tidak senang kepada siapa pun yang memusuhi Fatimah, dan senang dengan siapa pun yang senang dengan Fatimah. Bahkan, setiap kali melihat Fatimah, beliau langsung menyambutnya, lalu mencium keningnya, dan mendudukkannya di tempat duduknya.

Kesabaran & Kedermawanan

Ketika Fathimah berusia lima belas tahun, ia menikah dengan anak pamannya, yaitu Ali bin Abi Thalib. Bersamanya, ia bersabar menjalani kehidupan dalam kemiskinan, kelaparan, kelelahan, dan kesulitan. Ali ra., berkata,

“Aku telah menikahi Fathimah, dan kami hanya memiliki sehelai kulit domba sebagai alas tidur. Di atas kulit itulah kami tidur pada malam hari dan dengan kulit itu pula kami berlindung dari tetesan air hujan pada siang hari. Kami berdua tidak mempunyai pembantu.”

Rumah Fathimah serba bersahaja dan hartanya sedikit, sehingga ia semakin kelelahan dan badannya menjadi bungkuk. Namun, Rasulullah saw., terus mendorong mereka agar bersabar dan saling memberi pengertian, sehingga mereka berdua dapat bersabar dan mengerti. Dia hidup sederhana di samping suaminya, Ali bin Abi Thalib. Ketika berbagai pertempuran mengembalikan Ali ke haribaan Fathimah dalam keadaan penuh luka, dengan penuh kasih sayang Fathimah merawatnya.

“Setiap kali aku menyembuhkan lukanya yang lama, terbukalah luka yang baru,” ujar Fathimah menceritakan suaminya.

Dalam keadaan sederhana sekalipun, Fatimah sangat dermawan. Pernah suatu ketika Fathimah memberikan kalung hadiah ibunya kepada seorang peminta, ketika dia tidak mempunyai apa pun yang dapat diberikan. Dia pernah kelaparan tiga hari tiga malam karena menyedekahkan makanannya kepada anak yatim, orang miskin, dan para tawanan. Fathimah pernah juga menjual kerudungnya untuk menjamu tamu, padahal sebelumnya tamu itu menghina Rasulullah saw.

Suatu hari, datanglah seorang ahli sihir dari suku Bani Salim mengunjungi Rasulullah saw. Maksud kedatangannya adalah untuk mengadu sihir dengan Rasulullah saw. Namun, Rasul menjawab dengan tenang dan penuh senyum, “Saya adalah utusan Allah, bukanlah ahli sihir, sebagaimana diisukan orang.” Ahli sihir itu marah-marah sambil mengejek Rasul, dan memaki-makinya dengan kata-kata yang sangat kotor yang menyakitkan hati. Para sahabat yang menyaksikannya menjadi marah besar. “Sebaiknya orang ini kita bunuh saja, ya Rasul?” ujar salah seorang sahabat. Justru Rasul sendiri tersenyum mendengar ejekan ahli sihir itu. Bahkan, beliau memberikan air minum kepada tamunya itu. Melihat sikap Rasulullah saw., tersebut akhirnya orang itu berkata,

“Wahai Muhammad, kini tahulah aku bahwa engkau adalah utusan Allah sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Injil dan Taurat, yaitu melawan kekerasan dengan senyum manis dan berbudi luhur, serta menghargai tamunya.”

Selanjutnya, orang itu mengucapkan syahadat di hadapan Rasulullah saw. Kemudian Nabi mengucapkan syukur ke hadirat Allah Swt., yang telah memberikan hidayah kepada orang itu. Lalu, beliau bertanya, “Apakah Anda mempunyai bekal makanan?” “Tidak!” jawab orang itu. “Adakah di antara kalian yang sudi memberikan makanan kepada saudara kita ini?” Nabi bertanya kepada para sahabat. Dengan segera Ali bin Abi Thalib melepas surban yang dipakainya, lalu menaruh di kepala orang itu.

Kemudian Rasulullah saw., memerintahkan kepada Salman Al-Farisy, segera membawa orang itu kepada sahabat yang lain. Salman Al-Farisy mengantarkan orang itu berkeliling dari rumah ke rumah. Namun, ternyata tidak ada seorang pun yang memberikan makanan karena saat itu bukanlah saatnya memasak makanan. Akhirnya, ia pulang kembali ke rumah Nabi saw.

Kemudian Salman Al-Farisy pergi ke rumah Fathimah. Sampai di rumah, ia mengucapkan salam, dan dijawab oleh Fathimah. Setelah berhadapan, ia mengutarakan maksud kedatangannya. Fathimah menjawab, “Mohon maaf Salman, sejak tiga hari yang lalu kami sekeluarga belum mendapatkan makanan, tetapi tunggulah sebentar, aku akan mencarikan sesuatu.” Air mata Fathimah berlinang sedih dan kasihan. Bagaimana tidak, beliau sendiri sudah tiga hari berpuasa. Untuk menenangkan hati, Fathimah berdoa untuk memohon petunjuk. Lalu, Fathimah membuka kerudungnya dan kemudian diberikan kepada Salman al-Farisy, sambil berkata,

“Salman, juallah kerudung ini dan tukarkanlah dengan makanan.”

Salman Al-Farisy tertunduk, tidak mampu berkata apa-apa. “Sungguh mulia Fathimah,” gumamnya. Kemudian Salman Al-Farisy pergi kepada Shamoon, penduduk Madinah yang beragama Yahudi. “Shamoon tolong kami, kami akan menukarkan kerudung Fathimah binti Muhammad dengan bahan makanan,” kata Salman Al-Farisy. “Baiklah terimalah jagung ini. Tetapi kenapa Fathimah menukar kerudungnya, padahal keluarga Fathimah sudah tiga hari berpuasa?” “Dia menggadaikan kerudung itu untuk menjamu tamunya,” tegas Salman. Shamoon tertegun sejenak, tidak habis pikir bahwa di dunia ini masih ada orang yang mau lebih menderita, dibandingkan keluarganya sendiri. “Sungguh ini bukanlah kebanyakan manusia, melainkan perbuatan manusia yang mulia, sebagaimana yang disebutkan dalam Taurat,” kata Shamoon.

Kemudian Shamoon menceritakan kepada Salman Al-Farisy bahwa dalam kitab Taurat telah memberitahukan kepadanya golongan yang akan lahir sebagai sebuah keluarga yang sangat berbudi luhur. Setelah terjadi percakapan antara keduanya, Shamoon pun tertarik untuk mengikuti ajaran Rasulullah saw., dan masuk Islam. Lalu Shamoon masuk ke dalam rumah untuk mengambil jagung dan menyerahkannya kepada Salman Al-Farisy. Salman menerima jagung itu lalu kembali ke rumah Fatimah. Setelah menerima jagung dari Salman Al-Farisy, Fathimah menggiling jagung untuk dibuat roti. Roti yang sudah masak itu, semuanya diserahkan kepada tamunya tanpa menyisakan sedikit pun untuk dirinya dan keluarganya.

Pemuka Wanita Surga

Salman Al-Farisy berkata kepada Fathimah, “Wahai Fathimah, sisakanlah barang sedikit untuk putra-putramu yang belum makan.” Fathimah menjawab, “Salman, sungguh aku tidak berhak berbuat demikian. Aku ingin memberikan kerudung itu semata-mata karena Allah.” Sungguh mulia akhlak Fathimah. Pantas saja, kalau suatu ketika malaikat datang kepada Rasulullah saw., dan berkata,

“Sungguh Fathimah adalah pemuka kaum wanita penghuni surga.” (HR. Hakim).

Dalam sebuah hadis juga disebutkan, “Fathimah adalah pemuka kaum wanita penghuni surga di samping Maryam binti ‘Imran.” (HR. Ahmad)

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply