Faktor Pengotor Hati Dan Kiat Membersihkannya

Saudaraku, seringkali kita berusaha menjaga pakaian kita agar tidak kotor, tidak terkena noda. Kita rajin menjaga penampilan kendaraan kita agar senantiasa bersih dan sedap dipandang mata, hingga rela merogoh uang dalam-dalam. Namun sayangnya, kita seringkali lalai untuk menjaga ati kita agar tidak terkena noda. Allah Swt berfirman,

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams [91]: 9-10).

Rasulullah Saw bersabda, “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim).

Bersihnya hati atau qalbun saliim adalah pengantar kepada kedekatan dengan Allah Swt. Semakin bersih hati seseorang, maka semakin mudah baginya untuk yakin kepada Allah Swt. Saudaraku, dalam hadits di atas Rasulullah Saw menegaskan bahwa hati adalah penggerak, panglima, poros, dan pusat segala ibadah kita. Hati yang bersih akan membuat orang jadi mudah bangun malam untuk Tahajud, tadarus Al Qur`an, bersegera datang ke masjid manakala adzan berkumandang, dan amal-amal shaleh lainnya. Hati yang bersih akan menjadi penggerak kita untuk cenderung pada kebaikan dan menjauhi keburukan.

Pentingnya Bersih Hati Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An Nasa’i, Anas bin Malik menceritakan satu peristiwa yang dialaminya ketika hadir dalam sebuah majelis Rusulullah Saw. Tatkala Nabi Muhammad Saw duduk-duduk dan berbincang di masjid bersama para sahabatnya, tiba-tiba Nabi Saw bersabda, “Tak lama lagi, seorang calon penghuni surga akan datang kemari.” Pandangan para sahabat pun mengarah ke pintu masjid. Mereka tentu berpikir bahwa calon penghuni surga itu pasti seseorang yang luar biasa.

Tidak lama kemudian, datanglah seseorang yang wajahnya masih basah dengan air wudhu. Sambil menjinjing alas kakinya, pria itu memasuki masjid. Sekilas nampak tidak ada yang istimewa pada orang itu. Lantas apa gerangan keistimewaan dirinya hingga Rasulullah Saw menyebutnya sebagai calon penghuni surga? Namun tidak seorang pun dari para sahabat Rasulullah Saw yang mau bertanya, walaupun sebenarnya mereka sangat penasaran. Kejadian di atas terulang kembali di keesokan harinya. Begitu juga di hari berikutnya.

Setiap kedatangan pria ini ke dalam masjid, Rasulullah Saw selalu mengulangi ucapannya yang menyebutkan bahwa akan datang seorang calon penghuni surga ke dalam masjid tersebut. Salah seorang sahabat Nabi Saw, yaitu Abdullah bin Umar Ra, merasa sangat penasaran. Abdullah bin Umar ingin sekali melihat secara langsung apa sebenarnya yang dilakukan oleh calon penghuni surga itu dalam kehidupan sehari-harinya.

Abdullah bin Umar pun mendatangi rumah pria itu dan minta izin untuk tinggal dan menginap di rumahnya selama tiga hari tiga malam. Selama waktu itu, Abdullah bin Umar diam-diam memperhatikan ibadah apa saja yang dilakukan oleh orang itu. Ibadah-ibadah wajib memang selalu dikerjakan olehnya, namun Abdullah tidak menemukan ibadah khusus yang dilakukannya, seperti shalat malam atau shaum sunah atau amalan khusus lainnya.

Memang ada amalan khusus yang selalu dilakukan pria itu, yaitu setiap ia terbangun dari tidurnya ia terdengar menyebut nama Allah (dzikir) di tempat tidurnya. Tapi itupun hanya sebentar karena ia akan melanjutkan tidurnya.

Begitu pula di siang hari. Pria itu bekerja seperti biasa sebagaimana orang lain bekerja. Ia pergi ke pasar sebagaimana orang lain pergi ke pasar. Abdullah bin Umar makin penasaran, ia menduga ada amal yang disembunyikan pria itu darinya.

Akhirnya, Abdullah pun berterus terang kepada pria itu tentang maksud dan tujuannya tinggal dan bermalam di rumahnya. “Apakah yang engkau perbuat sehingga Nabi Saw menyebut engkau sebagai seorang calon penghuni surga?” tanya Abdullah. Namun, pria itu hanya menjawab, “Apa yang engkau lihat, itulah yang aku lakukan.”

Mendengar jawabannya, Abdullah bin Umar bermaksud pulang saja dengan membawa rasa kecewa. Namun, sebelum Abdullah beranjak, pria itu memegang pergelangan tangan Abdullah dan berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk (prasangka buruk) terhadap kaum Muslimin, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.”

Lalu Abdullah bin Umar berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslimin, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.”

Saudaraku, demikianlah betapa hati yang bersih akan membawa kita kepada kemenangan sejati. Pentingnya kebersihan hati juga ditegaskan oleh Allah Swt di dalam firman-Nya, Artinya: “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy Syu’araa [26]: 88-89).

Faktor Utama Pengotor Hati

Dua hal yang paling dominan membuat hati manusia menjadi kotor adalah cinta dunia dan hawa nafsu.

  1. Cinta Dunia
  2. Hawa Nafsu

Tips Menjaga Kebersihan Hati

  1. Jangan Sibuk Dengan Penilaian Orang.
  2. Hindari obrolan yang tidak perlu.
  3. Mujahadah
  4. Bersikap Wara`.
  5. Evaluasi diri.

Apa saja penjelasannya? Lebih dalam silahkan download ebook-nya klik di sini. | Faktor Pengotor Hati Dan Kiat Membersihkannya

Cetakan I, April 2012
Penulis: Abdullah Gymnastiar
Editor: Rashid Satari
Desainer/Layouter: Agus Anwar
Diterbitkan oleh: SMS Tauhiid – Jl. Gegerkalong Girang No. 30F Bandung

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply