Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya

Syeikh Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam salah satu kesempatan cerita bahwa sudah menulis 50 ribu halaman buku. Saya yang duduk tepat di depan Beliau saat itu agak bengong juga. Tidak terbayang gimana cara nulisnya, 50 ribu halaman.

Saat itu memang hampir semua karya Beliau dipajang di tengah-tengah masjid tempat kami bertemu muka. Dan beliau sempat memberikan ijazah kepada kami yang hadir untuk menggunakan karya-karya beliau.

Setiap orang yang pernah belajar kepada Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub pasti pernah dengar jargon dari beliau terkait dengan ajakan beliau untuk menulis.

Jangan sekali-kali kamu mati kecuali kamu sudah jadi penulis.
Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub

Kalimat ini seperti pelesetan dari ayat Al-Quran walaa tamutunna illa wa antum muslimun. Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Beliau termasuk orang yang cukup produktif dalam menulis. Cukup banyak buku yang beliau miliki baik berupa terjemahan dari Bahasa Arab ataupun juga yang Beliau tulis sendiri.

Salah satu titik kelemahan orang-orang berilmu yang saya kenal adalah kebiasaan mereka yang sangat mengandalkan lisan sebagai sarana membagikan ilmu. Sedangkan nikmat Allah yang satunya lagi, yaitu kemampuan menulis, sementara disia-siakan begitu saja dan tidak disyukuri.

Menyikapi hal ini penulis, Ahmad Sarwat, Lc. MA berendapat, “Sebenarnya saya bisa memaklumi keadaan ini. Misalnya karena kebanyakan orang belajar agama juga tidak lewat tulisan, melainkan lewat pemaparan lisan. Jadi buat apa menulis, toh pada tidak baca tuh. Selain itu ada alasan lain, misalya sejak masih kuliah tidak dibiasakan untuk menuliskan ilmu yang mereka dapatkan.”

Mereka terbiasa membaca kitab turats atau tulisan ilmiyah modern, namun kemampuannya hanya terasah hingga membaca dan memahami serta menjelaskan lewat lisan saja. Sedangkan skill bagaimana menuliskan ilmunya lewat tulisan, ternyata sangat lemah dan sama sekali tidak terasah sejak kuliah.

Maka fenomena ulama miskin karya tulis ilmiyah dianggap sebagai hal yang wajar, masuk akal, dan manusiawi. Tidak dianggap sebagai kekurangan, apalagi sebagai kesalahan.

Baca selengkapnya, download klik di sini.

Judul: Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya
Penulis: Ahmad Sarwat, Lc. MA
Terbit: 10 April 2020
Penerbit: Rumah Fiqih Publishing
Halaman: 48
Legalitas: Waqaf/Gratis

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply