Prabowo Orang Baik!

“Pak Prabowo orang baik. Dia bagian dari perjalanan hidup saya,” kata Jokowi (MerdekaDotCom)

Pilkada DKI 2012 adalah sebuah Pilkada mempertemukan pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Jokowi saat itu masih menjabat Walikota Solo, dan Ahok masih anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar periode 2009-2014.

Pencalonan pasangan Jokowi dan Ahok di Pilkada DKI 2012 melalui proses yang tidak gampang, penuh intrik dan ketegangan. Saat itu Fauzi Bowo sebagai Gubernur Petahana (7 Oktober 2007 — 7 Oktober 2012) sudah mengantongi tiket untuk maju sebagai calon gubernur periode berikutnya, berpasangan dengan Nachrowi Ramli (Partai Demokrat), didukung oleh 7 partai politik, Partai Demokrat, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Matahari Bersinar (PMB).

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) maju sendiri karena kursi di DPRD DKI mencukupi untuk pencalonan untuk Pilkada. PKS mengusung Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR) dan Didik J. Rachbini (PAN).

Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan 16 Partai lainya, mengusung Alex Nurdin (Gubernur Sumsel 2007-2012) dan Mayor Jenderal Dr. Nono Sampono (TNI AL).

Pasangan Independen Faisal Batubara (dikenal sebagai Faisal Basri) — Biem Triadi Benjamin (Anak Benjamin Syuaib) kemudian  Pasangan Herdardji Soepandji (Danpuspom TNI 2006-2007) dan Ahmad Riza Patria (Kader Gerindra)

2 hari jelang batas akhir pengajuan calon peserta Pilkada DKI 2012, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) masih belum menentukan sikap. Di internal PDIP banyak pihak melakukan lobi-lobi mendekati Megawati Soekarno Putri untuk mengusungkan calon yang mereka unggulkan. Dari luar PDIP juga ada  melakukan lobi-lobi mendekati alm. Taufik Kiemas (Suami Megawati) untuk mengajukan calon unggulannya.

PDIP dengan 11 Kursi di DPRD DKI tak bisa mencalonkan sendiri karena kurang 4 kursi syarat minimum pencalonan Pilkada DKI. Partai yang memiliki kursi di DPRD DKI yang belum mencalonkan hanya Gerindra. Di internal Gerindra juga ada kasak-kusuk untuk mencalonkan kader sendiri, salah satunya adalah Ahmad Riza Patria.

Suasana politik Nasional saat itu tegang sekali, Piikada DKI sangat menentukan siapa yang akan jadi pengganti Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden saat itu yang akan mengakhiri jabatannya 20 Oktober 2014. Siapa pemenang Pilkada DKI akan sangat diunggulkan untuk calon Presiden RI periode 2014-2019.

Megawati (Ketua Umum PDIP) dan Prabowo (Pendiri Gerindra) belum ada kata sepakat siapa yang akan dicalonkan. Petinggi PDIP dan Gerindra masih melakukan pembicaraan secara tertutup. Saat tengat akhir pencalonan Jokowi berada di Solo menjalankan tugas sebagai Walikota Solo dengan perasaan galau menunggu kepastian.

Bagi Jokowi ini saat penentuan karir politiknya, sebagai Walikota Solo dia menjalani perode ke 2, dan tidak mungkin lagi ikut Pilkada Solo. Untuk ikut dalam pertarungan Pilkada Jawa Tengah dia harus masih menunggu karena masa Jabatan Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bibit Waluyo baru berakhir 23 Agustus 2013. Tokoh yang diunggulkan saat itu adalah kader senior PDIP Ganjar Pranowo orang yang cukup dikenal masyarakat Jawa Tengah karena dia terpilih jadi anggota DPR dari Jawa Tengan 2 kali ( 2004–2009 dan 2009–2013). Kedekatan Ganjar dengan Megawati tak diragukan lagi.

Prabowo Subiyanto terus melakukan pendekatan dengan Megawati, sejarah mencatat bahwa Megawati adalah pasangannya saat Pilpres 2009, Megawati sebagai capres dan Prabowo sebagai cawapres. Mereka memiliki hubungan yang sangat baik.

Sampai beberapa jam jelang batas akhir pencalonan, belum terjadi kesepakatan antara Prabowo dan Megawati, waktu terus bergulir. Masing-masing masih keukeuh dengan pendapat dan siapa yang bakal dicalonkan. Kuat dugaan waktu Megawati akan mencalonkan Fauzi Bowo atau Foke. (ProKaltim)

Waktu terus berlalu menuju tengat akhir pendaftaran calon, dengan sedikit menekan Prabowo meminta Megawati untuk meminjamkan Jokowi untuk dicalonkan Gerindra dengan partai-partai kecil, dan Megawati dipersilahkan bergabung dengan koalisi Foke-Nara. (ProKaltim)

Akhirnya pada pertemuan keempat, Megawati trenyuh dengan tekad Prabowo mencalonkan Jokowi sebagai calon Gubernur DKI. Maka terjadilah kata sepakat antara Prabowo dan Megawati untuk mengusung pasangan Jokowi-Ahok.

Pada putaran I Pilkada DKI, Foke-Nara mengungguli pasangan Jokowi-Ahok. Maka Pilkada DKI berlanjut putaran kedua. Jokowi-Ahok memenangkan pertarungan pilkada DKI dan terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur.

Belakangan hari, 21 Januari 2019, Hasyim Djoyohadikusumo mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan public. Dia mengakui atas permintaan Prabowo dia harus membiayai Jokowi-Ahok saat Pilkada DKI 2012 :

“Hashim menampik bila menggelontorkan dana untuk Jokowi sebanyak Rp 600 miliar pada Pilgub DKI 2012. Dia hanya mengaku mengeluarkan uang yang sangat besar. Hashim mengaku memiliki bukti tersebut. Dia berani membuktikan bila pertanyaan diprotes oleh Jokowi. Beberapa kali Pak Jokowi datang ke kantor saya cukup sering dan minta bantuan waktu itu yah karena Pak Prabowo yang usung Jokowi juga Ahok. Kan dari kami walau pun pak Jokowi dari PDIP tapi Pak Prabowo yaang usulkan Jokowi ke Mega,” ungkap Hashim.(Merdeka)

“Selama saya menjadi bagian kabinet beliau (Jokowi), saya bersaksi bahwa beliau terus berjuang demi kepentingan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia” (Kompas)

Kesaksian Prabowo ini merupakan pujian untuk Jokowi. Jokowi juga orang baik

5 Syawal 1441 H

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply