Hukum dan Keadilan

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri pasti aku memotong tangannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dikisahkan, seorang wanita Bani Mahzum, salah satu kelompok yang sangat terpandang dari etnis Quraisy, kedapatan mencuri. Untuk menutupi aib dan rasa malu, para pemuka Bani Mahzum meminta tolong Usamah yang tergolong dekat dengan Nabi Muhammad SAW agar melakukan pendekatan dan lobi kepada Baginda Rasul.

Ternyata, Usamah gagal total. Usahanya sia-sia belaka. Nabi langsung menghardik dan memberi peringatan keras kepadanya. “Apakah kamu mau menyuap (korupsi) soal hukum (ketentuan) dari undang-undang Allah?” tegurnya.

Inilah Asbabul Wurud (sebab-sebab munculnya hadis) hadis diatas, Rasululullah SAW sudah menerapkan “equality before the law” (persamaan kedudukan dalam Hukum). Hukum ditegakkan berdasarkan persamaan hak , tak memandang kedudukan, pangkat, dan harta. Semua orang berhak mendapatkan hukum yang adil.

Indonesia sebagai sebuah negara hukum dan demokrasi , mengatur “equality before the law” dalam Konstitusi kita, UUD 1945 Pasal 27 ayat 1 :

Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya

Empat belas abad yang lalu, Baginda Nabi Muhammad SAW sudah menegaskan asas “equality before the law” secara tegas dan keras “Seandainya Fatimah binti Muhammad” mencuri pasti aku potong tangannya. 

Jumat, 15 Maret 2019, Komisi Pemberantasan Korupsi mengOTT MR, di lokasi OTT ditemukan uang ratusan juta, dan diamankan oleh KPK sebagai barang bukti. MR adalah seorang Ketua Parpol yang ikut mencalonkan Jokowi untuk Pilpres 2019. Walau sempat ingin kabur  menghindari petugas KPK MR berhasil ditangkap. Tak berapa lama dari OTT , KPK menetapkan MR sebagai tersangka. 

Setelah proses pemeriksaan selama hampir satu tahun, kasus Muhammad Romahurmuziy disidang. Jaksa KPK mengajukan tuntutan “Pidana Penjara 4 tahun dan denda Rp. 250.000.000,- subsider 5 bulan penjara” . Pada tingkat Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Hakim Tipikor memvonis MR pidana 2 tahun penjara, dan denda 100 juta rupiah subsider 3 bulan kurungan. Diskon 50% dari tuntukan Jaksa KPK.

Romy mengajukan Banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta, Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta mejatuhkan Vonis 1 tahunan pidana penjara dan denda 100 juta subsider 3 bulan kurungan. Vonis ini lebih rendah 50% dari putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Romy mendapatkan dua kali diskon 50% dari 2 putusan pengadilan.

KPK ajukan Kasasi atas putusan Pengadilan Tinggi Jakarta ke Mahkamah Agung.

2 Agustus 2009, Mbok Minah sedang memanen kedelai di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan. Saat itu, mata kecilnya melihat 3 buah kakao yang sudah matang di pohon di lahan yang juga dikelola oleh perusahaan tempat dia bekerja.sedang memanen kedelai di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, diambil dan digeletakkan di bawah pohon.

Seminggu setelah penemuan 3 biji kakao oleh Mbok Minah, si MBok dipanggil Polisi untuk diperiksa, tak sampai 3 bulan kasus ini dsidangkan dan Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Purwokerto mengajukan tuntutan pidana pencurian atas 3 biji kakao untuk kasus mbok Minah ini, tak sampai 3 ribu perak. PN Purwokerto menjatuhkan hukuman pidana percobaan 1 bulan 15 hari dengan ketentuan bila dalam 3 bulan berikutnya tidak melakukan tindakan pidana lainnya.

Mbok Minah, hanya seorang manusia biasa, hidupnya boleh dikatakan miskin, dan bukan pula Ketua Parpol.

Sudah adilkah hukum kita?

2 Syawal 1441 H.

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply