Buya Hamka, Seteguh Karang!

Menurut keyakinan kita, suatu kemajuan, pembangunan, ketinggian dan martabat yang mulia diantara bangsa-bangsa, bagi kita umat Islam, tidaklah dapat dicapai kalau tidak berdasar kepada akidah dan akhlak Islam! Orang Barat bisa saja berjuang mempertahankan tanah airnya, tampil ke medan perang, bertempur melawan musuh sambil minum vodka dan whisky, sambil menyanyi, dan berdansa dan sambil istirahat pergi ke tempat perempuan lacur yang sudah disediakan untuk pelepaskan dahaga mereka.”

Prof. DR. Haji Malik Karim Amrullah (Hamka)
 

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka lahir di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981.  Ayahnya Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, merupakan pelopor Gerakan Islam di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

Buya Hamka dididik agama dengan bagus oleh ayahnya sejak kecil. Ketika usia 10 tahun, ayahnya mendirikan Sekolah Sumater Thawalib di Padang Panjang. Di situ Buya Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Buya Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek), Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.

Sejak muda, dikenal sebagai seorang pengelana. Bahkan ayahnya, memberi gelar Si Bujang Jauh. Pada usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu agama lebih mendalam. Ia menjalin hubungan dan berguru dengan HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin.

Setelah setahun lamanya berada di Jawa, pada bulan Juli 1925 Buya Hamka kembali ke Padang Panjang. Di Padang Panjang, ia menulis majalah pertamanya berjudul Chatibul Ummah, yang berisikan kumpulan pidato yang didengarkannya di Surau Jembatan Besi, dan Majalah Tabligh Muhammadiyah. Ia juga sempat beberapa kali ceramah di sana, tapi pidatonya itu dikritik tajam oleh ayahnya, “Pidato-pidato saja adalah percuma, isi dahulu dengan pengetahuan, barulah ada arti dan manfaatnya pidato-pidatomu itu”.

Pada bulan Februari 1927, ia mengambil keputusan pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu pengetahuan kegamaannya. Ia pergi tanpa pamit kepada ayahnya dan berangkat dengan biaya sendiri. Selama di Makkah, ia merangkap menjadi koresponden Harian Pelita Andalas sekaligus bekerja di sebuah perusahaan percetakan. Di tempat ia bekerja itu, ia rajin membaca kitab-kitab klasik, buku-buku, dan buletin Islam dalam bahasa Arab, satu-satunya bahasa asing yang dikuasainya

Setelah menunaikan haji, dan beberapa lama tinggal di Tanah Suci, ia berjumpa dengan Agus Salim dan sempat menyampaikan hasratnya untuk menetap di Makkah, tetapi Agus Salim justru menasihatinya untuk segera pulang.

“Banyak pekerjaan yang jauh lebih penting menyangkut pergerakan, studi, dan perjuangan yang dapat engkau lakukan. Karenanya, akan lebih baik mengembangkan diri di tanah airmu sendiri”, ujar Agus Salim. Ia pun segera kembali ke tanah air setelah tujuh bulan bermukim di Makkah.

Sekembalinya dari Makkah, Buya Hamka dinikahkan ayahnya dengan seorang gadis bernama Siti Raham. Di Padang Panjang ini, ia bersama pengurus Muhammadiyah mendirikan sekolah bernama “Kuliiyatul Muballighin”. Buya Hamka sebagai pemimpin dan salah seorang pengajarnya.  Namanya pun mulai dikenal, sehingga ia diminta PP Muhammadiyah untuk menjadi dai di Makassar. Setelah tiga tahun, teman-temannya meminta ia tinggal di Medan. Di kota ini ia memimpin majalah Pedoman Masyarakat.

Majalah Islam ini dibawah pimpinannya maju pesat. Melalui majalah ini, lahirlah karya-karya besarnya seperti Tasauf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup dan Lembaga Budi. Juga karya sastranya yaitu Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Dalam Lembah Kehidupan.

Sekitar tahun 1959, di Jakarta Buya Hamka bersama kawan-kawannya Masyumi, menerbitkan Majalah Panji Masyarakat. Majalah ini mirip dengan majalah Pedoman Masyarakat. Selain memimpin majalah, HAMKA juga aktif mengasuh Masjid al Azhar, Kebayoran Baru, dengan memberikan ceramah tafsir Al Qur’an bakda subuh dan mengimami shalat. Nama Al Azhar diberikan Syekh Mahmud Syaltut ketika berkunjung ke masjid itu. Karena HAMKA tahun sebelumnya, 1958 telah mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar, Kairo.

Majalah Islam ini dibawah pimpinannya maju pesat. Melalui majalah ini, lahirlah karya-karya besarnya seperti Tasauf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup dan Lembaga Budi. Juga karya sastranya yaitu Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Dalam Lembah Kehidupan.

Sekitar tahun 1959, di Jakarta Buya Hamka bersama kawan-kawannya Masyumi, menerbitkan Majalah Panji Masyarakat. Majalah ini mirip dengan majalah Pedoman Masyarakat. Selain memimpin majalah, Buya Hamka juga aktif mengasuh Masjid al Azhar, Kebayoran Baru, dengan memberikan ceramah tafsir Al Qur’an bakda subuh dan mengimami shalat. Nama Al Azhar diberikan Syekh Mahmud Syaltut ketika berkunjung ke masjid itu. Karena Buya Hamka tahun sebelumnya, 1958 telah mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar, Kairo.
Melihat ramainya peminat Panji Masyarakat dan Masjid Al Azhar, koran-koran komunis gerah. Harian Rakyat dan Bintang Timur dan Koran-koran nasionalis pendukung Soekarno mengecamnya tiap hari. Menurut Rusydi Buya Hamka, diberitakan saat itu misalnya : Neo Masyumi muncul di Masjid Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta.

Lewat Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959, Majalah Panji Masyarakat akhirnya dibredel Soekarno. Karena saat itu memuat tulisan Bung Hatta, Demokrasi Kita, yang mengkritik habis-habisan kebijakan Presiden Soekarno.

QMNetwork : https://www.mqfmnetwork.com/sosok-karismatik-buya-hamka/

Keteguhan Buya Hamka seperti karang, pasca pembreidelan Majalah Panjimasyarakat beliau secara konsisten mengritik Soekarno. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) organisasi sayap PKI mulai melakukan serangan kepada buya Hamka. Lekra melakukan tuduhan Plagiator atas Buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Tahun 1962, roman ini menyulut keriuhan di lapangan sastra Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck didakwa plagiat, menjiplak Sous les Tilleuls karya pengarang Perancis Jean-Baptiste Alphonse Karr. Hamka diduga mengambilnya dari saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi, Majdulin atau Magdalena (Di Bawah Naungan Pohon Tilia).

Tirto : https://tirto.id/saat-buya-hamka-didakwa-melakukan-plagiat-cGTS

Atas tuduhan Plagiat, Buya Hamka memilih akan memberikan keterangan yang bersifat ilmiah di Fakultas Satra, Universitas Indonesia

Hamka berharap dibentuk Panitia Kesusastraan yang bersifat ilmiah di bawah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan ia bersedia memberikan keterangan,”

Tirto : https://tirto.id/saat-buya-hamka-didakwa-melakukan-plagiat-cGTS

Buya Hamka juga mendapatkan pembelaan dari Sutan Takdir Alisjahbana (STA), dan Taufik Ismail,

“Pada waktu itu tuduhan [plagiat] tersebut bukan sekadar kasus kritik sastra, melainkan kegiatan bertendensi politik terhadap Hamka sebagai seorang tokoh Islam ~ Sutan Takdir Ali Sjahbana

“… Kita semua diperanjingkan / Gaya rabies klongsongan / Hamka diludahi Pram / Masuk Penjara Sukabumi / Jassin dicaci diserapahi / Terbenam daftar hitam …” ~ Taufik Ismail

Tirto : https://tirto.id/saat-buya-hamka-didakwa-melakukan-plagiat-cGTS

Tekanan dan serangan yang ditujukan kepada Buya Hamka seolah-olah tak ada habis-habisnya. Soekarno pun akhirnya mengeluarkan penangkapan terhadap Buya Hamka.

Pada 27 Agustus 1964, HAMKA ditangkap oleh aparat presiden Soekarno dan dimasukkan dalam penjara. Lebih dari dua tahun ia mendekam di penjara sampai akhirnya Soekarno jatuh dan komunis dibubarkan. Ulama besar ini dituduh mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia untuk membunuh Soekarno dan menerima uang dari Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri Malaysia saat itu.

Hidayatullah : https://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2013/02/19/65870/kesederhanaan-hamka.html

Tahun 1975, HAMKA diminta Mukti Ali Menteri Agama saat itu untuk menjadi Ketua MUI. HAMKA menerimanya. Tapi jabatan itu hanya bertahan lima tahun.

Pada tahun 1978 HAMKA mengritik keras keputusan pemerintah tentang penghapusan libur Ramadhan. Pemicunya adalah keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef untuk mencabut ketentuan libur selama puasa Ramadan, yang sebelumnya sudah menjadi kebiasaan.


Tahun 1980, ia lagi-lagi konflik dengan pemerintah, dengan Menteri Agama Alamsjah Ratuperwiranegara menteri agama waktu itu. MUI banyak menerima laporan dari daerah tentang adanya anjuran atau setengah paksaan pada tokoh-tokoh Islam untuk mengadakan perayaan hari-hari besar bersama. 

HAMKA kemudian mengadakan kajian mendalam dan mengeluarkan fatwa haramnya Natal Bersama. Pemerintah terkejut saat itu. Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara, memanggil HAMKA dan pimpinan MUI agar menarik fatwa itu. HAMKA menolak dan kemudian ia mengajukan surat pengunduran diri kepada Alamsyah.

Beberapa bulan kemudian, setelah tidak lagi menjabat MUI, dan menderita berbagai penyakit seperti Diabetes dan penyakit jantung, HAMKA meninggal dunia. Tepatnya pada 24 Juli 1981. 

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply