Beberapa Kisah Penuh Hikmah dari Zaman ke Zaman

Jenuh? Bosan? Ketika aktifitas dan rutinitas lebih banyak di rumah rasa jenuh dan bosan, adalah hal yang lazim (lumrah) karena fitrah manusia itu bergerak, berkumpul-kumpul dan bersosialiasi (bermasyarakat). Bahkan di Jawa ada pameo yang sangat terkenal, “Mangan ora mangan, sing penting Ngumpul” Kini hasrat berkumpul lebih banyak diwujudkan lewat aplikasi Video Call.

Sebenarnya membaca kisah-kisah hikmah dan humor juga dipercaya menepis rasa jenuh dan bosan. Dan tidak jarang kita menemukan gagasan dan ide segar setelah membacanya. Ini beberapa kisah kami sajikan untuk anda.

Kisah Legenda Raja dan Batu

Alkisah di sebuah kerajaan hiduplah seorang raja yang bijaksana. Pada suatu malam, sang raja pergi ke sebuah jalan yang sering dilalui rakyatnya. Kemudian ia meletakkan sebuah batu yang sangat besar tepat di tengah-tengah jalan tersebut.

Ketika pagi hari, orang-orang kebingungan mengapa tetiba ada batu besar di tengah jalan. Sungguh batu itu sangat mengganggu sekali, sehingga mereka mengumpat dan memaki hal tersebut.

Sebagian dari mereka mengeluh dan menghela napas panjang karena perjalanan menjadi terusik olehnya. Sebagian lagi mengucap sumpah serapah kepada siapapun yang telah mendatangkan masalah ini kepada mereka.

Setelah berlangsung cukup lama, suatu hari seorang lelaki berjalan melintasi jalan tersebut. Ia terheran melihat batu besar yang menghalangi seperti itu namun mengapa tak ada orang yang tergerak untuk menyingkirkannya.

Maka sang lelaki mendorong batu tersebut sekuat tenaganya agar bergeser ke tepi jalan. Memang cukup berat dan melelahkan, pantas saja orang-orang tidak ada yang mau melakukannya. Namun pada akhirnya ia berhasil menyelesaikan pekerjaan tersebut meski kelelahan.

Tanpa disangka, rupanya di bawah batu besar itu ada satu kantong uang emas. Sang lelaki merasa gembira memperolehnya. Rupanya raja memang sengaja meletakkan hadiah tersebut, sebagai kejutan bagi siapa saja yang tergerak menyingkirkan batu itu.

Demikianlah legenda tentang raja dan batu yang kerap kali diceritakan dari generasi ke generasi. Betapa banyak kebenaran yang disampaikan dalam kisah tersebut. Bahwa sebagian besar manusia hanya mengeluh saja ketika mereka melihat masalah.

Alih-alih mereka tertantang untuk mencari solusinya, justru yang dilakukan sebatas mengumpat dan menyalahkan orang lain. Mereka hanya menghindar dari masalah, bukannya menyelesaikan. Bukankah peribahasa Arab berkata,

الأفضل أن تضيء شمعة، من أن يلعن الظلام

“Lebih baik menyalakan lilin, daripada mengutuk kegelapan.”

Sangat sedikit sekali orang yang berani menghadapi masalah dan merasa perlu turut andil menanganinya meski hal itu bukan kesalahannya. Bagi orang-orang yang seperti ini, bersiaplah akan mendapat kejutan tak terduga sebagai hasil dari ketulusannya.

Dua Kisah di Zaman Nabi Musa AS

Al-Quran dalam surat Al-Qashash menceritakan tentang seorang multijutawan bernama Qarun yang hidup pada zaman Nabi Musa. Harta berlimpah yang ia miliki justru membuatnya lupa kepada Allah dan menentang kepada Nabi.

Tampak benar bahwa hikmah dari kisah ini untuk mengingatkan kepada kita agar berhati-hati terhadap harta. Ada kalanya harta itu berbahaya karena membuat manusia lupa diri.

Namun Alllah bersikap adil mengenai hal ini. Karena dalam surat yang lain, ada harta yang dikisahkan Al-Quran yang justru tidak berbahaya.

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.”

Ayat 82 dari surat Al-Kahfi di atas merupakan episode ketika Nabi Khidir memperbaiki sebuah dinding karena di bawahnya tersimpan harta (kanzun). Ulama tafsir menjelaskan bahwa harta itu berupa emas dan perak. Apabila dikonversi dengan mata uang kita sekarang, mungkin nilainya milyaran rupiah.

Harta sebanyak itu peninggalan orang tua yang saleh, untuk kedua anak yatim mereka yang juga saleh. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa nama kedua anak itu adalah Ashram dan Sharim. Sedangkan yang dimaksud ayah yang saleh itu adalah kakek moyang yang berada tujuh keturunan di atas mereka.

Sampai di sini kita mendapat satu kesimpulan, bahwa orang saleh juga bisa meninggalkan harta bagi anak-anaknya, bahkan berlimpah. Perniagaan yang jujur, usaha yang halal dan dikelola oleh orang bertakwa, justru membuahkan hasil yang berkah dan mencukupi hingga tujuh keturunan.

Sebagaimana perbuatan sebelumnya, apa yang dilakukan Nabi Khidir selalu mengandung kebaikan. Beliau melubangi perahu, karena akan menjadi baik bagi pemiliknya. Beliau menutup usia seorang anak kecil, karena akan menjadi baik bagi orang tuanya.

Oleh karenanya ketika sang Nabi melindungi harta tersebut atas perintah Allah, tentu saja karena harta itu akan menjadi baik bagi kedua anak yatim yang saleh itu kelak.

Dari sini kita bisa mendapat kembali kesimpulan kedua bahwa tidak selamanya harta itu berbahaya. Ada pula jenis harta yang tidak berbahaya, bahkan menjadi kebaikan bagi pemiliknya. Ada harta yang menjadi wasilah seseorang semakin saleh di sisi Allah. Seperti harta dalam kisah di atas.

Mari kita ambil pelajaran terbaik dari kisah Qarun dan Nabi Khidir di atas yang sama-sama terjadi pada zaman Nabi Musa. Bahwa di dunia ini masih ada harta yang penuh kebaikan dan menjadi wasilah kesalehan. Harta itulah yang patut kita jemput, dengan niat mencari ridha Allah.

Tentu saja dengan jalan yang jujur dan halal, serta ditempuh dengan penuh ketakwaan. Sambil terus muhasabah jangan sampai harta itu berubah membuat kita lupa diri lantas menjadikan kita sebagai Qarun baru di zaman sekarang.

Sumber: Arafat Channel di Telegram

Post Author: ibnumuslim

Leave a Reply