Antara Pekurban, Panitia & Tukang Jagal

Di satu sisi, kepanitiaan qurban yang banyak kita lakukan saat ini, memang tidak terjadi di zaman nabi s.a.w. dalam arti bahwa dulu para sahabat, termasuk Nabi s.a.w. ketika datang hari raya, beliau s.a.w dan para sahabat menyembelih qurbannya sendiri tanpa harus dikumpulkan dan difokuskan dalam satu tempat. Kemudian setelahnya mereka mensedekahkan daging yang sudah disembelih kepada para miskin dan fuqara. Dan itu juga dilakukan sendiri, tidak memperkerjakan salah seorang di antara mereka. Itu yang biasanya terjadi.

Jadi, mengumpulkan sembelihan pada satu tempat dan mnejadi pusat distribusi pembagian daging qurban ya itu terjadi belakangan ini; dalam arti tidak pernah kita dapati kepaniatiaan seperti ini di zaman Nabi s.a.w. Karena itu, tidak kita dapati bagaimana perlakuan Nabi s.a.w. kepada para “panitia” ini, walhasil ada banyak pertanyaan dari umat terkait dengan kepanitian yang jawabannya beda-beda dari satu ustadz ke ustadz lain karena memang standarnya tidak ada.

Rasulullah SAW memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda,

“Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”. (HR. Muslim)

Sebenarnya, inti larangan tersebut berkaitan dengan larangan Nabi s.a.w. untuk menjual kulit qurban. Karena itu, jika kita memberikan upah tukang jagal dengan daging sembelihan; itu seperti bertransaksi dengan tukang jagal dan daging sembelihan jadi bayarannya. Karena apa yang dilakukan oleh tukang jagal adalah jasa, dan jasa itu sesuatu yang bisa dijual belikan. Jika kita upah dengan daging, maka itu seperti membeli jasa jagal dengan bayaran daging sembelihan.

Tukang Jagal Mendapat Jatah Atau Tidak?

Kalau tukang jagal itu diberikan seberapa bagian dari daging kurban karena ia faqir atau sebagai bentuk hadiah, maka itu tidak mengapa, karena ia memang berhak untuk itu seperti yang lainnya. Bahkan ia lebih utama. (Al-Fiqh al-Islami wa Adilatuhu – Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaily 4/281)

Artinya tukang jagal tidak haram-haram amat dapat jatah daging sembelihan. Toh ia juga muslim, yang berhak mendapatkan jatah daging sembelihan itu entah sebagai hadiah atau sebagai sedekah.

Panitia Mendapat Jatah Atau Tidak?

Nah, ini masalah intinya; panitia boleh dapat jatah ngga sih? Perbedaannya ada pada status panitia yang setiap orang melihat berbeda. Ada yang melihat panitia sebagai tukang jagal, sedangkan di sisi lain, tidak sedikit yang melihat panitia sebagai wakil pekurban.

Baca selengkapnya, download klik di sini.

Judul: Antara Pekurban, Panitia & Tukang Jagal
Penulis: Ahmad Zarkasih, Lc
Terbit: Juli 2020
Penerbit: Rumah Fiqih Publishing
Halaman: 91
Legalitas: Waqaf/Gratis

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply