Antara Fiqh dan Tasawuf

Menilai tasawuf sebagai sesuatu yang menyimpang bukanlah perkara ringan, apalagi tasawuf sudah ada sejak lama dan tumbuh bersama tumbuhnya fiqih Islam. Bila ada penyimpangan-penyimpangan, itu hanyalah penyimpangan oknum atau sekelompok orang yang menisbatkan diri kepada tasawuf.

Penyimpangan suatu kelompok dalam satu gerbong ilmu sudah biasa terjadi, seperti dalam kidah, kita bisa lihat kelompok menyimpang seperti Khowarij dan Mujassimah, dalam fiqih juga, ada yang mutasahil seperti orang-orang liberal ada juga juga yang mutasyadid.

Namun yang pasti, tasawuf sudah ada sejak generasi emas umat Islam dan keberadaanya diakui oleh para ulama, bahkan Ibnu Taimiyah (w 728 H) menulis kitab khusus tentang tasawuf yang beliau namai Fiqh at-Tasawuf.

Tasawuf Jalan Membersihkan Hati

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging tersebut
baik, maka baiklah seluruh (perbuatan) tubuh. Dan apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pulalah
seluruh (perbuatan) tubuh. ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati”

Maksudnya adalah apabila hati seorang manusia telah diliputi Iman, secara otomatis akan memerintahkan
jasad untuk mengimplementasikan keImanannya dalam kehidupan nyata, maka bergeraklah jasad mengamalkan
syari’at Islam dengan totalitas.

Namun ada juga orang yang dia memang melakukan amalan-amalan Islam, seperti shalat atau puasa, namun
dia melakukannya asal-asalan, bolong-bolong atau malas-malasan, orang seperti tidak bisa dikatakan sebagai mukmin sejati, namun dikatakan dia adalah seorang muslim, karena dia mengamalkan syari’at Islam dan dihatinya masih ada Iman meskipun lemah.

Ihsan, Derajat Iman yang Tinggi

Adapun Ihsan, maka dia adalah derajat paling tinggi seorang hamba dalam agama Islam, ini dikarenakan seorang yang telah mencapai tingkat keImanan tinggi, akan tampak baginya hal-hal yang ghoib seperti nyata, tak ada lagi dalam hatinya bimbang dan keraguan, oleh sebab itulah nabi Muhammad saw menyatakan bahwa Ihsan adalah “kamu beribadah kepada Allah seperti kamu melihatNya”, dan derajat Ihsan ini hanya dicapai oleh sedikit dari orang-orang mukmin.

Dengan Ihsan inilah seluruh amalan lahir dan amalan batin menjadi sempurna, sebagai konsekuensi dari keyakinan dan kesadaran selalu diawasi oleh Allah swt, akan terjaga seluruh anggota tubuh dari melakukan hal-hal yang buruk, akan terus hadir dalam hatinya kekhusyuan, ikhlas dan rasa takut kepada Allah, akan baik akhlak dan adabnya kepada sesama manusia dan makhluk lainnya, karena dia tahu bahwa itu semua merupakan bentuk ibadah kepada Allah, dan Allah selalu mengawasinya.

Baca selengkapnya, download klik di sini.

Judul: Antara Fiqih dan Tasawwuf
Penulis: Galih Maulana, Lc
Terbit: 1 April 2019
Penerbit: Rumah Fiqih Publishing
Halaman: 26
Legalitas: Waqaf/Gratis

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply