‘Amr bin ‘Ash: Membebaskan Mesir dan Membangun Masjid Pertama

Para muarrikh atau ahli-ahli sejarah biasa menggelari ‘Amr dengan “Penakluk Mesir”. Tetapi, menurut kita gelar ini tidaklah tepat dan bukan pada tempatnya. Mungkin gelar yang paling tepat untuk ‘Amr ini dengan memanggilnya “Pembebas Mesir”.

Islam membuka negeri itu bukanlah menurut pengertian yang lazim digunakan di masa modern ini, tetapi maksudnya tiada lain ialah membebaskannya dari cengkraman dua kerajaan besar yang menimpakan kepada negeri ini serta rakyatnya perbudakan dan penindasan yang dahsyat, yaitu imperium Persi dan Romawi.

Mesir sendiri, ketika pasukan perintis tentara Islam memasuki wilayahnya, merupakan jajahan dari Romawi, sementara per­juangan penduduk untuk menentangnya tidak membuahkan hasil apa-apa. Maka tatkala dari tapal batas kerajaan-kerajaan itu bergema suara takbir dari pasukan-pasukan yang beriman: “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, mereka pun dengan berduyun-duyun segera menuju fajar yang baru terbit itu lalu memeluk Agama Islam yang dengan perantaraannya menemukan kebenaran mereka dari kekuasaan kisra maupun kaisar.

Jika demikian halnya, ‘Amr bin ‘Ash bersama anak buahnya tidaklah menaklukkan Mesir! Mereka hanyalah merintis serta membuka jalan bagi Mesir agar dapat mencapai tujuannya dengan kebenaran dan mengikat norma dan peraturan-peraturannya dengan keadilan, serta menempatkan diri dan hakikatnya dalam cahaya kalimat-kalimat Ilahi dan dalam prinsip-prinsip Islami!

‘Amr bin ‘Ash r.a., amat berharap sekali akan dapat menghindarkan penduduk Mesir dan orang-orang Kopti dari peperangan, agar pertempuran terbatas antaranya dengan tentara Romawi saja, yang telah menduduki negeri orang secara tidak sah, dan mencuri harta penduduk dengan sewenang-wenang. Oleh sebab itulah kita dapati ia berbicara ketika itu kepada pemuka-pemuka golongan Nasrani dan uskup-uskup besar mereka, katanya:

“Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad saw. membawa kebenaran dan menitahkan kebenaran itu. Dan sesungguhnya ia saw. telah menunaikan tugas risalatnya kemudian berpulang setelah meninggalkan kami di jalan lurus terang benderang.

Di antara perintah-perintah yang disampaikannya kepada kami ialah memberikan kemudahan bagi manusia. Maka kami menyeru kalian kepada Islam.

Barang siapa yang memenuhi seruan kami, maka ia termasuk golongan kami, memperoleh hak seperti hak-hak kami dan memikul kewajiban seperti kewajiban-kewajiban kami. Dan barang siapa yang tidak memenuhi seruan kami itu, kami tawarkan membayar pajak, dan kami berikan padanya keamanan serta perlindungan. Dan sesungguhnya Nabi kami telah memberitakan bahwa Mesir akan menjadi tanggung jawab kami untuk membebaskannya dari penjajah, dan diwasiatkannya kepada kami agar berlaku baik terhadap penduduknya, sabdanya:

“Sepeninggalku nanti, Mesir, menjadi kewajiban kalian untuk membebaskannya, maka perlakukanlah penduduknya dengan baik, karena mereka masih mempunyai ikatan dan hubungan kekeluargaan dengan kita!”

Maka jika kalian memenuhi seruan kami ini, hubungan kita semakin kuat dan bertambah erat!

‘Amr menyudahi ucapannya, dan sebagian uskup dan pendeta menyerukan: “Sesungguhnya hubungan silaturrahmi yang diwasiatkan Nabimu itu adalah suatu pendekatan dengan pandangan jauh, yang tak mungkin disuruh hubungkan kecuali oleh Nabi!”

Percakapan ini merupakan permulaan yang baik untuk tercapainya saling pengertian yang diharapkan antara ‘Amr dan orang Kopti penduduk Mesir, walau panglima-panglima Romawi berusaha untuk menggagalkannya.

Terinspirasi Negus (Najasy) Raja Habsy

‘Amr bin ‘Ash tidaklah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. la baru masuk Islam bersama Khalid bin Walid tidak lama sebelum dibebaskannya kota Mekah.

Keislamannya itu diawali dengan bimbingan Negus (Najasy) raja Habsyi. Sebabnya ialah karena Negus ini kenal dan menaruh rasa hormat terhadap ‘Amr yang Sering bolak-balik ke Habsyi dan mempersembahkan barang-barang berharga sebagai hadiah bagi raja. Di waktu kunjungannya yang terakhir ke negeri itu, tersebutlah berita munculnya Rasul yang menyebarkan tauhid dan akhlaq mulia di tanah Arab. Maharaja Habsyi itu menanyakan kepada ‘Amr kenapa ia tak hendak beriman dan mengikutinya, padahal orang itu benar-benar utusan Allah? “Benarkah begitu…?” tanya ‘Amr kepada Negus. “Benar”, ujar Negus, “Turutlah petunjukku, hai ‘Amr dan ikutilah dia! Sungguh dan demi Allah, ia adalah di atas kebenaran dan akan mengalahkan orang-orang yang menen­tangnya!”

Secepatnya ‘Amr terjun mengarungi lautan kembali ke kampung halamannya, lalu mengarahkan langkahnya menuju Madinah untuk menyerahkan diri kepada Allah Robbul’alamin. Dalam perjalanan ke Madinah itu ia bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah, yang juga datang dari Mekah dengan maksud hendak bai’at kepada Rasulullah. Demi Rasul melihat ketiga orang itu datang, wajahnya pun berseri-seri, lalu katanya pada shahabat-shahabatnya:

“Mekah telah melepas jantung-jantung hatinya kepada kita… Mula-mula tampil Khalid dan mengangkat bai’at. Kemudian majulah ‘Amr dan katanya:

“Wahai Rasulullah! Aku akan bai’at kepada anda, asal saja Allah mengampuni dosa-dosaku yang terdahulu…” Maka jawab Rasulullah saw.:

“Hai ‘Amr! Bai’atlah, karena Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya!”

‘Amr pun bai’at, dan diletakkannya kecerdikan dan keberaniannya dalam darma baktinya kepada Agamanya yang baru. Tatkala Rasulullah saw. berpindah ke Rafiqul A’la, ‘Amr sedang berada di Oman menjadi gubernurnya. Dan di masa pemerintah Umar, jasa-jasanya dapat disaksikan dalam peperangan-peperangan di Syria, kemudian dalam membebaskan Mesir dari penjajahan Romawi.

Menjadi Gubernur Mesir

Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab melihatnya datang. Ia tersenyum melihat caranya berjalan itu, lalu katanya:

“Tidak pantas bagi Abu Abdillah akan berjalan di muka bumi kecuali sebagai amir!”

Sungguh, sebenarnya ‘Amr atau Abu Abdillah tidak mengurangkan haq dirinya ini! Bahkan ketika bahaya-bahaya besar datang mengancam Kaum Muslimin, ‘Amr menghadapi peristiwa-peristiwa itu dengan cara seorang amir, seorang amir yang cerdik dan licin serta berkemampuan, menyebabkannya percaya akan dirinya, serta yakin akan keunggulannya!

Tetapi di samping itu ia juga memiliki sifat amanat, menyebabkan Umar bin Khatthab, seorang yang terkenal amat teliti dalam memilih gubernur-gubernurnya, menetapkan sebagai gubernur di Palestine dan Yordania, kemudian di Mesir selama hayatnya Amirul Mu’minin ini.

Bahkan ketika Amirul Mu’minin mengetahui bahwa ‘Amr, dalam kesenangan hidup telah melampaui batas yang telah digariskannya terhadap para pembesarnya, dengan tujuan agar taraf hidup mereka setingkat atau hampir setingkat dengan taraf hidup umumnya rakyat biasa, maka khalifah tidaklah memecatnya, hanya mengirimkan Muhammad bin Maslamah dan memerintahkannya agar membagi dua semua harta dan barang ‘Amr, lalu meninggalkan untuknya separohnya, sedang yang separuhnya lagi hendaklah dibawanya ke Madinah untuk Baitul mal.

‘Amr bin ‘Ash r.a. adalah seorang yang berfikiran tajam, cepat tanggap dan berpandangan jauh, hingga Amirul Mu’minin Umar, setiap ia melihat seorang yang sedikit akal, dipertepukkannya kedua telapak tangannya dengan keras karena herannya, seraya katanya:

“Subhanallah! Sesungguhnya Pencipta orang ini dan Pencipta ‘Amr bin ‘Ash hanyalah Tuhan Yang Tunggal, keduanya sama benar!”

Di samping itu ia juga seorang yang amat berani dan ber­kemauan keras.

Pada beberapa peristiwa dan suasana, keberaniannya itu dihadapinya dengan kelihaiannya, hingga disangka orang ia sebagai pengecut atau penggugup. Padahal itu tiada lain dari tipu muslihat yang keistimewaanya yang oleh ‘Amr digunakannya secara tepat dan dengan kecerdikan mengagumkan untuk membebaskan dirinya dari bahaya yang mengancam!

Amirul Mu’minin Umar mengenal bakat dan kelebihannya ini sebaik-baiknya, serta menghitungkannya dengan sepatutnya. Oleh sebab itu sewaktu ia dikirimnya ke Syria sebelum pergi ke Mesir, dikatakan orang kepada Umar bahwa tentara Romawi dipimpin oleh Arthabon, maksudnya panglima yang lihai dan gagah berani. Jawaban Umar ialah:

“Kita hadapkan arthabon Romawi kepada arthabon Arab, dan baiklah kita saksikan nanti bagaimana akhir kesudahannya!”

Ternyata bahwa pertarungan itu berkesudahan dengan kemenangan mutlak bagi arthabon Arab dan ahli tipu muslihat mereka yang ulung ‘Amr bin ‘Ash, sehingga arthabon Romawi, meninggalkan tentaranya menderita kekalahan dan meluputkan diri ke Mesir, yang tak lama antaranya akan disusul oleh ‘Amr ke negeri itu untuk membiarkan bendera dan panji-panji Islam di angkasanya yang aman damai.

Membangun Masjid

Di pangkuan bumi Mesir, negeri yang diperkenalkannya dengan ajaran Islam itu, bersemayamlah tubuh kasarnya. Dan di atas tanahnya yang keras, majliasnya yang selama ini digunakannya untuk mengajar, mengadili dan mengendalikan pemerintahan, masih tegak berdiri melalui kurun waktu, dinaungi oleh atap mesjidnya yang telah berusia lanjut “Jami’u ‘Amr”, yakni mesjid yang mula pertama didirikan di Mesir, yang disebut di dalamnya asma Allah Yang Tunggal lagi Esa serta dikumandangkan ke setiap pojoknya dari atas mimbarnya kalimat-kalimat Allah serta pokok-pokok Agama Islam.

Dan pada tahun ke-43 Hijrah, wafatlah ‘Amr bin ‘Ash di Mesir, sewaktu ia menjadi gubernur di sana. Di saat-saat menjelang kepergiannya itu, ia mengemukakan riwayat hidupnya, katanya:

“Pada mulanya aku ini seorang kafir, dan orang yang amat keras sekali terhadap Rasulullah hingga seandainya aku meninggal pada saat itu, pastilah masuk neraka. Kemudian aku bai’at kepada Rasulullah, maka tak seorang pun di antara manusia yang lebih kucintai, dan lebih mulia dalam pandangan mataku, daripada beliau!

Dan seandainya aku diminta untuk melukiskannya, maka aku tidak sanggup karena disebabkan hormatku kepadanya, aku tak kuasa menatapnya sepenuh mataku! Maka seandainya aku meninggal pada saat itu, besar harapan akan menjadi penduduk surga!

Kemudian setelah itu, aku diberi ujian dengan memperoleh kekuasaan begitupun dengan hal-hal lain. Aku tidak tahu, apakah ujian itu akan membawa keuntungan bagi diriku ataukah kerugian!”

Lalu diangkatnya kepalanya ke arah langit dengan hati yang tunduk, sambil bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Pengasih, katanya:

“Oh Allah, daku ini orang yang tak luput dari kesalahan, maka mohon dimaafkan! Daku tak sunyi dari kelemahan, maka mohon diberi per­tolongan! Sekiranya daku tidak memperoleh rahmat karunia-Mu, pasti celakalah nasibku!”

Demikianlah ia asyik dalam permohonan dan penghinaan diri hingga akhirnya ruhnya naik ke langit tinggi, di sisi Allah Rabbul’izzati, sementara akhir ucapan penutup hayatnya, ialah: La ilaha illallah. []

Jangan lupa downlad ebooknya, KLIK di SINI ajah.

60 Sahabat AMR bin ASH

 

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply