‘Ammar Bin Yasir, Seorang Tokoh Penghuni Surga

Seandainya ada orang yang dilahirkan di Surga, lalu dibesarkan dalam haribaannya dan jadi dewasa, kemudian dibawa ke dunia untuk jadi hiasan dan nur cahaya, maka ‘Ammar ber­sama ibunya Sumayyah dan bapaknya Yasir, adalah beberapa orang di antara mereka.

Tetapi kenapa kita mengatakan tadi “seandainya”, seolah-olah itu hanya pengandaian belaka, padahal keluarga Yasir benar-benar penduduk Surga? Ketika Rasulullah saw. bersabda:

“Shabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah dijanjikan bagi kalian adalah Surga!”

Kata-kata itu diucapkannya bukanlah hanya sebagai hiburan belaka, tetapi benar-benar mengakui kenyataan yang diketahui­nya dan menguatkan fakta yang dilihat dan disaksikannya.

Disiksa karena Beriman

Siksaan yang dialami oleh ‘Ammar dilukiskan oleh kawan-wannya dalam beberapa riwayat. Berkata ‘Amar bin Hakam:
‘Ammar itu disiksa sampai-sampai ia tak menyadari apa yang diucapkannya.”

Berkata pula ‘Ammar bin Maimun: “Orang-orang musyrik membakar ‘Ammar bin Yasir dengan api. Maka Rasulullah saw. lewat di tempatnya lalu meme­gang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda: “Hai api, jadilah kamu sejuk dingin di tubuh ‘Ammar, sebagaimana dulu kamu juga sejuk dingin di tubuh Ibrahim.”

Bagaimanapun juga, semua bencana itu tidaklah dapat menekan jiwa ‘Ammar, walau telah menekan punggung dan menguras tenaganya. Ia baru merasa dirinya benar-benar celaka, ketika pada suatu hari tukang-tukang cambuk dan para penderanya menghabiskan segala daya upaya dalam melampiaskan kedhaliman dan kekejiannya, semenjak hukuman bakar dengan besi panas, sampai disalib di atas pasir panas dengan ditindih batu laksana bara merah, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulit­nya yang penuh dengan luka.

Menyebabkan Turunnya Ayat

Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya: “Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!”, lalu diajarkan mereka kepadanya kata-kata pujaan itu, sementara ia mengikutinya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.

Ketika ia siuman sebentar akibat dihentikannya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya. maka hilanglah akalnya dan terbayanglah di ruang matanya betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi…, hingga beberapa saat dirasakannya siksaan orang-orang musyrik terhadap dirinya sebagai obat pembalur luka dan suatu keni’matan juga…! Dan seandainya ia dibiarkan dalam perasaan itu agak beberapa jam saja, tak dapat tiada tentulah akan membawa ajalnya.

Ammar dapat bertahan menanggungkan semua siksa yang ditimpakan atas tubuhnya, ialah karena jiwanya sedang berada ada kondisi puncak. Tetapi sekarang ini, demi disangkanya jiwanya telah menyerah kalah, maka dukacita dan sesal kecewa hampir saja menghabiskan tenaga dan melenyapkan nyawanya Tetapi iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang mengharukan itu mendapat titik kesudahan yang amat luhur.

Dan tangan wahyu yang penuh berkah itu pun terulurlah menjabat tangan ‘Ammar, bila menyampaikan ucapan selamat kepadanya: “Bangunlah hai pahlawan.! Tak ada sesalan atasmu dan tak ada cacat! Ketika Rasulullah saw. menemui shahabatnya itu didapatinya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisnya itu dengan tangan beliau seraya sabdanya:

“Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu ke dalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?

“Benar, wahai Rasulullah”, ujar ‘Ammar sambil meratap. Maka sabda Rasulullah sambil tersenyum:

“Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi !”

Lalu dibacakan Rasullulah  kepadanya ayat mulia seperti ini: Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan. (Q.S. 16 an-Nahl: 106)

Kembalilah ‘Ammar diliputi oleh ketenangan dan dera yang menimpa tubuhnya bertubi-tubi tidak terasa sakit lagi, dan apa juga yang akan terjadi, terjadilah dan ia tidak akan peduli. jiwanya berbahagia, keimanannya di fihak yang menang! ucaapan yang dikeluarkan secara terpaksa itu dijamin bebas oleh Al-Qur’an, maka apa lagi yang akan dirisaukannya?

‘Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah dan menjadi lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maka kukuh!

Kesayangan Rasulullah SAW

Suatu peristiwa terjadi pula ketika Rasulullah saw. bersama para shahabat mendirikan mesjid di Madinah, yakni tiada lama setelah kepindahannya ke sana. Imam Ali karamallahu wajhah menggubah sebuah bait sya’ir yang didendangkan berulang-ulang diikuti oleh Kaum Muslimin yang sedang bekerja itu, dan baitnya adalah sebagai berikut:

“Orang yang memakmurkan mesjid nilainya tidak sama, bekerja sambil duduk di sini berdiri di sana. Sedang pemalas lari menghindar tertidur di sana.”

Kebetulan waktu itu ‘Ammar sedang bekerja di salah satu sisi bangunan. la juga turut berdendang, mengulang-ulangnya dengan nada tinggi. Salah seorang kawan menyangka bahwa ‘Ammar bermaksud dengan nyanyian itu hendak menonjolkan dirinya, hingga di antara mereka terjadi pertengkaran dan keluar kata­kata yang menunjukkan kemarahan. Mendengar itu Rasulullah murka, sabdanya:

“Apa maksud mereka terhadap ‘Ammar diserunya mereka ke Surga, tapi mereka hendak meng­ajaknya ke neraka! Sungguh, ‘Ammar adalah biji mataku sendiri.”

Jika Rasulullah saw. telah menyatakan kesayangannya terhadap seorang Muslim demikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam, kebesaran jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas dan puncak kesempurnaan!

Setelah pindahnya Rasulullah saw. ke Medinah, Kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya.

Kesayangan Allah SWT

Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini ‘Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi. Rasulullah saw. amat sayang kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketaqwaan ‘Ammar kepada para shahabat. Bersabda Rasulullah saw.:

“Diri ‘Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya!”

Dan sewaktu terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan ‘Ammar, Rasulullah saw. bersabda:

“Siapa yang memusuhi ‘Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah, dan siapa yang membenci ‘Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”

Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid pahlawan Islam itu selain segera mendatangi ‘Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta ma’af!

Baca dan download klik di sini.

 

 

 

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply