Aisyah binti Abu Bakar: Isteri Muhammad SAW

Dr. Musthafa Murad dalam bukunya Nisa’ Ahlul Jannah, menyebutkan sembilan keistimewaan Aisyah yang tidak dimiliki wanita lain, sebagai berikut:

  1. Malaikat Jibril pernah menjelma dalam rupa Aisyah, datang kepada Rasulullah saw., dalam waktu senggangnya, dan menyuruh beliau untuk menikahinya.
  2. Rasulullah saw., menikahi Aisyah dalam keadaan perawan, dan beliau tidak menikahi perawan selain dirinya.
  3. Rasulullah saw., menghembuskan nafas terakhir sementara kepalanya berada di pangkuan Aisyah.
  4. Rasulullah saw., dikuburkan di dalam rumah Aisyah.
  5. Para malaikat selalu menjaga rumah Aisyah.
  6. Aisyah adalah putri khalifah ternama dan orang kepercayaan Rasulullah saw.
  7. Ayat tentang pembelaan Aisyah turun dari langit.
  8. Aisyah diciptakan sebagai wanita yang baik dan mendampingi orang terbaik.
  9. Aisyah telah dijanjikan akan mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

Jika para wanita di dunia ini ditanya, bagaimanakah kriteria wanita yang ideal itu? Mayoritas mereka pasti akan menjawab, wanita ideal adalah yang memiliki wajah cantik (beauty), pintar (brain), dan memiliki akhlak mulia (behavior). Sebenarnya semua kriteria wanita ideal itu terkumpul pada diri Aisyah. Oleh karena itu, sudah sepantasnya wanita muslimah yang hidup di zaman ini mereferensikan dirinya kepada Aisyah.

Aisyah terkenal sebagai wanita cantik. Bahkan saking cantiknya, Rasulullah saw., sering memanggil Aisyah dengan sebutan Humairah, artinya wanita pemilik pipi yang putih kemerah-merahan. Aisyah adalah istri yang paling dicintai Rasulullah saw. Di hati Rasulullah, kedudukan Aisyah sangat istimewa. Itu tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan bahwa, “Cinta pertama yang terjadi di dalam Islam adalah cintanya Rasulullah kepada Aisyah.”

Dalam hadis riwayat At Tirmidzi dikisahkan bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah di hadapan Ammar bin Yasir, sehingga Amar berseru kepadanya, “Sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti istri kecintaan Rasulullah.” Selain cantik, Aisyah juga terkenal sebagai istri Nabi yang cerdas. Bahkan, ia adalah seorang alim bagi kaum wanita semesta alam. Ia menghapal ratusan qashidah (puisi pujian), dan para perawi hadis meriwayatkan 2.210 hadis Nabi yang berasal dari Aisyah. Ia adalah orang terdekat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis setelah Abu Hurairah.

Selain itu, Aisyah adalah seorang alim dalam masalah waris, sehingga beberapa sahabat terkemuka bertanya kepadanya tentang hukum-hukum waris. Masruq pernah ditanya, “Apakah Aisyah menguasai masalah faraid?” Ia menjawab, “Benar. Demi Tuhan yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, aku melihat beberapa sahabat terkemuka bertanya tentang hal itu kepadanya.” (HR. Ibnu Sa’ad).

Urwah bin Zubair berkata, “Aku telah lama bersahabat dengan Aisyah. Aku tidak pernah menemukan seseorang yang melebihi pengetahuannya tentang ayat-ayat yang diturunkan, faraid, sunnah, syair, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bangsa Arab, nasab, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran. Ketika ditanya dari mana pengetahuan tentang kedokteran itu diperoleh, Aisyah menjawab, “Aku pernah sakit lalu diobati dengan sesuatu, seseorang sakit lalu diobati dengan sesuatu, dan aku juga mendengar orang-orang, sebagian mereka mengobati sebagian yang lain dengan sesuatu, sehingga aku menghafalnya.” (HR. Abu Na’im).

Meskipun cantik dan cerdas, Aisyah tidak pernah sombong. Sebaliknya, Aisyah adalah sosok wanita yang sangat tawadhu. Suatu hari, Ibnu Abbas memuji Aisyah dengan mengatakan, “Berbahagialah engkau, wahai istri Rasulullah! Beliau tidak menikahi seorang gadis pun, kecuali engkau. Dan pembelaanmu turun dari langit.” Mendengar pujian itu, Aisyah menjawab, “Engkau telah memujiku. Padahal, hari ini aku tidak ingin mendengar siapa pun memujiku. Aku sangat ingin sekiranya aku adalah sesuatu yang tidak berarti dan dilupakan.” Bahkan, di akhir hayatnya, Aisyah pernah berkata, “Aduhai alangkah baik sekiranya aku tidak diciptakan. Aduhai alangkah baik sekiranya aku adalah sebatang pohon sehingga aku bertasbih dan memenuhi kewajibanku.” (HR. Ibnu Sa’ad).

Kehidupan Aisyah penuh kemuliaan, ke-zuhud-an, ketawadhu-an, pengabdian sepenuhnya kepada Rasulullah saw., selalu beribadah, dan senantiasa melaksanakan shalat malam. Bahkan ia sering menganjurkan untuk shalat malam kepada kaum muslimin. Dari Abdullah bin Qais, Imam Ahmad menceritakan, “Aisyah berkata, “Janganlah engkau tinggalkan shalat malam karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau sedang malas, beliau melakukannya sambil duduk.” Aisyah memiliki kebiasaan untuk memperpanjang shalat, Aisyah pun senantiasa memperbanyak doa, sangat takut kepada Allah Swt., dan banyak berpuasa sekalipun cuaca sedang sangat panas. Di dalam musnad-nya, Ahmad berkata, “Abdurrahman bin Abu Bakar menemui Aisyah pada hari Arafah yang ketika itu sedang berpuasa dan Aisyah kelihatan sangat kehausan, sehingga air yang dia bawa disiramkan kepada Aisyah. Abdurrahman berkata, “Berbukalah”. Aisyah menjawab, “Bagaimana aku akan berbuka, sementara aku mendengar Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya puasa pada hari Arafah akan menebus dosa-dosa tahun sebelumnya.”

Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah, sehingga dalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Urwah bin Zubair (keponakan Aisyah) pernah mengirim dua kantung berisi uang seratus ribu dirham kepada Aisyah. Lalu, ia membagikan uang itu kepada orang-orang fakir dan miskin. Sedangkan ia sendiri tidak menyisakan barang sedirham pun dari uang yang tadi dibagikannya. Urwah bin Zubair, keponakannya, juga pernah melihat Aisyah bersedekah tujuh puluh ribu dirham sambil meng angkat ujung bajunya. Mengangkat ujung baju menunjukkan bahwa bajunya jelek dan telah usang, bukan baju baru.

Demikianlah kehebatan yang disandang Aisyah, sehingga bertambahlah kemuliaan dan keagungannya di hati Rasulullah saw. Pantas saja kalau Rasulullah saw., pernah bersabda memuji Aisyah,

“Sungguh keutamaan Aisyah apabila dibandingkan dengan wanita-wanita lain, sama seperti keutamaan tsarid (makanan yang terbuat dari daging dicampur dengan roti yang dipotong-potong) dibandingkan seluruh makanan lainnya.” (HR. Al Bukhari)

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply