AHY, Sang Risk Taker!

“Setelah saya hitung, saya punya capital (modal). kalau tidak saya hitung seperti itu, saya tidak akan mau, tidak akan bersedia dicalonkan sebagai gubernur ketika itu. tetapi saya melihat walaupun dianggap orang tidak punya pengalaman dalam politk, masih terlalu muda, belum punya capital dalam arti pernah di birokrasi dan sebagainya, tetapi yang suka orang tidak menghitung, suka mendiskon,

MerdekaCom : AHY, mantan prajurit banting stir jadi politisi

Penyandang lulusan AKMIL terbaik Bintang Adhi Makayasa-Tri Sakti Wiratama tahun 2000, memilih berkarir di bidang politik dengan sebuah perhitungan resiko, dia sudah ditempa belasan tahun dengan disiplin militer, memiliki pendidikan yang memadai, mentor politik teruji sang Pepo, Prof. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Presiden RI periode 2004-2014.

Sebagai seorang tentara ia pernah dididik pelatihan Infanteri dan Kursus Combat Intel Kostrad dan memiliki pengalaman sebagai tentara dengan bebagai posisi dan pangkat.

Sebagai komandan dia pernah dianugerahi Komandan Kompi terbaik di jajaran divisi Infanteri 1 Kostrad, pada Latihan Gabungan TNI Yudha Siaga di Sangata. Latihan gabungan yang melibatkan 30.571 dengan skenario perang berskala besar.

30.571 personel TNI ini diantaranya, 1.418 personel Mabes TNI, 11.388 personel TNI AD, 13.150 personel TNI AL dan 4.615 personel TNI AU. Mereka ini akan diterjunkan dalam empat area latihan yang terpisah, seperti Sangata (Kalimantan Timur), Singkawang (Kalimantan Barat), Batam dan Kepulauan Natuna.

Sumber : DetikCom

Dalam latihan ini TNI menggelar alusista dan peralatan tempur dari berbagai matra :

TNI AD mengerahkan 38 Tank, 19 Panser, 9 helikopter dan satu pesawat Cessna., TNI AL mengerahkan 61 kapal perang, 30 tank Amfibi, 55 Pansam, 12 Kapa K-61, 2 hoovercraft, 78 perahu karet, 5 heli jenis Bell. Sementara, TNI AU sendiri mengerahkan 24 pesawat tempur, 31 pesawat angkut.

Sumber : DetikCom

Pengalaman tugas lapangan AHY juga penuh resiko, Tahun 2002, ia menjadi Komandan Peleton di Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Tengkorak yang ditugaskan dalam Operasi Pemulihan Keamanan di Aceh yang penuh resiko.

Di Aceh, Agus terpilih sebagai Komandan Tim Khusus (Dan Timsus) dan ia berhasil melakukan tugasnya dengan baik guna melumpuhkan gerilia pasukan Aceh Merdeka.

TribunNews : https://aceh.tribunnews.com/2016/09/23/agus-yudhoyono-si-kutu-buku-yang-pernah-bertugas-di-aceh-semasa-konflik?page=3.

Tahun 2006 AHY ditugaskan ke Libanon bergabung dengan Pasukan Garuda XXIII A sebagai pasukan perdamaian PBB Unifil (United Nations Interim Force In) membantu penyelesaian konflik Israel dan Hizbullah. Brigjen TNI Suwarno (DanPuskav) saat pembekalan tim menggambarkan resiko sebaga pasukan perdamaian.

AHY
AHY saat penugasan di Libanon (Sumber : FB AHY)

Semua personel Garuda XXIII A agar tetap waspada terhadap berbagai kerawanan penugasan. Seperti mewaspadai terhadap serangan pendadakan saat pengamanan kelompok yang bertikai. Mewaspadai penggunaan senjata kimia dan biologi. Mewaspadai ancaman perubahan situasi kritis secara mendadak dengan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Mewaspadai terhadap penculikan, pembunuhan, pembajakan personel PBB. Kecelakaan lalu-lintas. terhentinya dukungan logistik/terputus, lapangan ranjau yang tidak terdata, dan penembak jitu/sniper. 

 Sumber : PUSPEN Markas Besar Tentara Nasional Indonesia, Analisis DanPusenkav TNI

AHY, sadar akan resiko besar yang dihadapinya, tak terniat sedikitpun meminta katabelece atau kemudahan agar tidak ikut dalam pasukan perdamaian. Padahal pepo-nya adalah seorang Presiden yang memiliki kekuasaan tertinggi Tentara Nasional Indonesia. AHY memilih berangkat dengan segala macam resiko, ancaman ranjau, sniper, terputusnya logistik, dan berada ditengah-tengah konflik perang Libanon-Israel.

AHY, bertugas di Libanon lebih kurang selama 1 tahun, selama tugas disana dia mendapatkan penghargaan  Army Service Distinction Medal dari pimpinan Angkatan Bersenjata Libanon dan UN Peacekeeping Distinction Medal, Commander of the UNIFIL.

AHY, Sang Risk Taker!

AHY melangkah ke perjuangan di bidang politik, maju Pilkada (Pemilihan Kepada Daerah) sebagai calon Gubernur DKI bersama bersama Sylviana Murni, calon Wakil Gubernur. Pencalonan AHY-Sylvi didukung oleh Demokrat, PPP, PKB, dan PAN.

Mulailah di berkampanye, dari kampung ke kampung, menghadiri pertemuan-pertemuan dengan berbagai kalangan masyarakat, dan kampanye terbuka di berbagai tempat tanpa mengenal lelah. Hal ini diungkapkan sendiri oleh SBY.

“Kalau Agus dan Mpok Sylvi bergerilya di pojok kota Jakarta siang-malam tak kenal lelah karena harus bertemu rakyat, mendengarkan aspirasi, harapan dan keluhan-keluhannya, saya juga bergerilya di seluruh Indonesia,” kata SBY.

TempoCoid https://nasional.tempo.co/read/844560/beda-sby-di-pilpres-dengan-agus-yudhoyono-di-pilkada-dki/full&view=ok

Kerja keras AHY menampakkan hasil yang signifikan. Periode Nov-Des 2016 hasil dari 5 Lembaga Survey, responden memilih AHY sebagai kandidat yang diunggulkan. Responden 4 lembaga suvey memilih AHY mengungguli Pilkada DKI (Lihat Gambar : Komparasi 5 Lembaga Survey-Berbagai Sumber)

Gambar dari : TribunNews

Pada awal Februari 2017, pekan jelang pencoblosan Pilkada DKI, AHY-Sylvi masih diunggulkan. Hasil survey LSI Denny JA tanggal 8-9 Februari 2017 dipilih 30,9% responden, Ahok 30,7%, dan Anies 29,9%.

Hasil pencoblosan putaran I Pilkada DKI, Anies vs Ahok maju ke putaran kedua. AHY secara ksatria menyampaikan pidato kekalahanya, ini sebuah resiko dalam pemilihan , kalah atau menang. Dia sudah terlatih menghadapi resiko penugasan di tentara, yang jauh lebih besar bahayanya seperti penugasan di Aceh atau di Libanon yang merupakan zona perang.

AHY menungu hasil Pilkada DKI Putaran I

AHY melanjutkan langkah strategi tempur lainnya, dia mengunjungi beberapa kota di Indonesia, berceramah, dan menghadiri pertemuan-pertemuan dengan banyak pihak. Menjalin komunikasi politik yang intensif dengan para kader Demokrat, dan memimpin lembaga kajian su-isu strategis baik lingkup nasional, regional, maupun global The Yudhoyono Institute sebagai Direktur Eksekutif. AHY juga mendirikan AHY Foundation untuk Pendidikan, Kesehatan dan Lingkungan.

13 Maret 2020, AHY dipilih 604 orang peserta Kongres V Partai Demokrat Demokrat sebagai Ketua Umum (CNN). Ini sebuah tantangan baru AHY. Apakah dia berhasil dalam memimpin atau gagal? Ini sebuah resiko dalam memimpin, gagal atau berhasil!

AHY memang Sang Risk Taker!

Selamat berakhir pekan.

 

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply