Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah: Panglima Besar dan Kepercayaan Ummat

Siapakah kiranya orang yang dipegang oleh Rasulullah saw. dengan tangan kanannya sambil bersabda mengenai pribadinya:

“Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang keper­cayaan, dan sesungguhnya kepercayaan ummat ini adalah Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah…!

Siapakah orang yang dikirim oleh Nabi ke medan tempur Dzatus Salasil sebagai bantuan bagi Amar bin ‘Ash RA, dan diangkatnya sebagai Panglima dari suatu Pasukan yang di dalamnya ter­dapat Abu Bakar RA dan Umar RA…?

Siapakah shahabat yang mula pertama disebut sebagai Amirul Mara atau Panglima Besar ini…?

Dan siapakah orang yang tinggi perawakannya tetapi kurus tubuhnya, tipis jenggotnya, berwibawa wajahnya, dan ompong kena panah dua gigi mukanya…?

Giginya Ompong

Dan jika dilihatnya ada bahaya datang mengancam Nabi, maka ia bagai disentakkan dari tempatnya lalu melompat menerkam musuh-musuh Allah dan menghalau mereka ke belakang sebelum mereka sempat mencelakakannya. Suatu ketika pertempuran berkecamuk dengan hebatnya, ia terpisah dari Nabi karena terkepung oleh tentara musuh, tetapi seperti biasa kedua matanya bagai mata elang mengintai keadaan sekitarnya.

Dan hampir saja ia gelap mata melihat sebuah anak panah meluncur dari tangan seorang musyrik lalu mengenai Nabi. Maka terlihatlah pedangnya yang sebilah itu berkelibatan tak ubah bagai seratus bilah pedang menghantam musuh yang mengepungnya hingga mencerai-beraikan mereka, lalu ia terbang melompat mendapatkan Rasulullah. Didapatinya darah beliau yang suci mengalir dari mukanya, dan dilihatnya Rasulullah al-Amin menghapus darah dengan tangan kanannya, sambil bersabda:

“Bagaimana mungkin berbahagia suatu kaum yang mencemari wajah Nabi mereka, padahal ia menyerunya kepada Tuhan mereka?”

Dan baiklah kita serahkan kepada Abu Bakar Shiddiq untuk menceritakan peristiwa itu dengan kata-katanya sebagai berikut:

“Di waktu perang Uhud dan Rasulullah saw. ditimpa anak panah hingga dua buah rantai ketopong masuk ke kedua belah pipinya bagian atas, saya segera berlari mendapatkan Rasulullah saw. Kiranya ada seorang yang datang bagaikan terbang dari jurusan Timur, maka kataku: Ya Allah moga-moga itu merupakan pertolongan! Dan tatkala kami sampai kepada Rasulullah, kiranya orang itu adalah Abu ‘Ubaidah yang telah mendahuluiku ke sana, serta katanya: Atas nama Allah, saya minta kepada anda wahai Abu Bakar, agar saya dibiarkan mencabutnya dari pipi Rasulullah saw. Saya pun membiarkannya, maka dengan gigi mukanya Abu ‘Ubaidah mencabut salah satu mata rantai baju besi penutup kepala beliau hingga ia terjatuh ke tanah, dan bersamaan dengan itu jatuhlah pula sebuah gigi manis Abu ‘Ubaidah. Kemudian ditariknya pula mata rantai yang kedua dengan giginya yang lain hingga sama tercabut, menyebabkan Abu ‘Ubaidah tampak di hadapan orang banyak bergigi Ompong!”

Menjadi Panglima di Masa Sulit

Di saat-saat bertambah besar dan meluasnya tanggung jawab para shahabat, maka amanah dan kejujuran Abu ‘Ubaidah mengkatlah pula. Tatkala ia dikirim oleh Nabi saw. Dalam expedisi “Daun Khabath” memimpin lebih dari tiga ratus orang prajurit sedang perbekalan mereka tidak lebih dari sebakul kurma, sementara tugas sulit. dan jarak yang akan ditempuh jauh pula, Abu ‘Ubaidah menerima perintah itu dengan taat dan hati gembira.

Bersama anak buahnya pergilah ia ke tempat yang dituju, dan perbekalan setiap prajurit setiap harinya hanya segenggam kurma, dan setelah hampir habis maka bagian masing-masing hanyalah sebuah kurma untuk sehari. Dan tatkala habis sama sekali, mereka mulai mencari daun kayu yang disebut khabath, lalu mereka tumbuk hingga halus seperti tepung dengan menggunakan alat senjata. Di samping daun-daun itu dijadikan makanan, dapat pula mereka gunakan sebagai wadah untuk minum. Itulah sebabnya ekspedisi ini disebut ekspedisi “Daun khabath”.

Mereka terus maju tanpa menghiraukan lapar dan dahaga, tak ada tujuan mereka kecuali menyelesaikan tugas mulia bersama Panglima mereka yang kuat lagi terpercaya, yakni tugas yang dititahkan oleh Rasulullah saw. kepada mereka Rasulullah saw. amat sayang kepada Abu ‘Ubaidah sebagai orang kepercayaan ummat, dan beliau sangat terkesan kepada­nya.

Tatkala datang perutusan Najran dari Yaman menyatakan keislaman mereka dan meminta kepada Nabi agar dikirim bersama mereka seorang guru untuk mengajarkan al-Quran dan Sunnah serta seluk-beluk Agama Islarn, maka ujar beliau:

“Baiklah akan saya kirim bersama tuan-tuan seorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya.”

Para shahabat mendengar pujian yang keluar dari mulut Rasulullah saw. ini, dan masing masing berharap agar pilihan jatuh kepada dirinya, hingga beruntung beroleh pengakuan dan kesaksian yang tak dapat diragukan  lagi kebenarannya… Umar bin Khatthab menceritakan peristiwa itu sebagai berikut:

“Aku tak pernah berangan-angan menjadi Pemimpin, tetapi ketika itu aku tertarik oleh ucapan beliau dan mengharapkan yang dimaksud beliau itu adalah aku.”

Panglima yang Rendah Hati dan Zuhud

Dan sebagaimana di masa Rasulullah saw. Abu ‘Ubaidah menjadi seorang kepercayaan, demikian pula setelah Rasulullah wafat, ia tetap sebagai orang kepercayaan, memikul semua tanggung jawab dengan sifat amanah. Wajarlah apabila ia menjadi suri teladan bagi seluruh ummat manusia.

Dan di bawah panji-panji Islam ke mana pun ia pergi ia adalah sebagai prajurit, yang dengan keutamaan dan keberaniannya melebihi seorang amir atau panglima…, dan di saat ia sebagai Panglima, karena keikhlasan dan kerendahan hati menyebabkannya tidak lebih dari seorang prajurit biasa.

Kemudian tatkala Khalid bin Walid sedang memimpin ten­tara Islam dalam salah satu pertempuran terbesar yang menentukan, dan tiba-tiba Amirul Mukminin Umar memaklumkan titahnya untuk mengangkat Abu ‘Ubaidah sebagai pengganti Khalid, maka demi diterimanya berita itu, dari utusan Khalifah, dimintanya orang itu untuk merahasiakan berita tersebut kepada umum. Sementara Abu ‘Ubaidah sendiri mendiamkannya dengan suatu niat dan tujuan baik sebagai lazimnya dimiliki oleh seorang zuhud, ‘arif bijaksana lagi dipercaya, menunggu selesainya Panglima Khalid itu merebut kemenangan besar.

Dan setelah tercapai barulah ia mendapatkan Khalid dengan hormat dan takzimnya untuk menyerahkan Surat dari Amirul Mukminin. Ketika Khalid bertanya kepadanya: “Semoga Allah memberi anda rahmat, wahai Abu ‘Ubaidah! Apa sebabnya anda tidak menyampaikannya kepadaku di waktu datangnya?”

Maka ujar kepercayaan ummat itu: “Saya tidak ingin mematahkan ujung tombak anda, dan bukan kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan pula untuk dunia kita beramal! Kita semua bersaudara karena Allah.”

Demikianlah Abu ‘Ubaidah telah menjadi Panglima Besar tentara Islam, baik dalam luasnya wilayah, maupun dalam Perbekalan dan jumlah bilangan. Tetapi bila anda melihat­nya, maka sangka anda bahwa ia adalah salah seorang prajurit biasa serta pribadi biasa dari Kaum Muslimin! []

Koleksi ebooknya, klik download di sini.

Post Author: ibnumuslimid

Leave a Reply